Pesona Pulau Kumala, Tenggarong

Kalimantan memang terkenal akan kekayaan sungainya yang berjumlah puluhan bahkan ratusan. Terdapat banyak sungai dengan berbagai ukuran serta panjang. Selain sebagai alat transportasi sungai di Kalimantan ternyata juga menyimpan berbagai keindahan alam yang menakjubkan, salah satunya adalah Sungai Mahakam di Tenggarong, Kalimantan Timur.

Kutai Kertanegara yang beribukota di Tenggarong dan memiliki sebuah sugai besar ini memiliki sebuah taman rekreasi indah yang terletak di tengah-tengah sungai Sungai Mahakam. Taman rekreasi itu adalah Objek Wisata Pulau Kumala.

Jika Anda berkunjung ke Pulau Kumala, Anda akan disajikan berbagai wahana permainan layaknya Ancol di Jakarta. Selain itu keindahan alam Pulau Kumala sangat menakjubkan dengan sungai dan Kota Tenggarong.

Objek Wisata Pulau Kumala

Hasil gambar untuk pulau kumalaPulau Kumala sering juga disebut Pantai Kumala. Pulau Kumala adalah sebuah delta sungai yang sering terendam jika air Sungai Mahakam meluap. Pada tahun 2002, Pulau Kumala diresmikan menjadi objek wisata karena keindahan alamnya dan letaknya yang berada di tengah sungai Mahakam sehingga terlihat seperti sebuah kapal di tengah sungai. Luas Pulau Kumala kurang lebih 81 Hektar.

Gambar terkait

Sebagai taman rekreasi, Pulau Kumala memiliki sekitar 10 (sepuluh ) wahana permainan yang bisa Anda nikmati seperti jet coaster, bombom car, gokart, komedi putar, kereta gantung, dan kereta api mini untuk menglilingi pulau dan lain sebagainya. Selain itu Anda juga dapat menikmati Kota Tenggarong dari ketinggian dengan menaiki Planetarium (Sky Tower). Tinggi Sky Tower ini mencapai 75 meter.

Objek Wisata Pulau Kumala juga memiliki sebuah akuarium raksasa yang dipergunakan khusus untuk menampung Hasil gambar untuk pulau kumala ikan pesut (orcaella brevirostris), yaitu spesies lumba-lumba air tawar yang juga terdapat di Sungai Irawady, Brazil dan Sungai Mekong di China.

Tidak jauh dari Pulau Kumala, terdapat Museum Mulawarman yaitu sebuah bukti sejarah Kerajaan Kutai yang terkenal, Museum Mulawarman menyimpan berbagai koleksi benda-benda peninggalan Kesultanan Kutai Kartanegara.

Lokasi Wisata Pulau Kumala

Objek Wisata Pulau Kumala Tenggarong terletak di tengah-tengah delta Sungai Mahakam yang terletak di Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.

Hasil gambar untuk pulau kumalaAkses Menuju Wisata Pulau Kumala

Tenggarong berjarak sekitar 27 Km dari Kota Samarinda. Anda dapat mengunakan kendaraan umum seperti bus atau kendaraan pribadi sebagai alat traspotasi. Setelah sampai di tepi Sungai Mahakam, Anda dapat mencapai Pulau Kumala dengan menyewa perahu motor kecil (Ketinting), jika Anda takut menggunakan perahu, Anda juga dapat menuju Pulau Kumala dengan kereta gantung.

Akomodasi

Di Pulau Kumala telah disediakan berbagai fasilitas yang akan memudahkan Anda saat berkunjung ke Pulau ini diantaranya:

  1. Lahan parkir yang luas
  2. Restoran dan warung makan serta pedagang asongan (sentra makanan khas daerah setempat)
  3. Mushola
  4. Isi ulang pulsa
  5. Peralatan memancing
  6. Outlet cinderamata
  7. Cottage
  8. Hotel
  9. Wisma
  10. Bumi perkemahan

Tarif Masuk ke Wisata Pulau Kumala

Untuk menyewa perahu (ketinting) biaya yang harus Anda keluarkan sekitar Rp. 6.000,-

Biaya masuk Rp. 2.000,-/ orang

Tarif wahana rekreasi bervariasi antara Rp. 2.000,- s/d Rp. 25.000,-.

