CARA KALAHKAN GRANNY – GAME HORROR PALING SEREM!

gcube-granny-featured-image2

Granny merupakan game horror indie yang dipublish oleh DVloper pada perangkat Android dan IOs. Player memiliki tujuan untuk keluar dari rumah monster ini dalam waktu 5 hari.

Kebanyakan player yang bermain memiliki kesulitan untuk membuka kunci pintu utama untuk dapat keluar. Jika kamu merupakan salah satu dari mereka, jangan khawatir! Ayo simak tips and trick dari kami bagaimana cara untuk mengalahkan Granny!

 

Kenali Perliaku, Kelebihan dan Kekurangan Granny

gcube-granny-Granny

Granny merupakan satu – satunya musuh didalam game ini. Granny memiliki sosok yang menyeramkan dan memegang palu ditangannya untuk memukul player yang berhasil dia kejar. Tujuan granny menangkap player masih belum diketahui.

Namun ada beberapa bukti yang didapat bahwa nenek ini merupakan makhluk pemakan daging manusia yang dia tangkap.

Kemampuan:

  • Dapat mendengar suara dari mana saja
  • Dapat memasang perangkap yang akan menahan player bergerak
  • Berjalan tidak menimbulkan suara
  • Jika player dapat berhasil membuka beberapa gembok, dia akan menambah gembok yang membutuhkan kode
  • Bergerak dengan kecepatan yang lebih cepat dari player (Extreme)

 

Kekurangan

  • Tidak bisa melewati terowongan
  • Tidak bisa membuka lemari atau melihat dibawah kasur
  • Dapat dibuat pingsan dengan cara menembak peluru bius dengan menggunakan crossbow atau menembak dengan menggunakan shotgun

gcube-granny-trap

Kamu dapat menggunakan decoy dengan cara menjatuhkan beberapa barang. Setiap kali ada suara yang muncul, Granny akan datang mendekati suara tersebut. Kamu juga dapat bersembunyi dibawah ranjang, didalam tempat tidur, atau didalah teworongan karena Granny tidak dapat melewati tempat tersebut.

gcube-granny-Hiding

Granny juga memiliki kesulitan terhadap pintu. Jika kamu sedang kabur dan menutup pintu, Granny akan terpental. Sewaktu Granny terpental, dia akan memiliki kesulitan untuk membuka pintu, gunakan waktu tersebut untuk sembunyi! Berhati – hatilah kepada perangkap yang dipasang!

gcube-granny-hiding2

Dapatkan Senjata

Shotgun dan crossbow dapat membuat Granny pingsan selama 2 menit sampai 30 detik tergantung tingkat kesulitan game. Crossbow dapat ditemukan di secret area yang telah dibuka dengan menggunakan master key.

Shotgun dapat dibuat dengan mengumpulkan 3 bagian (buttstock, trigger, dan barrel) yang harus dibawa satu persatu ke garasi untuk membuat shotgun yang dapat dipakai.

gcube-granny-shot

Setelah menembak Granny, kamu memiliki waktu yang sangat banyak untuk memulai mencari dan mengumpulkan barang – barang yang dibutuhkan untuk membuka pintu utama. Berhati – hatilah dan jangan lengah! Granny akan bangun dan berkeliling rumah lagi.

Hancurkan Semua Gembok Pintu Utama

gcube-granny-maindoor

Pintu utama terletak di tengah bagian rumah dan satu – satunya jalan keluar player untuk dapat kabur dari Granny. Pintu ini memiliki minimal 4 sampai 7 gembok tergantung dari kondisi yang berlaku. Jika player dapat membuka gembok dalam waktu yang cepat (1 atau 2 hari), Granny akan menambahkan gembok kepada pintu tersebut.

Berikut merupakan setiap gembok:

  • Papan Kayu (dapat dihancurkan dengan menggunakan Hammer)
  • Gembok Terakhir (dapat dibuka dengan kunci Master Key)
  • Kawat pada pintu utama dan basement (dapat dipotong dengan menggunakan Cutting Piller)
  • Tempat baterai dan pipa mekanik (hilang setelah menaruh Battery di tempat baterai)
  • Gembok Padlock (dapat dibuka dengan menggunakan Padlock Key)
  • Gembok Padlock kombinasi (dapat dibuka dengan Padlock Code)
  • Gembok besi (dapat dibuka dengan menurukan Lever yang sudah dibuka dengan menggunakan Screwdriver)

Repost: https://gcube.id/news/cara-kalahkan-granny-game-horror-paling-serem

 

11 MAKANAN KHAS SAMARINDA PALING REKOMENDED + PILIHAN OLEH OLEH DAERAH

Apakah Anda berencana untuk berlibur dan juga mengunjungi kota Samarinda di akhir pekan Anda? Nah jika demikian halnya, maka tentu saja Anda tidak boleh melewatkan beragam cita rasa kuliner dan juga makanan khas samarinda yang bisa mengisi perut Anda ketika lelah berjalan- jalan dan sekaligus juga bisa Anda jadikan sebagai oleh- oleh khas dari kota Samarinda.

Nah yuk simak beberapa makanan khas samarinda yang sangat disukai oleh kebanyakan wisatawan yang berkunjung ke Samarinda.

 

Kerupuk Amplang

kerupuk-amplang

Nah makanan khas samarinda pertama yang bisa Anda cicipi atau Anda jadikan sebagai cemilan teman perjalanan Anda menyelusuri keindahan kota Samarinda adalah kerupuk amplang.

Kerupuk yang satu ini terbuat dari ikan dengan bentuk yang sangat unik, namun tentu saja soal rasa Anda tidaklah perlu khawatir, karena rasa kerupuk ikan yang satu ini sangat gurih dan rasa ikannya sangat terasa, karena bahan bakunya yang paling dominan adalah ikan yang diberikan dengan sedikit saja campuran tepung.

Kerupuk amplang ini juga saat ini bisa dengan mudah Anda temukan dibeberapa daerah dipulau Jawa, hanya saja jika langsung membelinya dari kota asalnya akan terkesan lebih berbeda.

 

Lempok Durian

lempok-durian-1

Nah bagi Anda pecinta durian tentu saja Anda juga bisa menikmati atau juga menjadikan makanan khas samarinda yang satu ini sebagai oleh- oleh untuk sanak keluarga Anda. Makanan tersebut adalah lempok durian atau juga dikenal dengan dodol durian.

Sesuai dengan namanya dimana makanan yang satu ini terbuat dari bahan baku berupa durian yang masih segar. Anda bisa menikmatinya dengan secangkir kopi atau teh hangat disore hari. Makanan yang satu ini juga memiliki ketahanan yang lama sehingga sangat cocok dijadikan sebagai oleh- oleh.

 

Roti Pisang

roti-pisang-khas-samarinda

Apakah Anda sudah pernah menikmati lezat dan juga enaknya roti pisang? Nah jika Anda berkunjung ke kota Samarinda, maka Anda akan menemukan makanan khas samarinda barupa roti pisang. Roti pisang yang satu ini berbeda dengan roti pisang pada umumnya.

Sesuai dengan namanya dimana roti pisang ini menggunakan buah pisang sebagai bahan utama pembuatannya. Buah pisang tersebut dipotong bulat dan juga kecil- kecil dan juga dibentuk bulat pipih. Tahukah Anda jika jenis pisang yang digunakan dalam pembuatan roti pisang ini adalah dengan menggunakan pisang talas atau juga pisang raja.

Selain pisang dimana bahan campuran lainnya juga menggunakan tepung terigu serta santan dan telur yang juga dilengkapi dengan sedikit garam dan gula sebagai penambah rasa manis dan gurih.

 

Pepes Kepiting

pepes-kepiting

Nah mungkin Anda hanya pernah mencicipi pepes ikan saja, namun tahukah Anda jika di Samarinda ada makanan khas samarinda yang sangat unik dan juga sangat lezat rasanya yaitu pepes kepiting. Jenis kepiting yang digunakan adalah kepiting soka yang dimasak dengan menggunakan bumbu khusus seperti cabai, daun kemangi, serai dan juga rempah- rempah khas Samarinda lainnya.

Uniknya lagi pepes kepiting ini juga akan dibakar setelah dikukus terlebih dahulu sehingga rasanya sangatlah nikmat.

 

Gapit Pisang

gapit-pisang

Olahan atau juga makanan khas samarinda lainnya yang terbuat dari bahan dasar pisang adalah gapit pisang. Sesuai dengan namanya dimana pisang tersebut akan dijepit pada saat proses memasaknya.

Adapun pisang yang digunakan dalam pembuatan kuliner yang satu ini adalah pisang sanggar, pisang kapok dan juga pisang kapok. Hanya saja pisang yang digunakan haruslah pisang yang tidak terlalu matang alias pisang setengah matang. Proses pembuatan pisang ini yaitu dengan cara dipanggang.

 

Ayam Cicane

ayam-cicane-khas-samarinda

Nah ingin mencicipi makanan khas samarinda yang gurih dan juga lezat, maka Anda bisa menikmati ayam cicane ini. Sesuai dengan namanya dimana bahan baku pembuatan kuliner yang satu ini terbuat dari ayam kampung dengan dimasak menggunakan bumbu- bumbu yang sangat khas seperti kemiri, jahe dan juga lengkuas. Jika semua bagian ayam sudah merata maka ayam akan dipanggang lalu digoreng.

 

Gence Ruan

gence-ruan

Ternyata masih banyak sekali kuliner dan juga makanan khas samarinda yang bisa Anda santap langsung dikotanya dan juga bisa Anda jadikan sebagai oleh- oleh. Nah kali ini adalah makanan yang disebut dengan gence ruan.

Makanan yang satu ini merupakan incaran para wisatawan yang berkunjung ke Samarinda. Bahan utama dari hidangan yang satu ini adalah ikan gabus. Ikan gabus tersebut akan dibakar, namun sebelum dibakar ikan akan terlebih dahulu dilumuri dengan garam dan setelah dibakar ikan gabus akan disiram dengan bumbu khusus.

