
Berawal dari video game, Resident Evil kemudian diangkat menjadi sebuah film yang terbagi menjadi beberapa sekuel. Tak hanya itu saja, film tersebut kemudian juga dibuat live action dan film animasi CGI (Computer Generated Imaginary).

Berawal dari video game, Resident Evil kemudian diangkat menjadi sebuah film yang terbagi menjadi beberapa sekuel. Tak hanya itu saja, film tersebut kemudian juga dibuat live action dan film animasi CGI (Computer Generated Imaginary).

Digarap oleh lebih dari 600 orang developer, Resident Evil 6 menjadi upaya Capcom dalam melebur banyak judul RE menjadi satu paket rapi, demi mengatasi krisis identitas yang sempat dialami di judul-judul sebelumnya. Ini memang terlihat ambisius, namun banyak penggemar yang tidak setuju dengan itu.
Mereka menilai bahwa RE 6 merupakan perusak franchise, dengan fokus terhadap aksi yang berlebihan dan tidak layak. Namun, apakah RE 6 seburuk itu? sesungguhnya tidak. Ada beberapa alasan yang mendasari kenapa RE 6 tidak seburuk yang banyak orang bicarakan. Berikut 7 di antaranya – versi IDN Times.

Salah satu kritik terbesar terhadap RE 6 berasal dari elemen survival-horror yang ditinggalkan dan digantikan oleh elemen aksi berlebihan yang penuh ledakan. Ini mungkin kontroversial dan membuat RE 6 menjauh dari jati diri franchisenya, namun itu tidak begitu buruk.
Meski bukan permainan yang benar-benar hebat, setidaknya RE 6 berusaha untuk tidak ‘stuck’ di ide yang sama. Terlebih secara keseluruhan, tema baru yang dibawa oleh RE 6 juga dipoles dengan cukup baik dan justru membawanya menjadi salah satu judul paling menarik dari keseluruhan franchise.

RE 6 datang dengan empat mode campaign berbeda, yang menawarkan banyak cara unik untuk penyelesaiannya. Ini merupakan langkah luar biasa yang pada masa itu, sangat jarang terjadi terutama pada game-game sekuel. Keempat mode campaign tersebut juga di luar mode multiplayer hebat, yang mana memberikan pemain kesempatan untuk masuk ke mode campaign pemain lain sebagai monster.
RE 6 mungkin secara kualitas tidak begitu baik, namun secara kuantitas berada di atas game lain. Itu patut diapresisasi, terlebih karena mampu memberi pengalaman ekstra yang benar-benar baik.

Ketika mengembangkan RE 6, Capcom menegaskan bahwa mereka ingin agar penggemar merasakan pengalaman yang ada di judul-judul RE sebelumnya, secara bersamaan dalam satu paket lengkap. Capcom berhasil melakukan itu dengan membuat RE 6 layaknya sebuah tambalan bagi judul-judul RE sebelumnya. Dengan tema dan filosofi permainan yang disampaikan lewat mekanisme dan konsep yang lebih brilian.
Luar biasanya lagi, itu semua dilakukan tanpa menghilangkan orisinalitas cerita, lokasi dan musuh yang ada. Sekali lagi, RE 6 berhasil membawa perpaduan yang hebat dan menyenangkan.

Dari keempat mode campaign yang diusung RE 6, mode campaign milik Jake dan Sherry terbilang menjadi yang terbaik, karena benar-benar mendorong kisah franchise untuk maju. Kedua karakter juga menawarkan awal yang baru bagi narasi keseluruhan franchise RE.
Mereka mewakiliki generasi yang baru, protagonis dengan ikatan (yang sebelumnya tidak pernah dilakukan di franchise RE) dan mampu menyampaikan kisah tanpa kehilangan keterkaitan dengan judul-judul sebelumnya. Dengan hadirnya Sherry dan Jake, Capcom memiliki ‘papan tulis kosong’ untuk diisi dengan narasi baru di masa depan.

RE 6 memperkenalkan kualitas combat yang lebih besar ketimbang pendahulunya. Itu dibuat dengan lebih intens dan karakter yang pemain mainkan, memiliki karakteristik yang jauh lebih fleksibel. Kini, pemain diberikan kebebasan ekstra untuk bergerak dari satu posisi ke posisi lain, ketika sedang terlibat pertempuran melawan zombie.
Selain itu, pemain juga dibekali dengan skill quickshot yang super keren, serta kemampuan untuk melakukan ‘pukulan mematikan’ sebagai bagian dari serangan melee. Ada banyak momen untuk beraksi dan itu sangat-sangat mengagumkan.