Tips

Anda dapat mengunjungi beberapa objek wisata yang berdekatan dengan Pulau Kumala seperti Museum Mulawarman.

Bagi Anda yang memiliki hobi memancing, Anda dapat membawa alat pancing atau jika Anda mau, Anda juga dapat menyewa alat pancing di Pulau ini.

Ladaya (Ladang Budaya) di Tenggarong, Kalimantan Timur : Objek Wisata Alam dan Menginap di Rumah Kayu

Gambar terkait

Berbagai objek wisata ada di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Mulai dari wisata sejarah, pendidikan, buatan hingga wisata alam. Wisata Alam misalnya berbagai destinasi ada di Jalan H. Bachrin Seman, Kelurahan Mangkurawang, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Ladaya adalah salah satu destinasi wisata alam sekaligus pengunjung juga dapat menginap di rumah kayu dengan atap menjuntai dengan suasana alamnya. Ladaya (Ladang Budaya) di tempat ini juga terdapat aula dimana tempat pertunjukan seni yang sering digelar oleh seniman daerah.

Deretan rumah yang sering jadi spot foto

 

Ladaya merupakan destinasi yang memiliki daya tarik tersendiri bagi pengunjung, karena di objek wisata ini pengunjung bisa menikmati alam dan wahana menarik lainnya. Seperti kebun binatang mini, outbond, paint ball, dan juga Rumah Odah Rehat (rumah kayu atap menjuntai) untuk menginap.

Merak di kebun binatang mini

Kebun binatang mini yang memajang berbagai jenis hewan khas Kalimantan Timur seperti Burung Merak, Burung Enggang, Owa-Owa, Beruang Madu, dan banyak lagi yang bisa dilihat.

IMG-20181030-WA0061IMG-20181030-WA0039IMG-20181030-WA0068

Untuk masuk ke Ladaya, pengunjung tidak perlu merogoh uang yang besar karena tarif masuk untuk dewasa hanya Rp10.000 dan Rp5.000 untuk anak anak. Setelah masuk, pengunjung akan menyusuri pedagang makanan dan minuman seperti berjalan di kereta api. Arena Outbond di Ladaya juga menawarkan berbagai fasilitas permainan Outdoor yang memacu adrenaline seperti Flying Fox atau berjalan di atas papan dengan ketinggian 4 meter, maupun bermain menyusuri titian di atas sebuah tali dari Baja. Permainan ini tak hanya seru dimainkan oleh orang-orang dewasa saja, tetapi juga bisa di coba oleh anak-anak.

Suku Dayak di Kalimantan

Suku Dayak

303px-Dayak

Hasil gambar untuk dayak

Suku Dayak (Ejaan Lama: Dajak atau Dyak) adalah nama yang oleh penjajah diberi kepada penghuni pedalaman pulau Borneo yang mendiami Pulau Kalimantan (Brunei, Malaysia yang terdiri dari Sabah dan Sarawak, serta Indonesia yang terdiri dari Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Selatan). Ada 5 suku atau 7 suku asli Kalimantan yaitu Melayu, Dayak, Banjar, Kutai, Paser, Berau, dan Tidung. Menurut sensus Badan Pusat Statistik Republik Indonesia tahun 2010, suku bangsa yang terdapat di Kalimantan Indonesia dikelompokan menjadi tiga yaitu suku Banjar, suku Dayak Indonesia (268 suku bangsa), dan suku asal Kalimantan lainnya (non Dayak dan non Banjar). Dahulu, budaya masyarakat Dayak adalah budaya maritim atau bahari. Hampir semua nama sebutan orang Dayak mempunyai arti sebagai sesuatu yang berhubungan dengan “perhuluan” atau sungai, terutama pada nama-nama rumpun dan nama kekeluargaannya.