 

Sate Payau

sate-payau

Makanan khas samarinda yang tidak kalah lezatnya adalah berupa olahan daging rusa. Makanan yang satu ini bisa dikatakan langka karena menggunakan daging rusa sebagai bahan utamanya. Hanya saja Anda masih bisa menemukan beberapa tempat yang masih menjual sate payau ini.

Sate yang satu ini sangatlah sederhana, dengan menggunakan bumbu atau juga rempah- rempah khas kota Samarinda lalu dibakar. Sate ini juga bisa Anda jadikan sebagai oleh- oleh karena tahan hingga dua hari.

 

Bobongko

makanan-khas-samarinda-bobongko

Menikmati keindahan kota Samarinda dan juga mencicipi beraneka raga cita kuliner atau makanan khas samarinda tentu saja menjadi dambaan bagi setiap orang. Nah untuk memulai hari- hari Anda dikota Samarida maka tidak ada salahnya bukan jika Anda menikmati sarapan yang sangat lezat yaitu bobongko.

Bobongko ini berwarna hijau yang biasanya juga dibalut dengan menggunakan daun pisang, dengan tekstur yang sedikit kenyal. Biasanya bobongko ini juga bisa Anda nikmati dengan siraman kuah yang manis. Nah bobongko ini terbuat dari bahan dasar berupa tepung beras yang dimasak dengan menggunakan santan dan juga duberikan rempah- rempah sehingga cita rasanya juga pedas dan gurih.

 

Pulut Nasi

pulut-nasi

Bagi Anda yang ingin menikmati keindahan kota Samarinda dan juga membeli bekal atau juga oleh- oleh maka makanan khas samarinda yang satu ini sangat cocok untuk Anda beli yaitu pulut nasi.

Pulut nasi ini menggunakan nasi sebagai bahan utama pembuatannya dan juga dimasak dengan santan serta juga diberikan taburan garam dan juga beberapa rempah lainnya seperti cabai sehingga memberikan sensasi yang sedikit pedas pada pulutnya.

Biasanya pulut ini akan dimasak dengan cara dikukus selama dua jam lamanya sehingga akan tahan lama dan tidak mudah basi. Biasanya pulut nasi ini juga dilengkapi dengan sambal yang dicampur dengan kacang tanah yang sudah disangrai dan dihaluskan.

 

Sambal Raja

sambal-raja

Ada oleh- oleh yang unik yang bisa Anda bawa pulang jika Anda berkunjung ke kota Samarinda ini, yaitu Anda bisa membeli sambal raja. Tahukah Anda jika pada zaman dahulu sambal raja ini hanya bisa dinikmati oleh kalangan raja- raja saja, namun sekarang siapapun bisa dengan mudah untuk mencicipi kelezatannya.

Nah sambal raja ini terbuat dari beberapa jenis sayuran seperti terong, kacang panjang, bawang merah yang sudah diiris- iris dan juga akan disiram dengan bumbu yang sudah dihaluskan dan diberikan berupa irisan telur yang sudah direbus. Nah itu dia beberapa makanan khas samarinda yang bisa Anda nikmati bersama keluarga dan dijadikan sebagai oleh- oleh.

Repost: https://www.gotravelly.com/blog/makanan-khas-samarinda/

Red Eye: Ketegangan di Atas 30 Ribu Kaki

8179_nochnoj-rejs_or_red-eye_1280x1024_(www.GdeFon.ru)

Ketakutan Lisa Reisert akan penerbangan semakin bertambah setelah dirinya mengalami pengalaman traumatis di atas ketinggian 30 ribu kaki. Nyawa dua orang penting, ayahnya dan seorang pejabat bergantung pada sebuah telepon yang dilakukannya dari atas pesawat. Setelah menghadiri pemakaman neneknya di Dallas, Lisa Reisert (Rachel Mc Adams) harus kembali ke hotel tempat ia bekerja di Miami. Karena harus kembali bertugas keesokan harinya maka Lisa terpaksa mengambil penerbangan malam dan sampai di pagi hari atau yang sering disebut red eye flight. Perjalanan Lisa tak berjalan mulus karena ada gangguan cuaca yang menunda penerbangannya. Selama menunggu, Lisa bertemu seorang pria di cafe yang bernama Jackson Ripner. Tak disangka, pria tersebut juga duduk di sebelah Lisa dalam pesawatnya menuju Miami. Awalnya Lisa senang karena memiliki teman bicara yang mampu meredakan keresahannya akan ketinggian. Namun semua itu berubah ketika Jackson menunjukkan jati diri aslinya. Ia adalah suruhan sebuah kelompok yang bertujuan untuk membunuh seorang pejabat Homeland Security. Pejabat tersebut akan menginap di hotel tempat Lisa bekerja. Di tengah kepanikannya, Lisa diminta untuk menelepon rekannya, Chyntia untuk memindahkan kamar tempat rombongan pejabat itu menginap. Tujuannya, agar rencana pembunuhan bisa berjalan lebih mulus. Jika tak dituruti, seorang pembunuh bayaran sudah bersiap di depan rumah ayah Lisa untuk menghabisi nyawa sang ayah tercinta. Lisa dihadapkan pada dilema profesi dan pribadi. Satu langkah yang salah akan membahayakan ayahnya atau membunuh karirnya di hotel tersebut. Film garapan sutradara Wes Craven itu bergenre drama psikologis. Selama setengah awal film ketegangan dan konflik belum terlalu mengikat penonton untuk tetap duduk di kursi. Namun mendekati akhir film, alur cerita berubah menjadi cepat dan cukup menegangkan. Dibanding film-film jawara box office, kisah yang mengambil setting di Los Angeles Amerika itu memang bukan film papan atas. Namun untuk kategori film kelas menengah, film ini cukup menarik untuk dinikmati dan alur ceritanya cukup mampu membuai penonton untuk merasakan ketegangan emosional yang tengah dihadapi Lisa.

Repost: https://hot.detik.com/premiere/d-428253/red-eye-ketegangan-di-atas-30-ribu-kaki

Tips dan Trik Bertahan Hidup di Raft Survival Simulator

raft-by-redbeet-interactive

Raft Survival Simulator adalah game yang menawarkan petualangan yang menakjubkan di tengah laut. Di sini kamu akan terdampar di tengah laut yang dikelilingi oleh hiu dan kamu hanya dibekali sebuah kail dan rakit.

Di sini kamu akan menggunakan kail untuk mengumpulkan puing-puing yang berada di laut dan membuat apapun untuk bisa tetap bertahan hidup. Ada banyak cara untuk tetap bertahan di Raft Survival Simulator. Untuk itu Sukaon akan memberikan beberapa tips dan trik untuk bisa bertahan hidup di Raft Survival Simulator, berikut adalah tips dan triknya.

1. Utamakan item yang lebih berguna

Kamu akan menemukan banyak item yang berguna nantinya. Cobalah untuk mengutamakan item yang lebih penting, yaitu plank, scrap dan leaves.

  • Plank berguna untuk membangun sesuatu dan banyak hal lainnya.
  • Scrap berguna untuk membuat mug dan hal-hal lainnya.
  • Leaves berguna untuk membuat rope.

Selain item diatas, barel dan peti kayu merupakan dua item yang juga tidak boleh dilewatkan begitu saja. Plank, leaves, scrap dan lainnya dapat ditemukan juga melalui barel dan peti kayu maka dari itu jangan lewatkan dua item ini.

2. Tiga item yang harus dibuat terlebih dahulu

Game ini layaknya seperti dalam dunia nyata, kamu membutuhkan air untuk tetap bertahan hidup maka yang harus dibutuhkan adalah mug yang berguna untuk menampung air laut dan water purifier yang merupakan alat untuk menjernihkan air yang dapat dibuat dengan menggunakan plank, scrap dan rope.

Selain air, ikan juga dibutuhkan untuk bertahan hidup. Di sini kamu membutuhkan alat pancing untuk menangkap ikan. Kamu akan membutuhkan plankscrap dan rope untuk membuat alat pancing. Setelah itu, kamu dapat memasak ikan tersebut dan memakannya untuk tetap bertahan hidup.

3. Kegunaan pohon palem

Untuk mendapatkan plank dan leaves dapat dilakukan juga melalui pohon palem. Bisa dibilang ini cara lain yang lebih mudah. Kamu bisa mendapatkan bibit secara tidak menentu, pastikan untuk menanam pohon palem hingga tumbuh menjadi besar.

Kamu dapat menggunakan kapak untuk menebang pohon palem, lalu setelah itu kamu akan mendapatkan leaves dan plank dari pohon palem tersebut.

4. Membuat obor untuk mempermudah aktivitas di malam Hari

Obor sangatlah penting di malam hari, selain karena kamu membutuhkan cahaya untuk melihat ke sekitar, obor juga berguna untuk menakuti hiu agar mereka menjauh pada malam hari. Caranya adalah memasang obor namun, bukan obor yang dibawa dengan tangan melainkan obor yang dapat berdiri di rakit milikmu.

5. Memperluas rakit

Kamu akan merasa rakitmu mulai sempit, untuk itu kamu butuh memperluas rakitmu. Di sini kamu membutuhkan palu, carilah tempat yang berwarna hijau (berarti dapat dibangun) dan kamu dapat memperluasnya disana. Satu ubin memerlukan 5 plank, kamu juga dapat membangun dinding dan pintu namun, hal tersebut tidaklah begitu penting.

6. Menanam kentang

Seedbox berguna untuk menanam kentang yang nantinya dapat kamu konsumsi untuk tetap bertahan hidup. Kentang menjadi cara alternatif untuk tetap mendapatkan energi dan lebih mudah dibandingkan dengan mencari ikan di laut.

Itulah beberapa tips dan trik untuk tetap bertahan hidup di Raft Survival Simulator, semoga kamu terbantu dengan tips dan trik diatas.

Repost: https://www.sukaon.com/tips-dan-trik-raft-survival-simulator/

Yang Menarik dari ‘Resident Evil: Vendetta’

slsrjt9spnbyprot0new

Berawal dari video game, Resident Evil kemudian diangkat menjadi sebuah film yang terbagi menjadi beberapa sekuel. Tak hanya itu saja, film tersebut kemudian juga dibuat live action dan film animasi CGI (Computer Generated Imaginary).