Mode co-op RE 6 dibangun dengan fokus yang lebih baik dan tidak acak-acakan seperti pendahulunya. Hasilnya, setiap campaign yang dijalankan terasa lebih kuat, dan setiap karakter seakan memiliki alasan untuk tetap bersama dan membangun chemistry untuk itu.
Gameplay-nya sendiri juga dibuat lebih seru untuk dua pemain, dengan adegan pertempuran reguler yang lebih tegang dan lebih banyak monster, serta ketergantungan terhadap dua pemain untuk bekerja sama demi menyelesaikan satu tujuan. Tidak dapat disangkal bahwa mode co-op RE 6 bekerja dengan sangat baik.

RE 6 tidak hanya memperkenalkan monster atau musuh baru yang luar biasa, namun juga tantangan baru yang sebelumnya belum pernah dicapai oleh franchise seru ini. Keberagaman musuh yang ditawarkan terbilang cukup gila, dan tidak hanya terlihat dari model visualnya saja, namun juga dari animasi dan perilaku masing-masing.
Di sepanjang permainan, RE 6 menghantam pemain dengan banyak musuh berbeda di setiap level. Ini mungkin berakhir sebagai masalah kuantitas ketimbang kualitas pada akhirnya, namun itu benar-benar memberikan variasi, yang membuat pertempuran jadi tetap menarik.
Bagaimana dengan kalian? setuju dengan opini diatas? atau mungkin, punya pendapat lain?
Repost: https://www.idntimes.com/tech/games/arifgunawan/kelebihan-resident-evil-6-terbaru/full

Imperfect benar-benar sukses dalam menyajikan permasalahan kompleks tentang body shaming yang hampir dirasakan oleh semua orang. Perpaduan antara drama keluarga dengan jokes-jokes receh serta totalitas pemain dalam mengambil peran berhasil membuat emosi kita naik turun. Selain itu, film ini juga mengingatkan kita bahwa insekuritas dapat dirasakan sekalipun oleh mereka yang kita nilai cantik, ganteng, dan bahkan terkenal.
Setelah sukses dengan Milly & Mamet, Ernest Prakasa kali ini kembali menggarap film akhir tahunnya yang juga nggak kalah booming. Bercerita tentang kehidupan seorang perempuan bernama Rara yang diperankan oleh Jessica Mila, Ernest berhasil memanfaatkan problematik kompleks tentang body shaming yang dirasakan oleh hampir semua orang saat ini.
Seperti film khas Ernest yang lainnya, dirinya selalu menonjolkan masalah yang terjadi antaranggota keluarga. Drama enteng dengan alur yang nggak begitu rumit, membuat film ini mudah dipahami sekalipun oleh para remaja. Meski begitu, film ini tetap akan mendapat beberapa kritik dari ‘pengamat film’ amatiran seperti saya ini. Simak sampai usai, ya!

Terlepas dari rasa kesal saya tentang bagaimana Ernest menunjukkan konflik pertama saat ayah Rara meninggal dengan begitu cepat, runtutan kemunculan masalah yang ada di awal film hingga pertengahan ini patut diacungi jempol. Pasalnya, Ernest nyaris nggak memberikan cool down pada masa-masa tersebut.
Menariknya, meskipun alurnya tampak datar, namun suasana yang ditimbulkan dari gejolak hati Rara ketika dia memunculkan masalahnya satu per satu membuat penonton ikut naik turun emosinya. Menurut saya, Ernest benar-benar sukses mengambil fokus masalah yang dihadirkan. Yakin deh, kalau kalian nonton pasti merasa relate banget sama hal-hal itu.