Ada yang membagi orang Dayak dalam enam rumpun yakni rumpun Klemantan alias Kalimantan, rumpun Iban, rumpun Apokayan yaitu Dayak Kayan, Kenyah dan Bahau, rumpun Murut, rumpun Ot Danum-Ngaju dan rumpun Punan. Namun secara ilmiah, para linguis melihat 5 kelompok bahasa yang dituturkan di pulau Kalimantan dan masing-masing memiliki kerabat di luar pulau Kalimantan:

  • “Barito Raya (33 bahasa, termasuk 11 bahasa dari kelompok bahasa Madagaskar, dan Sama-Bajau termasuk satu suku yang berdiri dengan nama sukunya sendiri yaitu Suku Paser.
  • “Dayak Darat” (13 bahasa).
  • “Borneo Utara” (99 bahasa), termasuk bahasa Yakan di Filipina serta satu suku yang berdiri dengan nama sukunya sendiri yaitu Suku Tidung.
  • “Sulawesi Selatan” dituturkan 3 suku Dayak di pedalaman Kalbar: Dayak Taman, Dayak Embaloh, Dayak Kalis disebut rumpun Dayak Banuaka.
  • “Melayik” dituturkan: Dayak Meratus/Bukit (alias Banjar arkhais), Dayak Iban (dan Saq Senganan), Dayak Keninjal, Dayak Bamayoh (Malayic Dayak), Dayak Kendayan (Kanayatn). Beberapa suku asal Kalimantan beradat Melayu yang terkait dengan rumpun ini sebagai suku-suku yang berdiri sendiri yaitu Suku Banjar, Suku Kutai, Suku Berau, Suku Sambas, dan Suku Kedayan.

Etimologi

250px-COLLECTIE_TROPENMUSEUM_Dajak_vrouwen_verkopen_vruchten_vanaf_een_vlot_op_de_Barito-rivier_bij_Bandjermasin_Zuid-Borneo_TMnr_10005854
Masyarakat Dayak Barito beragama Islam yang dikenali sebagai Suku Bakumpaidi sungai Barito tempo dulu.

Istilah “Dayak” paling umum digunakan untuk menyebut orang-orang asli non-Muslim, non-Melayu yang tinggal di pulau itu. Ini terutama berlaku di Malaysia, karena di Indonesia ada suku-suku Dayak yang Muslim namun tetap termasuk kategori Dayak walaupun beberapa di antaranya disebut dengan Suku Banjar dan Suku Kutai. Terdapat beragam penjelasan tentang etimologi istilah ini. Menurut Lindblad, kata Dayak berasal dari kata daya dari bahasa Kenyah, yang berarti hulu sungai atau pedalaman. King, lebih jauh menduga-duga bahwa Dayak mungkin juga berasal dari kata aja, sebuah kata dari bahasa Melayu yang berarti asli atau pribumi. Dia juga yakin bahwa kata itu mungkin berasal dari sebuah istilah dari bahasa Jawa Tengah yang berarti perilaku yang tak sesuai atau yang tak pada tempatnya.

Istilah untuk suku penduduk asli dekat Sambas dan Pontianak adalah Daya (Kanayatn: orang daya= orang darat), sedangkan di Banjarmasin disebut Biaju (bi= dari; aju= hulu). Jadi semula istilah orang Daya (orang darat) ditujukan untuk penduduk asli Kalimantan Barat yakni rumpun Bidayuh yang selanjutnya dinamakan Dayak Darat yang dibedakan dengan Dayak Laut (rumpun Iban). Di Banjarmasin, istilah Dayak mulai digunakan dalam perjanjian Sultan Banjar dengan Hindia Belanda tahun 1826, untuk menggantikan istilah Biaju Besar (daerah sungai Kahayan) dan Biaju Kecil (daerah sungai Kapuas Murung) yang masing-masing diganti menjadi Dayak Besar dan Dayak Kecil, selanjutnya oleh pihak kolonial Belanda hanya kedua daerah inilah yang kemudian secara administratif disebut Tanah Dayak. Sejak masa itulah istilah Dayak juga ditujukan untuk rumpun Ngaju-Ot Danum atau rumpun Barito. Selanjutnya istilah “Dayak” dipakai meluas yang secara kolektif merujuk kepada suku-suku penduduk asli setempat yang berbeda-beda bahasanya, khususnya non-Muslim atau non-Melayu. Pada akhir abad ke-19 (pasca Perdamaian Tumbang Anoi) istilah Dayak dipakai dalam konteks kependudukan penguasa kolonial yang mengambil alih kedaulatan suku-suku yang tinggal di daerah-daerah pedalaman Kalimantan. Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Kalimantan Timur, Dr. August Kaderland, seorang ilmuwan Belanda, adalah orang yang pertama kali mempergunakan istilah Dayak dalam pengertian di atas pada tahun 1895.