Yang terbaru dari film animasi CGI ini adalah Resident Evil: Vendetta, yang diarahkan sutradara asal Jepang bernama Takanori Tsujimoto.
Ini merupakan sekuel ketiga dari film animasi CGI Resident Evil. Sebelumnya, Resident Evil: Degeneration telah tayang pada 2008 silam, dan mengikuti Resident Evil Damnation pada tahun 2012.
Masih dengan latar belakang yang sama degan film aslinya di Resident Evil 6 dan Resident Evil 7, film ini bercerita tentang Chris Redfield (Kevin Dorman) seorang anggota Bioterrorism Security Assessment Alliance (BSAA) yang berusaha mengehentikan Glenn Arias, seorang pedagang kematian yang ingin melakukan misi balas dendam dengan cara menyebarkan virus bernama ‘Trigger Virus’ di New York City.
Tak sendiri, Chris juga dibantu oleh seorang ilmuwan dari Alexander Institut Bioteknologi, Profesor Rebecca Chambers (Erin Cahill), dan meminta bantuan pula dari seorang agen pemerintah bernama Leon S. Kennedy (Matthew Mercer).
Di sinilah keunikan Resident Evil: Vendetta. Takanori Tsujimoto berusaha untuk mempertemukan karakter dari game pertama, Chris Redfield dengan karakter tetap dalam franchise film ini, yaitu Leon S. Kennedy.
Namun, yang disoroti dalam film ini bukanlah Leon seperti pada film-film sebelumnya, namun ‘Resident Evil: Vendetta’ lebih menekankan ke dalam sudut pandang dari Chris.
Meskipun Chris dan Leon bekerjasama dalam memberantas kejahatan Arias, tak sedikit pula perdebatan di antara mereka berdua yang diperlihatkan, dan tentunya, Rebeca menjadi penengah di kala kondisi sedang memanas.
Meski ini hanyalah sebuah film animasi CGI saja, namun ketegangan dan kengerian di setiap alur ceritanya begitu terasa seperti nyata. Cara Leon dan Chris memberantas zombie yang berkeliaran di kota juga cukup sukses membuat kita terlibat dalam petualangan seperti di game.
Bagaimana cara Chris dan Leon menaklukan Arias dan mematikan ‘Trigger Virus’? Silahkan langsung di bioskop!

7 Alasan Mengapa Resident Evil 6 Tidak Seburuk yang Dikira Para Gamer

vdr-a2b606401f5b8c01c748930f51822db4_600x400

Digarap oleh lebih dari 600 orang developer, Resident Evil 6 menjadi upaya Capcom dalam melebur banyak judul RE menjadi satu paket rapi, demi mengatasi krisis identitas yang sempat dialami di judul-judul sebelumnya. Ini memang terlihat ambisius, namun banyak penggemar yang tidak setuju dengan itu.

Mereka menilai bahwa RE 6 merupakan perusak franchise, dengan fokus terhadap aksi yang berlebihan dan tidak layak. Namun, apakah RE 6 seburuk itu? sesungguhnya tidak. Ada beberapa alasan yang mendasari kenapa RE 6 tidak seburuk yang banyak orang bicarakan. Berikut 7 di antaranya – versi IDN Times.

1. Tidak Berusaha Untuk Menjadi Game Survival-Horor

resident-evil-6-trailer-19943-e5ab11bd97060cb6985add8ba731adaf

Salah satu kritik terbesar terhadap RE 6 berasal dari elemen survival-horror yang ditinggalkan dan digantikan oleh elemen aksi berlebihan yang penuh ledakan. Ini mungkin kontroversial dan membuat RE 6 menjauh dari jati diri franchisenya, namun itu tidak begitu buruk.

Meski bukan permainan yang benar-benar hebat, setidaknya RE 6 berusaha untuk tidak ‘stuck’ di ide yang sama. Terlebih secara keseluruhan, tema baru yang dibawa oleh RE 6 juga dipoles dengan cukup baik dan justru membawanya menjadi salah satu judul paling menarik dari keseluruhan franchise.

2. Ada begitu banyak konten untuk dinikmati

resident-evil-6-ps4-2-90ff10ff13573bd84052fb387ad4fc55

RE 6 datang dengan empat mode campaign berbeda, yang menawarkan banyak cara unik untuk penyelesaiannya. Ini merupakan langkah luar biasa yang pada masa itu, sangat jarang terjadi terutama pada game-game sekuel. Keempat mode campaign tersebut juga di luar mode multiplayer hebat, yang mana memberikan pemain kesempatan untuk masuk ke mode campaign pemain lain sebagai monster.

RE 6 mungkin secara kualitas tidak begitu baik, namun secara kuantitas berada di atas game lain. Itu patut diapresisasi, terlebih karena mampu memberi pengalaman ekstra yang benar-benar baik.

3. Memasukkan semua filosofi dari judul-judul sebelumnya

resident-evil-6-1920x1080-2-0726e81822376a47fed593f1478fb96c

Ketika mengembangkan RE 6, Capcom menegaskan bahwa mereka ingin agar penggemar merasakan pengalaman yang ada di judul-judul RE sebelumnya, secara bersamaan dalam satu paket lengkap. Capcom berhasil melakukan itu dengan membuat RE 6 layaknya sebuah tambalan bagi judul-judul RE sebelumnya. Dengan tema dan filosofi permainan yang disampaikan lewat mekanisme dan konsep yang lebih brilian.

Luar biasanya lagi, itu semua dilakukan tanpa menghilangkan orisinalitas cerita, lokasi dan musuh yang ada. Sekali lagi, RE 6 berhasil membawa perpaduan yang hebat dan menyenangkan.

4. Campaign Jake & Sherry Dengan Kisah Yang Hebat

 

jake-sherry-re6-sherry-birkin-33610753-1280-720-a33ca176caa4f96afa4a2b220eaeeff7

Dari keempat mode campaign yang diusung RE 6, mode campaign milik Jake dan Sherry terbilang menjadi yang terbaik, karena benar-benar mendorong kisah franchise untuk maju. Kedua karakter juga menawarkan awal yang baru bagi narasi keseluruhan franchise RE.

Mereka mewakiliki generasi yang baru, protagonis dengan ikatan (yang sebelumnya tidak pernah dilakukan di franchise RE) dan mampu menyampaikan kisah tanpa kehilangan keterkaitan dengan judul-judul sebelumnya. Dengan hadirnya Sherry dan Jake, Capcom memiliki ‘papan tulis kosong’ untuk diisi dengan narasi baru di masa depan.

5. Mekanisme combat yang terasa fantastis

re6febscreens4-c834cae4a527b127af21c59c590f3579

RE 6 memperkenalkan kualitas combat yang lebih besar ketimbang pendahulunya. Itu dibuat dengan lebih intens dan karakter yang pemain mainkan, memiliki karakteristik yang jauh lebih fleksibel. Kini, pemain diberikan kebebasan ekstra untuk bergerak dari satu posisi ke posisi lain, ketika sedang terlibat pertempuran melawan zombie.

Selain itu, pemain juga dibekali dengan skill quickshot yang super keren, serta kemampuan untuk melakukan ‘pukulan mematikan’ sebagai bagian dari serangan melee. Ada banyak momen untuk beraksi dan itu sangat-sangat mengagumkan.

6. Mode Co-op yang menakjubkan

ss-0984c5c516b990c4ad9f4532b5c0744b0fcdf21e1920x1080-3456fe18572b92d6b0ffd4932cbea38b

Mode co-op RE 6 dibangun dengan fokus yang lebih baik dan tidak acak-acakan seperti pendahulunya. Hasilnya, setiap campaign yang dijalankan terasa lebih kuat, dan setiap karakter seakan memiliki alasan untuk tetap bersama dan membangun chemistry untuk itu.

Gameplay-nya sendiri juga dibuat lebih seru untuk dua pemain, dengan adegan pertempuran reguler yang lebih tegang dan lebih banyak monster, serta ketergantungan terhadap dua pemain untuk bekerja sama demi menyelesaikan satu tujuan. Tidak dapat disangkal bahwa mode co-op RE 6 bekerja dengan sangat baik.

7. Monster dan musuh baru yang variatif

re6-620-006jpg-09089efd11cb7b987581950b2ebd05d6

RE 6 tidak hanya memperkenalkan monster atau musuh baru yang luar biasa, namun juga tantangan baru yang sebelumnya belum pernah dicapai oleh franchise seru ini. Keberagaman musuh yang ditawarkan terbilang cukup gila, dan tidak hanya terlihat dari model visualnya saja, namun juga dari animasi dan perilaku masing-masing.

Di sepanjang permainan, RE 6 menghantam pemain dengan banyak musuh berbeda di setiap level. Ini mungkin berakhir sebagai masalah kuantitas ketimbang kualitas pada akhirnya, namun itu benar-benar memberikan variasi, yang membuat pertempuran jadi tetap menarik.

Bagaimana dengan kalian? setuju dengan opini diatas? atau mungkin, punya pendapat lain?

Repost: https://www.idntimes.com/tech/games/arifgunawan/kelebihan-resident-evil-6-terbaru/full

Review Film Imperfect: Ternyata Tidak Sempurna Adalah Bagian Lain dari Sempurna itu Sendiri

maxresdefault

Imperfect benar-benar sukses dalam menyajikan permasalahan kompleks tentang body shaming yang hampir dirasakan oleh semua orang. Perpaduan antara drama keluarga dengan jokes-jokes receh serta totalitas pemain dalam mengambil peran berhasil membuat emosi kita naik turun. Selain itu, film ini juga mengingatkan kita bahwa insekuritas dapat dirasakan sekalipun oleh mereka yang kita nilai cantik, ganteng, dan bahkan terkenal.

Setelah sukses dengan Milly & Mamet, Ernest Prakasa kali ini kembali menggarap film akhir tahunnya yang juga nggak kalah booming. Bercerita tentang kehidupan seorang perempuan bernama Rara yang diperankan oleh Jessica Mila, Ernest berhasil memanfaatkan problematik kompleks tentang body shaming yang dirasakan oleh hampir semua orang saat ini.