Seperti film-film Ernest yang sebelumnya, dia selalu khas dengan drama kekeluargaan yang terjadi di sepanjang film. Namun, lagi-lagi bagian yang dapat saya acungi jempol di film ini adalah bagaimana Ernest dapat menunjukkan kontras antara pemain satu dengan yang lainnya. Dengan dia brilian membuat penonton merasa familiar dengan sifat seluruh pemain.
Misalnya, Rara dengan sifat super mindernya yang disandingkan bersama kakak kandungnya yang digambarkan jadi pusat sorotan karena kecantikannya. Pada bagian lainnya, muncul juga Uus sebagai pemuda kampung urakan pengangguran yang susah diatur. Kemudian, ada juga Boy William yang digambarkan sebagai naravlog seperti dalam kehidupan aslinya.

Salah satu effort Jessica Mila yang wajib diberi penghargaan sebesar-besarnya adalah bagaimana totalitas dirinya dalam mengubah penampilan jadi berbeda. Nggak hanya itu, cara dia berkomunikasi dengan lawan mainnya mulai dari tengah film hingga bagian akhir pun sukses mengaduk-aduk emosi saya.
Kemunculan para komika yang berada dalam satu frame menurut saya juga ide yang cemerlang. Penonton diajak menikmati jokes-jokes secara bersamaan tanpa harus loncat dari satu frame ke frame lainnya. Apalagi mereka juga berperan sesuai dengan sifat aslinya dalam kehidupan sehari-hari.
Berbeda dengan Reza Rahadian, meski dalam aktingnya saya beri angka 7 dari total 10, namun bagaimana Ernest menunjukkan dirinya sebagai pemuda kampung kurang relevan. Bagi saya yang memang hidup di kampung, penampilan keseharian Reza lebih cocok dibilang sebagai anak komplek, padahal dia tinggal di sudut perkampungan yang padat penduduk.

Ngomongin tentang keseluruhan pada film ini, saya memberi angka 8,5 dari total 10. Bagaimana cara Ernest ingin menunjukkan pesan benar-benar dikemas dengan menarik dan mudah untuk dipahami. Di bagian akhir film pun kita akan disuguhkan dengan jalan cerita yang sangat ‘Ernest banget’. Ada banyak kutipan-kutipan yang dapat diambil dari film ini.
Ernest pun dengan pandainya menunjukkan siapa sebenarnya pihak terbesar yang ternyata berpotensi untuk membuat kita semua merasa insecure sepanjang hidup kita. Bagian-bagian kecil pun banyak yang digambarkan dengan sebegitu detail. Namun, tetap saja dari ‘pengamat film’ amatiran seperti saya ini, Imperfect tetap masih ada kekurangannya.
Meski begitu, film ini tetap layak untuk ditonton kok. Udah, pokoknya gas sekarang~
Repost: https://www.hipwee.com/hiburan/review-film-imperfect/