Arti dari kata ‘Dayak’ itu sendiri masih bisa diperdebatkan. Commans (1987), misalnya, menulis bahwa menurut sebagian pengarang, ‘Dayak’ berarti manusia, sementara pengarang lainnya menyatakan bahwa kata itu berarti pedalaman. Commans mengatakan bahwa arti yang paling tepat adalah orang yang tinggal di hulu sungai. Dengan nama serupa, Lahajir et al. melaporkan bahwa orang-orang Iban menggunakan istilah Dayak dengan arti manusia, sementara orang-orang Tunjung dan Benuaq mengartikannya sebagai hulu sungai. Mereka juga menyatakan bahwa sebagian orang mengklaim bahwa istilah Dayak menunjuk pada karakteristik personal tertentu yang diakui oleh orang-orang Kalimantan, yaitu kuat, gagah, berani dan ulet. Lahajir et al. mencatat bahwa setidaknya ada empat istilah untuk penuduk asli Kalimantan dalam literatur, yaitu DayaDyakDaya, dan Dayak. Penduduk asli itu sendiri pada umumnya tidak mengenal istilah-istilah ini, akan tetapi orang-orang di luar lingkup merekalah yang menyebut mereka sebagai ‘Dayak’.

Asal mula

Secara umum kebanyakan penduduk kepulauan Nusantara adalah penutur bahasa Austronesia. Saat ini teori dominan adalah yang dikemukakan linguis seperti Peter Bellwood dan Blust, yaitu bahwa tempat asal bahasa Austronesia adalah Taiwan. Sekitar 4 000 tahun lalu, sekelompok orang Austronesia mulai bermigrasi ke Filipina. Kira-kira 500 tahun kemudian, ada kelompok yang mulai bermigrasi ke selatan menuju kepulauan Indonesia sekarang, dan ke timur menuju Pasifik.

Namun orang Austronesia ini bukan penghuni pertama pulau Borneo. Antara 60.000 dan 70.000 tahun lalu, waktu permukaan laut 120 atau 150 meter lebih rendah dari sekarang dan kepulauan Indonesia berupa daratan (para geolog menyebut daratan ini “Sunda”), manusia sempat bermigrasi dari benua Asia menuju ke selatan dan sempat mencapai benua Australia yang saat itu tidak terlalu jauh dari daratan Asia.

Dari pegunungan itulah berasal sungai-sungai besar seluruh Kalimantan. Diperkirakan, dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan. Tetek Tahtum menceritakan migrasi suku Dayak Ngaju dari daerah perhuluan sungai-sungai menuju daerah hilir sungai-sungai.

Di daerah selatan Kalimantan Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak di daerah itu sering disebut Nansarunai Usak Jawa, yakni kerajaan Nansarunai dari Dayak Maanyan yang dihancurkan oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389. Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak Maanyan terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman ke wilayah suku Dayak Lawangan. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasal dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1520).

Sebagian besar suku Dayak di wilayah selatan dan timur kalimantan yang memeluk Islam keluar dari suku Dayak dan tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai atau orang Banjar dan Suku Kutai. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Batang Amandit, Batang Labuan Amas dan Batang Balangan. Sebagian lagi terus terdesak masuk rimba. Orang Dayak pemeluk Islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian Kotawaringin, salah seorang pimpinan Banjar Hindu yang terkenal adalah Lambung Mangkurat menurut orang Dayak adalah seorang Dayak (Ma’anyan atau Ot Danum). Di Kalimantan Timur, orang Suku Tonyoy-Benuaq yang memeluk Agama Islam menyebut dirinya sebagai Suku Kutai. Tidak hanya dari Nusantara, bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan. Bangsa Tionghoa tercatat mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming yang tercatat dalam buku 323 Sejarah Dinasti Ming (1368-1643). Dari manuskrip berhuruf hanzi disebutkan bahwa kota yang pertama dikunjungi adalah Banjarmasin dan disebutkan bahwa seorang Pangeran yang berdarah Biaju menjadi pengganti Sultan Hidayatullah I . Kunjungan tersebut pada masa Sultan Hidayatullah I dan penggantinya yaitu Sultan Mustain Billah. Hikayat Banjar memberitakan kunjungan tetapi tidak menetap oleh pedagang jung bangsa Tionghoa dan Eropa (disebut Walanda) di Kalimantan Selatan telah terjadi pada masa Kerajaan Banjar Hindu (abad XIV). Pedagang Tionghoa mulai menetap di kota Banjarmasin pada suatu tempat dekat pantai pada tahun 1736.