Seperti film khas Ernest yang lainnya, dirinya selalu menonjolkan masalah yang terjadi antaranggota keluarga. Drama enteng dengan alur yang nggak begitu rumit, membuat film ini mudah dipahami sekalipun oleh para remaja. Meski begitu, film ini tetap akan mendapat beberapa kritik dari ‘pengamat film’ amatiran seperti saya ini. Simak sampai usai, ya!

Dari awal film hingga pertengahan, hampir nggak ada cool down dari masalah yang timbul. Emosi penonton terus dibuat naik, tapi justru di sinilah bagian serunya

hipwee-Screen-Shot-2019-12-20-at-6.42.37-PM-640x268

Terlepas dari rasa kesal saya tentang bagaimana Ernest menunjukkan konflik pertama saat ayah Rara meninggal dengan begitu cepat, runtutan kemunculan masalah yang ada di awal film hingga pertengahan ini patut diacungi jempol. Pasalnya, Ernest nyaris nggak memberikan cool down pada masa-masa tersebut.

Menariknya, meskipun alurnya tampak datar, namun suasana yang ditimbulkan dari gejolak hati Rara ketika dia memunculkan masalahnya satu per satu membuat penonton ikut naik turun emosinya. Menurut saya, Ernest benar-benar sukses mengambil fokus masalah yang dihadirkan. Yakin deh, kalau kalian nonton pasti merasa relate banget sama hal-hal itu.

Kontras konflik yang muncul juga tampak jelas, ini adalah nilai positif kedua yang paling kentara di film tersebut

hipwee-Screen-Shot-2019-12-21-at-9.20.11-AM-640x267

Seperti film-film Ernest yang sebelumnya, dia selalu khas dengan drama kekeluargaan yang terjadi di sepanjang film. Namun, lagi-lagi bagian yang dapat saya acungi jempol di film ini adalah bagaimana Ernest dapat menunjukkan kontras antara pemain satu dengan yang lainnya. Dengan dia brilian membuat penonton merasa familiar dengan sifat seluruh pemain.

Misalnya, Rara dengan sifat super mindernya yang disandingkan bersama kakak kandungnya yang digambarkan jadi pusat sorotan karena kecantikannya. Pada bagian lainnya, muncul juga Uus sebagai pemuda kampung urakan pengangguran yang susah diatur. Kemudian, ada juga Boy William yang digambarkan sebagai naravlog seperti dalam kehidupan aslinya.

Di film ini, akting Jessica Mila bisa dibilang totalitas banget. Reza Rahadian pun sebenarnya juga begitu, tapi tunggu dulu …

hipwee-Untitled-design-4-1

Salah satu effort Jessica Mila yang wajib diberi penghargaan sebesar-besarnya adalah bagaimana totalitas dirinya dalam mengubah penampilan jadi berbeda. Nggak hanya itu, cara dia berkomunikasi dengan lawan mainnya mulai dari tengah film hingga bagian akhir pun sukses mengaduk-aduk emosi saya.

Kemunculan para komika yang berada dalam satu frame menurut saya juga ide yang cemerlang. Penonton diajak menikmati jokes-jokes secara bersamaan tanpa harus loncat dari satu frame ke frame lainnya. Apalagi mereka juga berperan sesuai dengan sifat aslinya dalam kehidupan sehari-hari.

Berbeda dengan Reza Rahadian, meski dalam aktingnya saya beri angka 7 dari total 10, namun bagaimana Ernest menunjukkan dirinya sebagai pemuda kampung kurang relevan. Bagi saya yang memang hidup di kampung, penampilan keseharian Reza lebih cocok dibilang sebagai anak komplek, padahal dia tinggal di sudut perkampungan yang padat penduduk.

Terlepas dari semuanya, film ini bagi saya adalah sebuah pendobrak tentang fenomena body shaming yang terjadi di kehidupan kita sehari-hari. Ceritanya enteng, nggak receh, dan pesan yang mau disampaikan dapet banget!

hipwee-Screen-Shot-2019-12-21-at-9.33.38-AM-640x255

Ngomongin tentang keseluruhan pada film ini, saya memberi angka 8,5 dari total 10. Bagaimana cara Ernest ingin menunjukkan pesan benar-benar dikemas dengan menarik dan mudah untuk dipahami. Di bagian akhir film pun kita akan disuguhkan dengan jalan cerita yang sangat ‘Ernest banget’. Ada banyak kutipan-kutipan yang dapat diambil dari film ini.

Ernest pun dengan pandainya menunjukkan siapa sebenarnya pihak terbesar yang ternyata berpotensi untuk membuat kita semua merasa insecure sepanjang hidup kita. Bagian-bagian kecil pun banyak yang digambarkan dengan sebegitu detail. Namun, tetap saja dari ‘pengamat film’ amatiran seperti saya ini, Imperfect tetap masih ada kekurangannya.

Meski begitu, film ini tetap layak untuk ditonton kok. Udah, pokoknya gas sekarang~

Repost: https://www.hipwee.com/hiburan/review-film-imperfect/

SEJARAH SAMARINDA

cerita-di-balik-nama-samarinda-1qa

Kota Samarinda

Kota Samarinda merupakan ibu kota provinsi Kalimantan Timur, Indonesia serta salah satu kota terbesar di Kalimantan. Samarinda memiliki wilayah seluas 718 km² dengan kondisi geografi daerah berbukit dengan ketinggian bervariasi dari 10 sampai 200 meter dari permukaan laut. Kota Samarinda dibelah oleh Sungai Mahakam dan menjadi gerbang menuju pedalaman Kalimantan Timur melalui jalur sungai, darat maupun udara.

Samarinda yang dikenal sebagai kota seperti saat ini dulunya adalah salah satu wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Pada abad ke-13 Masehi (tahun 1201–1300), sebelum dikenalnya nama Samarinda, sudah ada perkampungan penduduk di enam lokasi yaitu Pulau Atas, Karang Asam, Karamumus (Karang Mumus), Luah Bakung (Loa Bakung), Sembuyutan (Sambutan) dan Mangkupelas (Mangkupalas). Penyebutan enam kampung di atas tercantum dalam manuskrip surat Salasilah Raja Kutai Kartanegara yang ditulis oleh Khatib Muhammad Tahir pada 30 Rabiul Awal 1265 H (24 Februari 1849 M).

Pada tahun 1565, terjadi migrasi suku Banjar dari Batang Banyu ke daratan Kalimantan bagian timur. Ketika itu rombongan Banjar dari Amuntai di bawah pimpinan Aria Manau dari Kerajaan Kuripan (Hindu) merintis berdirinya Kerajaan Sadurangas(Pasir Balengkong) di daerah Paser. Selanjutnya suku Banjar juga menyebar di wilayah Kerajaan Kutai Kartanegara, yang di dalamnya meliputi kawasan di daerah yang sekarang disebut Samarinda.

Sejarah bermukimnya suku Banjar di Kalimantan bagian timur pada masa otoritas Kerajaan Banjar juga dinyatakan oleh tim peneliti dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI (1976): “Bermukimnya suku Banjar di daerah ini untuk pertama kali ialah pada waktu kerajaan Kutai Kertanegara tunduk di bawah kekuasaan Kerajaan Banjar.”[6] Inilah yang melatarbelakangi terbentuknya bahasa Banjar sebagai bahasa dominan mayoritas masyarakat Samarinda di kemudian hari, walaupun telah ada beragam suku yang datang, seperti Bugis dan Jawa.

Pada tahun 1730, rombongan Bugis Wajo yang dipimpin La Mohang Daeng Mangkona merantau ke Samarinda. Semula mereka diizinkan Raja Kutai bermukim di muara Karang Mumus, tetapi dengan pertimbangan subjektif bahwa kondisi alamnya kurang baik, mereka memilih lokasi di Samarinda Seberang. Dalam kaitan ini, lokasi di bagian Samarinda Kota sebelum kedatangan Bugis Wajo, sudah terbentuk permukiman penduduk dengan sebagian areal perladangan dan persawahan yang pada umumnya dipusatkan di sepanjang tepi Sungai Karang Mumus dan Karang Asam.

Mengenai asal mula nama Samarinda, tradisi lisan penduduk Samarinda menyebutkan, asal-usul nama Samarendah dilatarbelakangi oleh posisi sama rendahnya permukaan Sungai Mahakam dengan pesisir daratan kota yang membentenginya. Tempo dulu, setiap kali air sungai pasang, kawasan tepian kota selalu tenggelam. Selanjutnya, tepian Mahakam mengalami pengurukan/penimbunan berkali-kali hingga kini bertambah 2 meter dari ketinggian semula.

Oemar Dachlan mengungkapkan, asal kata “sama randah” dari bahasa Banjar karena permukaan tanah yang tetap rendah, tidak bergerak, bukan permukaan sungai yang airnya naik-turun. Ini disebabkan jika patokannya sungai, maka istilahnya adalah “sama tinggi”, bukan “sama rendah”. Sebutan “sama-randah” inilah yang mula-mula disematkan sebagai nama lokasi yang terletak di pinggir sungai Mahakam. Lama-kelamaan nama tersebut berkembang menjadi sebuah lafal yang melodius: “Samarinda”.

Repost: https://situsbudaya.id/sejarah-kota-samarinda/

Review Outlast 2: Tidak Lebih Baik!

Outlast-2-jagatplay-1-600x338.jpg

Plot

Outlast-2-jagatplay-27-600x338.jpg
Usaha Anda dan istri Anda – Lynn untuk mencari kebenaran di balik kematian Jane Doe berakhir mimpi buruk.

Untuk kedua kalinya, Anda akan berperan sebagai seorang jurnalis di franchise Outlast. Di Outlast 2 ini, bersama dengan istri Anda yang setia – Lynn, Anda akan berperan sebagai Blake Langermann. Tugas untuk melakukan proses investigasi menyeluruh terhadap tewasnya seorang wanita hamil secara misterius bernama Jane Doe membawa Anda masuk ke dalam teritori Arizona yang misterius. Namun untuk alasan yang misterius, helikopter yang Anda tumpangi bersama Lynn tiba-tiba mengalami masalah teknis dan terjatuh.