Kedatangan bangsa Tionghoa di selatan Kalimantan tidak mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti Piring Malawen, Belanga (Guci), dan peralatan Keramik. Tidak hanya itu, sebagian dari mereka juga ada bangsa Eropa.

Sejak awal abad V bangsa Tionghoa telah sampai di Kalimantan. Pada abad XV Kaisar Yongle mengirim sebuah angkatan perang besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Cheng Ho, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 1407, setelah sebelumnya singgah ke Jawa, Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok. Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan di antaranya candu, sutera, barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkok dan guci.

Dayak pada masa kini

Dewasa ini suku bangsa Dayak terbagi dalam enam rumpun besar, yakni: Apokayan (Kenyah-Kayan-Bahau), Ot Danum-Ngaju, Iban, Murut, Klemantan dan Punan. Rumpun Dayak Punan merupakan suku Dayak yang paling tua mendiami pulau Kalimantan, sementara rumpun Dayak yang lain merupakan rumpun hasil asimilasi antara Dayak punan dan kelompok Proto Melayu (moyang Dayak yang berasal dari Yunnan). Keenam rumpun itu terbagi lagi dalam kurang lebih 405 sub-etnis. Meskipun terbagi dalam ratusan sub-etnis, semua etnis Dayak memiliki kesamaan ciri-ciri budaya yang khas. Ciri-ciri tersebut menjadi faktor penentu apakah suatu subsuku di Kalimantan dapat dimasukkan ke dalam kelompok Dayak atau tidak. Ciri-ciri tersebut adalah rumah panjang, hasil budaya material seperti tembikar, mandau, sumpit, beliong (kampak Dayak), pandangan terhadap alam, mata pencaharian (sistem perladangan), dan seni tari. Perkampungan Dayak rumpun Ot Danum-Ngaju biasanya disebut lewu/lebu dan pada Dayak lain sering disebut banua/benua/binua/benuo. Di kecamatan-kecamatan di Kalimantan yang merupakan wilayah adat Dayak dipimpin seorang Kepala Adat yang memimpin satu atau dua suku Dayak yang berbeda.

Prof. Lambut dari Universitas Lambung Mangkurat, (orang Dayak Ngaju) menolak anggapan Dayak berasal dari satu suku asal, tetapi hanya sebutan kolektif dari berbagai unsur etnik, menurutnya secara “rasial”, manusia Dayak dapat dikelompokkan menjadi :

  • Dayak Mongoloid,
  • Malayunoid,
  • Autrolo-Melanosoid,
  • Dayak Heteronoid.

Namun di dunia ilmiah internasional, istilah seperti “ras Australoid”, “ras Mongoloid dan pada umumnya “ras” tidak lagi dianggap berarti untuk membuat klasifikasi manusia karena kompleksnya faktor yang membuat adanya kelompok manusia.

Suku Dayak merupakan suku yang memiliki banyak kesenian tradisional. Selain karena kental dengan budaya yang dimiliki, Tarian Dayak Kalimantan juga merupakan kekayaan dari tradisi yang sudah ada sejak ribuan tahun. Kalimantan sangat luas sekali bahkan suku yang ada juga sangat banyak. Dayak adalah salah satu suku yang memiliki banyak potensi untuk menjadi kekayaan yang dimiliki Indonesia khususnya Kalimantan.

Tarian tradisional pasti dimiliki oleh setiap daerah dan mempunyai gerakan yang berbeda-beda. Tarian Dayak Kalimantan yang bermacam-macam juga mempunyaI gerakan yang tak sama. Kreativitas yang dimiliki Suku Dayak ini sangat mengagumkan. Warisan budaya leluhur mereka yang sampai saat ini dijaga termasuk seni Tarian Dayak Kalimantan yang sampai sekarang masih sering ditampilkan.

Tarian Dayak Kalimantan

1. Tari Kancet Papatai

Tarian Dayak Kalimantan

Nama lain dari tari ini adalah Tari Perang. Dalam setiap seni tari yang ciptakan Suku Dayak sebenarnya memiliki cerita tersendiri. Seperti halnya tari perang ini memiliki cerita mengenai tokoh pahlawan Dayak Kenyah yang sedang berperang dengan musuh. Gerakan dalam tari ini begitu gesit, penuh semangat membara dan sangat lincah. Pakaian yang digunakan dalam tari kancet papatai ini memakai baju adat tradisional milik Suku Dayak Kenyah. Dengan perlengkapan yang dibawa seperti senjata mandau, baju perang lengkap dengan perisainya.

2. Tari Gantar

Tarian Dayak Kalimantan

Tarian Dayak Kalimantan yang kedua adalah Tari Gantar. Gerakan dalam tarian ini seperti orang yang sedang menanam padi. Peralatan tongkat yang digunakan sebagai gambaran kayu penumbuk. Untuk biji-bijian dan bambu yang dipakai itu digambarkan sebagai benih padai dan juga wadah. Banyak jenis dari tari ini seperti Tari Gantar Busai, Gantar Rayat, dan Gantar Senak.

3. Tari Kancet Lasan

Tarian Dayak Kalimantan

Sama halnya dengan gerakan tarian yang lainnya. Kalau Tari Kacet Lasan ini menggambar kehidupan Burung Enggang. Burung enggang ini dibuat tarian karena sangat dimuliakan sama Suku Dayak Kenyah, semua itu sebagai bukti kepahlawanan dan keagungan. Tarian ini dibawakan tunggal oleh Suku Dayak Kenyah. Gerakan burung ini mencontoh gerakan Burung Enggang saat terbang dan bertengger di pepohonan.

4. Tari Hudoq

Tarian Dayak Kalimantan

Tarian yang satu ini sedikit berbau mistis karena unsur-unsur dan tujuan dari tarian ini. Tari Hudoq merupakan tarian Dayak Kalimantan yang tujuannya untuk perlindungan dan penjagaan kehidupan dan padi setelah ditanam. Tarian yang dipercaya suku etnis sebagai sebuah tarian kedatangan dewa utusan dari sang pencipta ini adalah jenis tarian yang menggunakan topeng. Yang pasti topeng yang digunakan memiliki alasan mengapa harus dipakai saat Tari Hudoq ditampilkan. Menurut kepercayaan warga setempat jika mereka tidak ingin sakit, mati, atau ketularan maka hindari tatapan langsung dengan dewa. Itulah alasan topeng dipakai saat Tari Hudoq.

5. Tari Kancet Ledo

Tari Gong

Tarian ini dibawakan Suku Dayak yang berada di Kalimantan Timur. Biasa disebut dengan Tari Gong, dalam tariannya memang menggunakan properti berupa Gong. Tari Gong merupakan wujud dari ekspresi dari seorang wanita yang begitu lembut yang sedang menari diatas Gong. Dengan penuh keseimbangan wanita tersebut menari begitu lemah lembut gerakan yang dimainkan. Busana yang digunakan begitu indah berhiaskan manik-manik, serta kain beludru yang dililitkan pada pinggang.

 

 

Manual Drawings~

Nah… sekarang saya mau tunjukin nih, gambar”nya. Sorry kalo ada gambar yang kurang :v

PicsArt_10-24-02.15.49
Wkwk, Pikachunya gemesin deh~ Credit : to owner
PicsArt_10-24-02.17.15
Couple Time… Credit : to owner
PicsArt_10-24-02.18.53
Natsume Yuujinchou – Natsume!! Credit : to owner
PicsArt_10-24-02.20.13
Ito Kashitaro~ ^o^// Credit : to owner
PicsArt_10-24-02.21.32
Ensemble Stars – Koga Oogami^^ Kawaii~ Credit : To owner
PicsArt_10-24-02.22.52
Yuri!!! On ICE – Viktor Nikiforov~~ Credit : to owner
PicsArt_10-24-02.23.34
Yuri!!! on ICE – Yuri Plisetsky (Yurio~~) Credit : to owner
PicsArt_10-24-02.24.52
Resident Evil 6 – Piers Nivans!!~~ Karakater favorite OMG Credit : to owner
PicsArt_10-24-02.25.58
BT21 – Mang (J-Hope~~) Bias favorite nih^^