Terbangun dari kondisi tak sadarkan diri selama beberapa waktu, Anda menemukan helikopter yang sempat Anda tumpangi kini berubah menjadi kobaran api raksasa di permukaan tanah. Usaha untuk mencari istri Anda – Lynn di antara reruntuhan tersebut justru menghadapkan Anda pada mimpi yang bahkan lebih buruk.  Si pilot yang sebelumnya hidup, kini terikat di atas tiang kayu dengan kulit tubuh yang sudah menghilang darinya. Pelan tapi pasti, Anda mulai mengerti bahwa Anda kini berhadapan dengan situasi yang tak pernah Anda  bayangkan sebelumnya. Bahwa kisah untuk mencari Jane Doe ini mulai berubah menjadi kisah untuk bertahan hidup.

Outlast-2-jagatplay-6-600x338
Helikopter Anda tiba-tiba mengalami masalah teknis dan jatuh, meninggalkan bola api di antah berantah.
Outlast-2-jagatplay-8-600x338
Alih-alih istri Anda, Anda justru menemukan tubuh sang pilot helikopter kini sudah terikat dan terkuliti dengan “bersih” di dekatnya.

Blake terjebak di dalam konflik di antara dua kelompok yang sama gilanya. Di satu sisi, ada sekte sesat pimpinan Sullivan Knoth yang meyakini bahwa anti-Christ (Iblis) akan lahir dari rahim salah satu wanita di sekitar daerah tersebut, dan menjadi misinya lah, untuk memastikan setiap bayi yang lahir dari mereka tewas. Sementara dari sisi lain, tak sedikit yang mulai menyadari “kesalahan” Knoth tersebut dan mulai membangkang, menyebut diri mereka sebagai “The Heretics”. Dipimpin oleh Val, mereka justru ingin Anti-Christ ini hadir dan membawa akhir dunia. Sebuah konsep yang gila memang, namun apa yang ia lihat secara langsung membuat Blake harus percaya, bahwa ia memang tengah terjebak di neraka dunia.

Outlast-2-jagatplay-43-600x338.jpg
Usaha Anda untuk mencari dan menyelamatkan Lynn berusaha jadi usaha untuk bertahan hidup di tengah “neraka” dunia.
Outlast-2-jagatplay-96-600x338
Dua buah kelompok yang sama gila dan “sakitnya” berjuang untuk menyambut akhir dunia.
Outlast-2-jagatplay-81-1-600x338.jpg
Sementara berusaha selamat dari sana, Blake juga tiba-tiba sering berhadapan dengan halusinasi dari masa lalunya ketika ia masih berada di tingkat sekolah awal.

Sementara di sisi lain, Blake juga berhadapan dengan sebuah halusinasi dari masa lalu yang terus muncul begitu ia berhadapan dengan saat-saat genting. Haluninasi ini membawanya ketika ia masih mudah dan mengenyam sekolah awal. Lorong sekolah sepi dengan kelas penuh bangku kosong jadi tema utama. Di dalamnya, Blake selalu bertemu dengan seorang anak perempuan yang sempat menjadi temannya dan Lynn – Jessica. Sebuah nama yang sudah lama ia dengar ataupun ingat sama sekali. Sama seperti yang harus ia rasakan di dunia nyata, horror juga menjadi bagian tak terpisahkan dari halusinasinya ini.

Outlast-2-jagatplay-89-1-600x338
Mampukah Blake menyelamatkan Lynn? Tantangan seperti apa pula yang harus ia hadapi?

Lantas, mampukah Blake menyelamatkan Lynn dan selamat dari mimpi buruk ini? Bagaimana pula cerita seri kedua ini berkaitan dengan seri pertamanya? Siapa pula Jessica? Semua jawaban dari pertanyaan tersebut bisa Anda jawab dengan memainkan Outlast 2 ini.

 

Unreal Engine 3 yang Masih Memesona!

Outlast-2-jagatplay-2-1-600x338
Powered by Unreal Engine 3..

Ketika berbicara soal game-game rilis terbaru yang kini terlihat kian realistis, maka sebagian besar dari kita mungkin akan langsung mengasosiasikannya dengan implementasi engine versi teranyar yang lebih modern. Sebagai contoh? Deus Ex punya Dawn Engine, Square Enix punya Luminous, Horizon Zero Dawn punya DECIMA, dan banyak game rilis AAA yang juga mengandalkan engine third party seperti Unreal Engine 4. Namun percaya atau tidak, terlepas dari kualitas visualisasi yang memesona, Outlast 2 masih dibangun dengan pondasi engine generasi sebelumnya – Unreal Engine 3 yang dirombak besar-besaran. Dibandingkan dengan seri sebelumnya, peningkatan visual di Outlast 2 memang terhitung signifikan.

Bahkan di beberapa titik permainan, terutama dalam ruangan dan scene halusinasi Blake yang membawanya ke setting sekolah berhasil hadir dengan detail foto-realistis yang memesona. Tanpa mengetahuinya sebagai bagian dari video game, Anda bisa saja mengambil screenshot dan mengecoh orang awam dengan menyebutnya sebagai objek yang memang Anda “tangkap” di dunia nyata. Kualitas lighting yang ditawarkan mengingat event yang Anda lalui sebagian besar terjadi di malam hari juga pantas untuk diacungi jempol. Untuk menghadirkan kesan yang lebih sinematik, Red Barrels juga menyuntikkan efek grain yang lebih kentara, terutama ketika Anda menggunakan kamera video Anda yang tetap jadi identitas utama di Outlast 2 ini.

Outlast-2-jagatplay-3-1-600x338.jpg
Red Barrels berhasil “memodifikasi” engine lawas ini dengan kualitas foto-realistis, terutama di adegan dalam ruangan.
Outlast-2-jagatplay-64-600x338.jpg
Ia masih menawarkan atmosfer yang tetap efektif untuk membuat bulu kuduk Anda merinding.

Lantas, mampukah mereka menawarkan atmosfer setepat Outlast pertama di masa lalu? Untuk sebuah seri yang menitikberatkkan tema pada aspek religi yang sesat dengan ragam simbol di atasnya, Anda seperti dibawa masuk ke dalam film horror klasik era tahun 80/90-an yang dipenuhi dengan konsep serupa. Namun di Outlast 2, mereka berusaha mendefinisikan “ketakutan” ini dengan lebih menawarkan lebih banyak adegan penuh darah, potongan tubuh, dan kematian di atasnya. Anda akan melihat banyak mayat dengan wujud yang tak sempurna lagi, bersandingan dengan tempat pemotongan hewan yang penuh genangan darah dan terasa akan punya bau busuk yang menyeruak. Mereka juga masih menyertakan scene-scene yang akan membuat Anda merasa tidak nyaman.

Outlast-2-jagatplay-115-1-600x338.jpg
Imagine the smell..
Outlast-2-jagatplay-108-1-600x338.jpg
Lebih menitikberatkkan diri pada atmosfer, Red Barrels juga meminimalisir cara “murahan” Jump-Scare di Outlast 2 ini.

Satu yang menarik dari Outlast 2 adalah usaha yang jelas dari Red Barrels untuk tidak lagi sekedar mengandalkan “Jump scare” murahan layaknya seri pertama untuk menciptakan atmosfer horror yang kentara. Bahwa seperti game-game horror modern yang solid belakangan ini, mereka ingin memastikan perasaan tegang dan menakutkan tersebut kini lebih difokuskan untuk muncul dari setting yang mereka racik atau desain “monster” yang mereka tawarkan. Menurut kami pribadi, ini adalah sebuah arah yang solid, walaupun mungkin banyak gamer di luar sana yang mungkin berujung tak berbagi sentimen yang sama.

Outlast-2-jagatplay-143-600x338
Ia berhasil menawarkan presentasi yang memuaskan untuk sebuah game yang menyandang nama “Outlast” di atasnya.

Untuk masalah presentasi, Outlast 2 bisa dibilang mengagumkan. Mereka berhasil meracik Unreal Engine 3 dengan begitu fantastisnya, hingga ia bisa terlihat sejajar dengan game-game rilis terbaru sekalipun. Sebuah game yang dengan mudahnya, akan membuat jantung Anda berdetak cepat sembari menahan napas untuk menikmati tiap momen yang ia tawarkan.

Tak Lebih Baik!

Outlast-2-jagatplay-69-600x338
Outlast 2 hadir dengan formula serupa dengan seri pertamanya. Video kamera dengan kemampuan Night-Vision dengan baterai sebagai resource yang butuh dicari tetap dipertahankan di sini.

Sayangnya, dari sisi gameplay, kami tak bisa menyebut Outlast 2 lebih baik daripada Outlast pertama. Ia masih menawarkan formula serupa yang sama dengan seri pertamanya, sebenarnya. Anda tetap berperan sebagai karakter utama yang  tidak mampu melawan dan hanya bisa berlari untuk mencapai area selanjutnya dan menempuh progress cerita. Terkadang, di satu titik permainan, Anda akan dituntut untuk mencari dan menemukan item tertentu dan melakukan aktivitas spesifik sebelum bisa melanjutkannya. Untuk Anda yang sudah sempat mencicipi Outlast pertama ataupun game horror lain yang tak memungkinkan Anda untuk banyak melawan, maka Anda sepertinya sudah bisa mengerti soal apa yang ditawarkan Red Barrels di Outlast 2 ini.

Masih bersenjatakan video kamera yang berfungsi sebagai teropong jarak jauh, “senter”, dan juga alat perekam momen untuk membantu Anda mendapatkan gambaran lebih jelas soal apa yang terjadi di neraka yang satu ini, Outlast 2 mendasarkan diri pada formula yang familiar. Perbedaan yang paling signifikan terletak pada dua hal: tema dan luas setting yang menjadi arena permainan Anda. Untuk masalah tema, Anda tentu sudah mengetahui perbedaan keduanya. Sementara untuk sisi luas setting permainan? Outlast 2 memang didesain dengan lebih banyak menawarkan dunia yang terbuka dibandingkan seri pertamanya. Bahwa alih-alih berhadapan dengan ruangan demi ruangan, koridor demi koridor, Anda kini punya dunia lebih besar dengan beberapa alternatif jalan dan ruang yang bisa Anda eksplorasi. Sayangnya, hal ini justru berujung menjadi bumerang tersendiri.

Outlast-2-jagatplay-173-600x338.jpg
Berbeda dengan seri pertama yang tertutup. desain dunia Outlast 2 memang lebih terbuka dan luas.
Outlast-2-jagatplay-167-1-600x338.jpg
Outlast 1 = petak umpet, Outlast 2 = kejar-kejaran. That’s it..

Salah satu cara untuk menyederhanakan dan membedakan pengalaman yang ditawarkan oleh Outlast pertama dan kedua ini adalah dengan mengasosiasikannya dengan permainan anak-anak. Outlast pertama lebih kental dengan permainan petak umpet, dimana Anda harus bersembunyi dengan sebaik mungkin untuk “selamat”. Terkadang jika situasi aman, Anda  bisa menempuh objektif utama yang dibutuhkan. Sementara di Outlast 2, luasnya dunia yang ia tawarkan justru membuatnya tercabut dari akar tersebut. Outlast 2 justru lebih rasional untuk diasosiasikan dengan permainan kejar-kejaran, karena memang itulah aktivitas utama yang harus sering Anda lakukan. Anda akan menuju ke satu tempat baru, melihat ancaman seperti apa yang ada, dan kemudian berlari, berlari, berlari, dan berlari sembari mencari tahu kemana seharusnya Anda melangkah. Salah langkah dan mati? Silakan lakukan hal yang sama lagi.

Dengan tanpa peta yang jelas, percaya atau tidak, belari – salah langkah – mati – mengulang – belari – menemukan tempat yang tepat – progress cerita akan jadi sekuens yang secara rutin Anda ulang di Outlast 2 ini. Desain dunia yang luas seperti ini membuat perasaan terancam tidak sekentara di seri pertama. Otak dan tubuh Anda pelan tapi pasti akan mulai belajar bahwa memang Anda selalu punya opsi untuk berlari dari bentuk ancaman seperti apapun yang mungkin terjadi. Sementara di sisi lain, ia juga membuka “kelemahan” desain AI dari Red Barrels itu sendiri. Untuk memastikan bahwa gamer tetap merasa terancam dan tidak menyelesaikan game ini terlalu cepat karena opsi untuk terus berlari tersebut, mereka membuat AI para pengejar, terutama “monster” mengancam seperti Martha tak seimbang. Seperti seorang Predator dengan sensor panas, Martha terkadang bisa menangkap Anda yang sudah tersembunyi dengan sangat baik tanpa alasan yang jelas. Padahal Anda tidak mengeluarkan suara, tidak pula menyalakan sumber cahaya, dan sejenisnya. Untuk alasan yang jelas, Anda akan menemukan kondisi dimana Martha tiba-tiba, tahu dimana posisi sembunyi Anda secara misterius.

Outlast-2-jagatplay-16-600x338
Untuk membuat konsep open-world ini tak terlalu mudah untuk diselesaikan, Red Barrels justru memilih solusi dengan membangun AI monster pengejar yang terasa tak rasional.
Outlast-2-jagatplay-161-600x338
Anda akan lebih banyak belari di game ini, daripada bersembunyi.

Outlast 2 memang berusaha “menebus” konsep open-world ini dengan menawarkan dunia halusinasi Blake yang lebih tertutup, konsep yang serupa dengan Outlast pertama. Dimana Anda akan lebih banyak bermain dari satu koridor ke koridor lainnya. Namun sayangnya, konsep ini juga bertabrakan dengan desain monster yang menghantuinya itu sendiri. Sama seperti yang kami sebutkan di atas, Outlast 2 juga tetap meminta Anda untuk lebih sering berlari dari sumber ancaman di dunia halusinasi ini, daripada bersembunyi dan menunggunya lewat begitu saja. Kombinasi keduanya benar-benar membuat game ini lebih membuat Anda sering berlari daripada bersembunyi. Kami bahkan yakin bahwa kami berhasil meyelesaikan game ini di tingkat kesulitan normal dengan tak lebih dari 10 kali bersembunyi di ragam tempat.

Outlast-2-jagatplay-44-1-600x338.jpg
Hilangnya perasaan “terjebak” dari seri pertamanya, membuat Outlast 2 tak lebih menyeramkan.

Satu hal yang membuat Outlast pertama begitu menyeramkan adalah situasi dimana Anda merasa terjebak di dalam sebuah tempat yang secara konsisten berusaha mencabut nyawa Anda, dimanapun dan kapapun. Sementara di Outlast 2, perasaan “terjebak” ini sayangnya, tidak menjadi emosi yang dominan di sesi permainan yang Anda jejali. Karena pada dasarnya, dunia terbuka yang ia tawarkan pada akhirnya menawarkan satu tantangan lebih jelas – mencari tahu kemana jalan selanjutnya, alih-alih soal bertahan hidup. Jujur saja, kami jauh lebih menyukai dunia halusinasi sekolah milik Blake daripada plot utama terkait sekte sesat yang ditawarkan Outlast 2 karenanya.

Mari Bicara Soal Senjata

Outlast-2-jagatplay-17-1-600x338.jpg
Haruskah game horror “memaksakan” bahwa karakter utama mereka tak bersenjata?

Ada satu plot diskusi menarik yang kami temukan di situs komunitas – Reddit ketika berselancar di dunia maya beberapa waktu lalu. Game horror memang terlihat menemukan format optimalnya lewat desain karakter utama yang tidak bisa melawan. Namun apakah ini berarti bahwa ini adalah sebuah “keharusan”, apalagi jika ia justru mulai menabrak batas-batas cerita yang justru membuatnya tak terasa rasional. Popularitas Amnesia atau Slenderman, atau bahkan Outlast pertama memang membuat banyak developer bersikukuh, namun di sisi lain, Capcom berhasil membuktikan bahwa perasaan menyeramkan tersebut tidak selalu hadir karena “absennya senjata”, selama mereka berhasil meracik atmosfer atau desain musuh yang tepat. Ini tentu adalah diskusi “panas” yang menarik.

Frictional Games – developer di balik Amnesia dan SOMA menyebut bahwa setidaknya ada 6 alasan mengapa banyak game horror meracik karakter protagonis yang tidak dapat melawan: (1) untuk membentuk karakteristik karakter yang sesuai (2) membuat monster terasa lebih mengancam (3) membuat imajinasi gamer lebih aktif untuk memecahkan masalah (4) menciptakan rasa paranoid (5) membuat objek / musuh di dalam game terasa lebih bermakna dan (6) memastikan tidak membuat sisi aksi jadi solusi. Apa yang diungkapkan oleh Frictional Games ini tentu saja sesuatu yang rasional dan memang ditawarkan oleh Outlast 2 dari Red Barrels. Lantas, mengapa diskusi ini muncul?

Karena setting Outlast 2 membuat si karakter utama sebenarnya berhadapan dengan banyak objek yang bisa ia gunakan untuk mempertahankan diri. Di sepanjang perjalanan, ia bertemu dengan banyak alat pertanian yang terbuat dari besi, dari sekedar pitchfork, cangkul, hingga parang sekalipun yang tergeletak begitu saja. Secara rasional, manusia manapun secara instingtif akan mengambil “senjata” ini sebagai alat pertahanan diri jika berada di situasi yang benar-benar mengancam. Terlepas apakah ia akan menggunakannya atau tidak, ini adalah reaksi yang seharusnya “normal”. Tetapi di Outlast 2, Blake justru mengabaikan semua potensi benda yang mungkin menyelamatkan dirinya tersebut dan lebih berfokus pada satu hal – video kamera yang terus ia tenteng dan kehilangan relevansinya seiring dengan progress cerita. Hal inilah yang memicu diskusi panas soal apakah memang game horror harus tak bisa melawan?

Outlast-2-jagatplay-59-600x338.jpg
Secara rasional, sudah menjadi insting manusia untuk mempersenjatai diri ketika ada sumber ancaman. Blake punya banyak kesempatan untuk melakukan hal itu.
Outlast-2-jagatplay-84-1-600x338.jpg
Keengganan Blake untuk mempersenjatai diri justru membuat karakternya terasa absurd.

Sebagai gamer yang tak terlalu menyukai format karakter protagonis yang tidak bisa melawan, kami selalu dengan tangan terbuka menyambut implementasi senjata apapun tanpa mengubah game horror tersebut menjad game action. Red Barrels sebenarnya punya segudang opsi untuk membuatnya rasional, tetapi tetap tidak membuat Outlast 2 berubah jadi game yang berbeda.

Mereka bisa membuat senjata yang diambil Blake tidak didesain untuk membunuh, misalnya, tetapi juga membuat musuh dalam posisi “stun” selama beberapa detik, misalnya. Ini tidak akan membuat elemen ketegangan berkurang,  tetapi rasional di saat yang sama. Atau seperti sistem yang dilakukan Nintendo di Breath of the Wild, mereka bisa membuat tiap senjata ini punya limitasi jumlah penggunaan, namun tetap dengan damage super kecil di musuh manapun yang hendak mereka serang. Seperti halnya yang dilakukan Creative Assembly di Alien: Isolation, flamethrower yang digunakan Ripley lebih difokuskan untuk membuat si sumber ancaman menghindar untuk beberapa waktu dan bukan membunuh. Sesuatu yang juga sepantasnya dipertimbangkan oleh Outlast 2, untuk setidaknya tak membuatnya berujung jadi game “sederhana” yang berujung mengandalkan hanya, sembunyi dan lari.

Bagaimana menurut Anda sendiri?

Kesimpulan

Outlast-2-jagatplay-216-1-600x338.jpg
Outlast 2 harus diakui tetap sebuah game horror yang solid namun sayangnya, tak bisa disebut fantastis.