 

Gimana?? Lumayan ngga, hehe… Segini aja dulu ya sampe sini. Ditunggu lg ya selanjutnya… Dadah~ 🙂

Legenda Gunung Lokon

Hasil gambar untuk gunung lokon

Keberadaan empat gunung di Minahasa tak lepas dari cerita seorang

tokoh bernama Warereh yang memotong jalan menuju langit. Namun dibalik

legenda keberadaan Gunung Lokon, Klabat, Soputan, dan Manado Tua, ada

cerita menarik tentang gunung besar di Tanah Malesung ini. Sehingga,

Lokon dan Soputan hanyalah anak gunung yang berada di pinggiran

Kalderanya.

 

Zaman dahulu kala, manusia yang berada di Bumi dengan para

dewa di Langit masih bisa berhubungan. Gunung Lokon dan Soputan

menjadi jalan manusia menuju Langit, begitu juga para dewa ketika akan

turun ke Bumi. Namun demikian, manusia dan dewa masih terdapat batas.

Tak bisa seenaknya manusia bermain ke Langit.

Tersebutlah seorang manusia bernama Warereh. Rasa ingin tahu membuat

Warereh kelihatan nakal. Para dewa merasa jengah ketika Warereh terus

menerus mengintip kehidupan mereka di atas langit.

Mereka merasa ruang pribadi telah diganggu oleh seorang manusia yang

tak tahu diadat.

 

Akhirnya Warereh diburu oleh para dewa. Sebaliknya, Warereh pun

menjadi marah. Warereh memotong bagian atas Gunung Lokon dengan pedang

yang sangat besar. Bagian atas tersebut dia simpan di daerah Tonsea

sehingga muncullah Gunung Klabat. Dia juga memotong Gunung Soputan dan

melemparkan bagian terpotong tersebut ke lauatan di Wenang sehingga

munculan Manado Tua.

Sepenggal kisah tersebut dicatat oleh Pendeta N. Graafland yang

melakukan tugas pekabaran Injil di Minahasa pada tahun 1850-an.

Legenda tersebut tumbuh di masyarakat Minahasa pada saat itu. Namun

kini, semakin jarang ‘keturunan Toar-Lumimuut‘ mengisahkan hal

tersebut.

 

Dibalik cerita tersebut, ternyata di Minahasa tersebut terdapat sebuah

gunung yang besar. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua Pos Pengamatan

Gunung Lokon, Farid Ruskanda Bina saat dijumpai Tribun Manado di ruang

kerjanya yang berada di Kelurahan Kakasakasen, belum lama ini.

Farid menunjukkan citra satelit wilayah Sulawesi Utara. Dari foto

tersebut tampak jelas kontur sebuah gunung yang hampir meliputi

wilayah Minahasa keseluruhan. “Kami menyebut gunung tersebut dengan

nama Gunung Tondano,” ujar Farid.

Gunung tersebut sudah tidak aktif lagi. Namun, kata Farid, ribuan atau

puluhan ribuan tahun yang lalu, gunung tersebut beberapa kali meletus

dengan kekuatan yang besar. “Sisa letusan yang terjadi ribuan tahun

yang silam dapat dilihat jelas di daerah Pantai Bentenan. Di situ

banyak bebatuan besar yang hasil letusan. Warna yang berbeda jelas

antara krem tua dan lebih muda menunjukkan ledakan yang berbeda,”

jelas dia.

Ledakan tersebut dipastikan menghasilkan kaldera yang sangat besar.

Danau Tondano yang sangat luas tersebut hanyalah bagian kecilnya saja.

Farid pun mengungkapkan, ternyata Gunung Soputan, Lokon, Manimporok

atau Mahawu kemungkinan hanyalah berada di rim atau pinggiran kaldera

tersebut. Sementara Gunung Klabat bukan bagian dari Gunung Tondano

tersebut.

 

Dengan demikian, beberapa daerah di Minahasa seperti Kota Tomohon dan

Tondano ternyata berada di sekitar Kaldera Gunung Tondano.

Entah, apakah ada hubungan antara Gunung Tandano dan legenda Warereh.

Sehingga orang jaman dulu, menganggap Gunung Lokon dan Soputan

merupakan tangga menuju Langit lantaran keberdaaan gunung yang tinggi

tersebut.