Outlast 2 adalah sebuah game horror yang bisa disebut, memenuhi apa yang Anda harapkan darinya. Walaupun harus diakui ia tidak semenyeramkan dan sebaik kualitas seri pertamanya, tetapi Red Barrels tetap pantas untuk mendapatkan acungan jempol terkait ragam hal baru yang berusaha ia jajal dengannya. Mereka tetap berhasil membangun dengan atmosfer yang luar biasa, lengkap dengan bukti tindak kekerasan brutal yang eksplisit serta beragam scene yang akan membuat Anda mengernyitkan dahi dan bahkan, memalingkan wajah dari layar kaca untuk beberapa waktu. Dunia yang luas dan kualitas visualisasi yang fantastis juga membuat game ini tampil sebagai game horror yang akan membawa Anda pada konsep film horror era 80/90-an yang berkaitan dengan sekte agama sesat, namun kini dalam format yang lebih interaktif. Sementara dari sisi gameplay, Anda yang sudah mencicipi atau sekedar mengetahui apa itu Outlast akan mendapatkan apa yang Anda bayangkan. Apalagi, ia juga sepertinya membangun benang merah dengan seri sebelumnya dengan cara yang jenius.

Walaupun demikian, harus diakui, Outlast 2 bukanlah game yang sempurna. Konsep dunia lebih luas yang ia tawarkan justru berujung jadi pedang bermata dua. Bahwa tak seperti seri pertama yang menguatkan kata kunci “terperangkap” sebagai bagian dari pengalaman, seri kedua ini justru akan membuat Anda melewati lebih banyak proses trial dan error untuk sekedar mencari jalan menuju ke tempat selanjutnya, yang biasanya dihiasi dengan kegiatan berlari, belari, belari, dan lebih banyak berlari. Hingga cukup untuk membuat sesi halusinasi Blake justru terasa lebih mencekam.

Namun terlepas dari kekurangan tersebut, Outlast 2 harus diakui tetap sebuah game horror yang solid namun sayangnya, tak bisa disebut fantastis. Tetapi perlu diingat, dengan harga jual yang ia tawarkan, setidaknya untuk versi PC, Outlast 2 akan menawarkan apa yang dibutuhkan, diinginkan, dan diimpikan oleh gamer pecinta genre horror.

Kelebihan

Outlast-2-jagatplay-190-600x338.jpg
It’s raining blood..
  • Kualitas visualisasi memesona
  • Sesi gameplay halusinasi Blake yang super duper menyeramkan
  • Benang merah cerita dengan seri sebelumnya yang “misterius”
  • Gore eksplisit, tanpa sensor
  • Desain karakter yang fantastis
  • Atmosfer yang tetap cukup untuk membuat bulu kuduk Anda merinding

Kekurangan

Outlast-2-jagatplay-222-600x338.jpg
Ketika berlari secepat mungkin menyelesaikan semua masalah.
  • Bukan lagi game “petak-umpet” dan lebih banyak berlari
  • Minim puzzle
  • AI bisa mengetahui posisi Anda tanpa alasan jelas
  • Plot cukup membingungkan

Cocok untuk gamer: pencinta Outlast pertama, pencinta game horror klasik yang punya tema sekte sesat di dalamnya

Tidak cocok untuk gamer: yang tidak senang dengan game horror tanpa mampu melawan, potensi sakit jantung

Repost: https://jagatplay.com/2017/05/pc-2/review-outlast-2-tidak-lebih-baik/

Review Outlast: Satu Kata – Mengerikan!

logo-600x337

Plot

Outlast-3
Takdir terburuklah yang akhir mendorong seorang jurnalis – Miles Upshur untuk mengunjungi instalasi rumah sakit jiwa di pengunungan terdalam Colorado ini.

Rasa penasaran terkadang membunuh, ini mungkin kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan apa yang akan terjadi bagi mereka yang berani mendekati Mount Massive Asylum – sebuah rumah sakit jiwa yang terletak di pegunungan sunyi Colorado. Sayangnya, kalimat sama yang juga akan mewakili nasib buruk seorang jurnalis bernama Miles Upshur yang kebetulan juga merupakan karakter utama yang akan kita gunakan. Rasa penasaran dan idealismenya sebagai sang pencari fakta akhirnya membawa Upshur ke dalam mimpi buruk terkejinya.

Outlast-7
Curiga dengan aksi Murkroff Corporation yang menghidupkan kembali rumah sakit jiwa ini, Upshur berusaha mencari kebenaran motif di balik Mount Massive Asylum.
Outlast-8
Namun apa yang ia temukan? Darah, mayat, dan kematian di mana-mana.
Outlast-15.jpg
Para pasien juga memperlihatkan tingkah laku absurd dan cenderung jauh lebih agresif, tak ubahnya binatang.
Outlast-42.jpg
Tidak hanya tingkah laku, fisik mereka juga berubah menjadi sesuatu yang belum pernah dilihat Upshur sebelumnya.
Outlast-49.jpg
Apa yang sebenarnya terjadi di dalam Asylum ini?

Bukan uji nyali, Upshur hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang wartawan yang berdedikasi tinggi. Rasa penasaran akan motif di balik “kehidupan kembali” Mount Massive Asylum di bawah kepimpinan perusahaan multinasional – Murkoff Corporation akhirnya membawanya masuk ke dalam pusaran misteri yang berpotensi membuatnya tinggal nama. Keanehan sudah terlihat jelas sejak pertama kali ia memasuki dunia “aneh” Asylum yang satu ini. Tidak hanya menemukan mayat yang bergelimpangan di sana-sini, Upshur juga menemukan tingkah laku aneh para pasien yang sempat dirawat di rumah sakit jiwa ini. Mereka memperlihatkan agresivitas tanpa kendali, brutal, dengan beberapa kasus yang bahkan memperlihatkan transformasi secara fisik. Misi untuk mencari tahu kini berakhir pada satu tujuan utama – bertahan hidup dan lari dari rumah sakit ini.

Apa yang sebenarnya terjadi dengan Mount Massive Asylum ini? Apa yang membuat para pasien rumah sakit jiwa ini kian agresif dan brutal? Rahasia seperti apa yang sebenarya disuntikkan Murkoff Corporation di dalamnya? Semua jawaban dari pertanyaan ini tentu bisa Anda dapatkan dengan memainkan Outlast ini.

Run, Upshur, RUN!

Outlast-21.jpg
Sebagai jurnalis yang tidak tahu cara membela diri dan menggunakan senjata, Upshur hanya punya satu “senjata” – sebuah camcorder.

Apa yang membuat Anda selalu merasa nyaman ketika memainkan sebuah video game? Jawabanya tentu saja satu – ilusi bahwa Anda memegang kendali permainan secara penuh, terlepas dari seberapa sulit, menyeramkan, atau bahkan tidak masuk akalnya sebuah game. Anda yang mengendalikan, Anda yang menentukan, Anda juga bertanggung jawab penuh terhadap aksi dan konsekuensi yang mungkin terjadi. Lantas apa yang terjadi jika ilusi krusial yang satu ini dicabut begitu saja? Maka ada perasaan cemas dan ketidaknyamanan yang secara konsisten hadir, dimana semua elemen permainan menjadi variabel yang sulit untuk diprediksi, atau lebih parahnya lagi, tidak mungkin untuk ditaklukkan begitu saja. Di area inilah, Outlast memainkan pesonanya.

Pena adalah pedang bagi seorang jurnalis, namun sayangnya tidak akan berguna banyak ketika Anda terkurung bersama dengan puluhan orang gila yang tidak lagi memiliki pertimbangan moral, rasa bersalah, dan konsep benar-salah. Kebenaran tampaknya tidak lagi terlalu penting ketika Anda terjebak bersama ancaman yang terobsesi untuk mencabik-cabik tubuh Anda menjadi potongan kecil atau sekedar mendaratkan kepala Anda jauh ke seberang ruangan. Namun entah apa yang merasuki pikiran Upshur, karena yang ia pentingkan saat ini bukanlah belajar bagaimana cara yang tepat untuk menggunakan senjata api untuk bertahan hidup, namun mencari bukti kuat keterlibatan Murkoff Corporation dalam tragedi ini. Oleh karena itu, ia bertahan dengan hanya satu senjata – sebuah camcorder.

Fakta bahwa ia adalah seorang jurnalis yang tidak memiliki kemampuan fisik memesona atau kemampuan menguasai senjata api menjadi pondasi bagaimana Outlast secara konsisten memacu adrenalin Anda. Anda tidak bisa melawan balik ancaman yang hadir. Hanya ada dua opsi yang bisa Anda tempuh untuk menyelamatkan diri:  bersembunyi dan berlari sekencang mungkin untuk mencari tempat yang lebih aman. Ancaman biasanya akan datang mengintai secara perlahan, namun tidak jarang pula muncul secara tiba-tiba dan menuntut Anda untuk terlibat dalam sebuah QTE sederhana dan melepaskan diri. Opsi terbaik sejauh ini? Setiap kali Anda mendengar atau melihat pergerakan apapun yang berada di depan mata, menjadi tindakan yang bijaksana untuk mengambil langkah seribu.

Outlast-33
Hanya ada dua opsi paling rasional ketika Anda bertemu dengan setiap ancaman di Outlast: lari atau sembunyi.
Outlast-66.jpg
Shhhhhhhh…

Selain berlari, Anda juga bisa bersembunyi dalam locker atau di bagian bawah tempat tidur jika memang dimungkinkan. Namun dalam posisi dikejar, bersembunyi bukanlah opsi yang tepat mengingat mereka cukup cerdas untuk mengenali jejak Anda dan mencari tahu dimana tempat Anda bersembunyi. Melihat pergerakan musuh di balik tempat persembunyian, Anda harus mengandalkan perubahan musik dan detak jantung untuk mengetahui apakah sudah cukup aman untuk keluar dan kembali menjalankan misi utama Anda. Namun tentu saja tetap berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menghasilkan suara yang dapat menarik perhatian.

Sebagai seorang jurnalis, camcorder menjadi perpanjangan tangan dan mata Upshur untuk lebih menguasai medan, dan tentu saja meninggikan probabilitas untuk bertahan hidup. Dengan menggunakan klik kanan, Anda bisa masuk ke dalam mode kamera, tidak hanya untuk merekam beberapa peristiwa penting, tetapi juga melakukan zoom in dan out untuk melihat potensi ancaman di depan mata. Alasan terkuat mengapa Anda harus memaksimalkan “senjata” ini?  Karena camcorder merupakan satu-satunya mata Anda di dalam kegelapan. Menekan tombol “F” dan mengaktifkan mode infra merah, Anda bisa melihat lebih jelas di daerah tanpa penerangan sama sekali. Sayangnya, mode ini akan menghabiskan baterai Anda yang tentu saja krusial ketika Anda berada dalam situasi yang genting. Oleh karena itu, mengatur penggunaan baterai dan mengumpulkan sumber daya ini menjadi side mission yang tidak bisa dipandang sebelah mata.

Outlast-30.jpg
Run for your life, Upshur. RUN!
Outlast-9.jpg
Kamera infra merah memang menjadi mata terbaik Anda untuk melihat ke dalam kegelapan. Sayangnya, ia mengkonsumsi baterai secara signifikan.
Outlast-38.jpg
Cilukba!
Outlast-54.jpg
Sayangnya ada beberapa mekanisme yang membuat pengalaman ini sedikit ternodai – fakta bahwa Anda masih bisa bertahan hidup dan lari ketika bersinggungan dengan makhluk-makhluk ini.

Sayangnya ada satu mekanisme yang membuat adrenalin Anda akan sedikit melambat, terlepas dari atmosfer ketakutan yang mungkin tercermin kuat di sepanjang permainan. Benar sekali, kita membicarakan AI dari musuhnya sendiri. Dengan desain yang serupa satu sama lain, hampir tidak ada variasi serangan atau identitas unik yang membuat Anda harus menempuh strategi yang berbeda satu sama lain ketika berhadapan dengan setiap dari mereka. Kekurangan lain? Bahwa Anda ternyata masih punya kesempatan untuk bertahan hidup cukup lama walaupun sudah diserang secara frontal oleh mereka. Tidak seperti game serupa sekelas Slender atau Amnesia yang akan menewaskan Anda ketika bersentuhan fisik dengan ancaman yang ada, Anda masih bisa berlari menyelamatkan diri di Outlast. Hasilnya? Ketika Anda sudah mempelajari mekanik ini, ada perasaan sedikit lebih tenang ketika berhadapan dengan mereka.

Atmosfer yang Luar Biasa

Outlast-19.jpg
Apa yang membuat Outlast terasa begitu menyeramkan? Kelengkapan elemen yang terhitung berhasil membangun atmosfer yang misterius, menegangkan, dan tentu saja – mengerikan!

Ada beberapa aspek yang membuat formula yang diusung Red Barrels tampil begitu gemilang di Outlast, salah satunya adalah kemampuan mereka untuk menyuntikkan atmosfer yang begitu tepat dan menggugah bagi gamer manapun yang memainkannya. Secara kasat mata, optimalisasi engine lawas – Unreal Engine 3 yang digunakan benar-benar menghasilkan visualisasi yang mumpuni, bahkan menjadikannya sebagai salah satu game horror dengan kualitas grafis terbaik sejauh ini. Kemampuan engine ini juga kian optimal lewat kehadiran sensor infra merah yang terlihat realistis dan menghasilkan pesona sinematik yang membuat Anda seolah terjebak dalam sebuah film thriller Hollywood berbudget tinggi. Menegangkan secara konstan, ia akan menebarkan ketakutan ekstra. Desain setting penuh darah dan animasi karakter AI juga memperkuat kesan ini.

Namun dari semua elemen yang ditawarkan Outlast, audio adalah senjata paling utama untuk memunculkan rasa cemas dan takut tersebut. Red Barrels pantas mendapatkan acungan jempol karena kemampuan mereka menghasilkan kualitas audio yang luar biasa menggugah. Hening di saat yang tepat, dan alunan musik khas horror yang perlahan naik ketika Anda berada dalam suasana tegang benar-benar membuat keringat dingin Anda mengucur deras. Lebih parahnya lagi, Anda juga akan mendapatkan ilusi seolah tengah berada di posisi sang karakter utama lewat sinkronisasi detak jantung yang terdengar jelas setiap saat. Nafas dan suara jantung ini seolah memerintah tubuh Anda untuk berada dalam kondisi yang sama.

Outlast-25.jpg
Ancaman konstan yang terus hadir tanpa bisa dinetralisir sama sekali, dipadukan dengan audio yang begitu “hidup” = mimpi buruk.
Outlast-14.jpg
Sayangnya, begitu banyak event yang membuat Anda melompat terkejut terkikis di jam-jam akhir permainan.

Entah menjadi berita baik atau buruk, atmosfer ini sendiri tidak akan bertahan hingga akhir permainan. Apa pasal? Anda akan mulai merasakan ancaman yang berkurang setelah melewati beberapa fase mengejutkan yang mungkin sudah mencuri keberanian Anda di awal permainan. Ketika ada begitu banyak event jump-scare di satu jam awal permainan, Outlast seolah kehilangan identitasnya di beberapa jam permainan setelah event awal ini. Hal ini kian diperparah ketika Anda sudah mulai mengetahui fakta bahwa Anda masih tetap bisa bertahan hidup walaupun sudah bersinggungan secara langsung dengan ancaman-ancaman ini.

Walaupun demikian, menikmati Outlast dengan perangkat headset terbaik Anda, di dalam kamar yang gelap dan sunyi akan cukup untuk membuat Anda setidaknya, berteriak puas di beberapa event yang akan membuat Anda panik, atau mungkin membuat Anda terkencing di celana dan meminta izin orang tua untuk tidur bersama di malam yang sama. It’s scary for sure..

Kesimpulan

Outlast-32.jpg
Outlast berhasil membuktikan diri sebagai salah satu game horror yang mampu menghadirkan ketakutan, kecemasan, dan adrenalin secara konsisten lewat visualisasi, audio, dan mekanik gameplay yang mumpuni. Kualitas yang cukup untuk membuat kami menyalakan lampu, melepaskan headset dan akhirnya memilih menggunakan speaker dengan volume kecil, dan meningkatkan brightness dan contrast maximum di setting dan televisi. Pengecut? Mungkin, tapi juga Anda harus membuktikan diri Anda cukup berani untuk memainkannya di atmosfer yang paling tepat. Mengerikan!

Sebuah tren yang tampaknya akan terus berlanjut di masa depan, ketakutan dan kecemasan yang muncul dari ketidakberdayaan Anda untuk berhadapan langsung dengan setiap ancaman yang ada adalah formula game horror yang tepat. Amnesia menjadi awal tren dan Outlast menyempurnakan sensasi tersebut. Fakta bahwa Anda hanya bisa berlari dan bersembunyi akan membuat perasaan was-was terus hadir sepanjang permainan dan anehnya, tidak bisa dinetralisir dengan cara apapun. Visualisasi yang mumpuni dengan keberhasilan menghasilkan kualitas audio yang mumpuni membuat Outlast tampil sebagai salah satu game horror terbaik di industri game saat ini. Ide untuk menyematkan kamera infra merah dan menjadikannya sebagai elemen gameplay yang krusial juga pantas untuk diacungi jempol.

Walaupun demikian ada beberapa catatan menarik yang pantas untuk ditarik dari Outlast ini. Pertama adalah ancaman yang terasa monoton. Terlepas dari beragam bentuk pasien yang Anda temui, mereka mengancam Anda hanya dengan satu cara saja – berlari mengejar dan berusaha menyudutkan Anda. Tidak ada ekstra strategi yang harus Anda tempuh untuk lari dari sumber ketakutan ini. Mencari loker dan kolong tempat tidur masih menjadi opsi terbaik. Fakta bahwa Outlast tidak secara konsisten menyuntikkan elemen jump scare di jam-jam terakhir permainan juga menjadi kelemahan tersendiri.

Namun terlepas dari semua kekurangan tersebut, Outlast berhasil membuktikan diri sebagai salah satu game horror yang mampu menghadirkan ketakutan, kecemasan, dan adrenalin secara konsisten lewat visualisasi, audio, dan mekanik gameplay yang mumpuni. Kualitas yang cukup untuk membuat kami menyalakan lampu, melepaskan headset dan akhirnya memilih menggunakan speaker dengan volume kecil, dan meningkatkan brightness dan contrast maximum di setting dan televisi. Pengecut? Mungkin, tapi juga Anda harus membuktikan diri Anda cukup berani untuk memainkannya di atmosfer yang paling tepat. Mengerikan!

Kelebihan

Outlast-62.jpg
Horror yang tercermin kuat lewat visualisasi dan desain lingkungan yang ada.
  • Visualisasi mumpuni
  • Kualitas audio yang luar biasa
  • Desain setting yang keren
  • Penerapan infra red yang tidak hanya membuat suasana menyeramkan, tetapi sinematik
  • Management penggunaan baterai sebagai ekstra tantangan
  • Mekanik gameplay tanpa kemampuan melawan balik
  • Musik yang akan membuat bulu kuduk Anda merinding

Kekurangan

Outlast-37 (2)
Sayangnya terlepas dari semua varian musuh yang ada, ancaman terasa monoton. Mereka hadir dengan karakteristik yang sama – mengejar dan membunuh Anda dari jarak dekat. Tidak ada perbedaan strategi yang harus ditempuh untuk menanggulangi hal ini.
  • Varian musuh yang monoton,  membuat Anda tidak perlu memikirkan strategi apapun, hanya cukup berlari dan bersembunyi
  • Tidak cukup event jump-scare di jam-jam akhir permainan

Cocok untuk gamer: pencinta game horror tipe Amnesia atau Slenderman

Tidak cocok untuk gamer: pengecut dan benci dengan kegelapan (seperti kami *sigh*)

Repost: https://jagatplay.com/2013/09/pc-2/review-outlast-satu-kata-mengerikan/