Kota Samarinda merupakan ibu kota provinsi Kalimantan Timur, Indonesia serta salah satu kota terbesar di Kalimantan. Samarinda memiliki wilayah seluas 718 km² dengan kondisi geografi daerah berbukit dengan ketinggian bervariasi dari 10 sampai 200 meter dari permukaan laut. Kota Samarinda dibelah oleh Sungai Mahakam dan menjadi gerbang menuju pedalaman Kalimantan Timur melalui jalur sungai, darat maupun udara.
Samarinda yang dikenal sebagai kota seperti saat ini dulunya adalah salah satu wilayah Kesultanan Kutai Kartanegara ing Martadipura. Pada abad ke-13 Masehi (tahun 1201–1300), sebelum dikenalnya nama Samarinda, sudah ada perkampungan penduduk di enam lokasi yaitu Pulau Atas, Karang Asam, Karamumus (Karang Mumus), Luah Bakung (Loa Bakung), Sembuyutan (Sambutan) dan Mangkupelas (Mangkupalas). Penyebutan enam kampung di atas tercantum dalam manuskrip surat Salasilah Raja Kutai Kartanegara yang ditulis oleh Khatib Muhammad Tahir pada 30 Rabiul Awal 1265 H (24 Februari 1849 M).
Pada tahun 1565, terjadi migrasi suku Banjar dari Batang Banyu ke daratan Kalimantan bagian timur. Ketika itu rombongan Banjar dari Amuntai di bawah pimpinan Aria Manau dari Kerajaan Kuripan (Hindu) merintis berdirinya Kerajaan Sadurangas(Pasir Balengkong) di daerah Paser. Selanjutnya suku Banjar juga menyebar di wilayah Kerajaan Kutai Kartanegara, yang di dalamnya meliputi kawasan di daerah yang sekarang disebut Samarinda.
Sejarah bermukimnya suku Banjar di Kalimantan bagian timur pada masa otoritas Kerajaan Banjar juga dinyatakan oleh tim peneliti dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI (1976): “Bermukimnya suku Banjar di daerah ini untuk pertama kali ialah pada waktu kerajaan Kutai Kertanegara tunduk di bawah kekuasaan Kerajaan Banjar.”[6] Inilah yang melatarbelakangi terbentuknya bahasa Banjar sebagai bahasa dominan mayoritas masyarakat Samarinda di kemudian hari, walaupun telah ada beragam suku yang datang, seperti Bugis dan Jawa.
Pada tahun 1730, rombongan Bugis Wajo yang dipimpin La Mohang Daeng Mangkona merantau ke Samarinda. Semula mereka diizinkan Raja Kutai bermukim di muara Karang Mumus, tetapi dengan pertimbangan subjektif bahwa kondisi alamnya kurang baik, mereka memilih lokasi di Samarinda Seberang. Dalam kaitan ini, lokasi di bagian Samarinda Kota sebelum kedatangan Bugis Wajo, sudah terbentuk permukiman penduduk dengan sebagian areal perladangan dan persawahan yang pada umumnya dipusatkan di sepanjang tepi Sungai Karang Mumus dan Karang Asam.
Mengenai asal mula nama Samarinda, tradisi lisan penduduk Samarinda menyebutkan, asal-usul nama Samarendah dilatarbelakangi oleh posisi sama rendahnya permukaan Sungai Mahakam dengan pesisir daratan kota yang membentenginya. Tempo dulu, setiap kali air sungai pasang, kawasan tepian kota selalu tenggelam. Selanjutnya, tepian Mahakam mengalami pengurukan/penimbunan berkali-kali hingga kini bertambah 2 meter dari ketinggian semula.
Oemar Dachlan mengungkapkan, asal kata “sama randah” dari bahasa Banjar karena permukaan tanah yang tetap rendah, tidak bergerak, bukan permukaan sungai yang airnya naik-turun. Ini disebabkan jika patokannya sungai, maka istilahnya adalah “sama tinggi”, bukan “sama rendah”. Sebutan “sama-randah” inilah yang mula-mula disematkan sebagai nama lokasi yang terletak di pinggir sungai Mahakam. Lama-kelamaan nama tersebut berkembang menjadi sebuah lafal yang melodius: “Samarinda”.


Untuk kedua kalinya, Anda akan berperan sebagai seorang jurnalis di franchise Outlast. Di Outlast 2 ini, bersama dengan istri Anda yang setia – Lynn, Anda akan berperan sebagai Blake Langermann. Tugas untuk melakukan proses investigasi menyeluruh terhadap tewasnya seorang wanita hamil secara misterius bernama Jane Doe membawa Anda masuk ke dalam teritori Arizona yang misterius. Namun untuk alasan yang misterius, helikopter yang Anda tumpangi bersama Lynn tiba-tiba mengalami masalah teknis dan terjatuh.
Terbangun dari kondisi tak sadarkan diri selama beberapa waktu, Anda menemukan helikopter yang sempat Anda tumpangi kini berubah menjadi kobaran api raksasa di permukaan tanah. Usaha untuk mencari istri Anda – Lynn di antara reruntuhan tersebut justru menghadapkan Anda pada mimpi yang bahkan lebih buruk. Si pilot yang sebelumnya hidup, kini terikat di atas tiang kayu dengan kulit tubuh yang sudah menghilang darinya. Pelan tapi pasti, Anda mulai mengerti bahwa Anda kini berhadapan dengan situasi yang tak pernah Anda bayangkan sebelumnya. Bahwa kisah untuk mencari Jane Doe ini mulai berubah menjadi kisah untuk bertahan hidup.


Blake terjebak di dalam konflik di antara dua kelompok yang sama gilanya. Di satu sisi, ada sekte sesat pimpinan Sullivan Knoth yang meyakini bahwa anti-Christ (Iblis) akan lahir dari rahim salah satu wanita di sekitar daerah tersebut, dan menjadi misinya lah, untuk memastikan setiap bayi yang lahir dari mereka tewas. Sementara dari sisi lain, tak sedikit yang mulai menyadari “kesalahan” Knoth tersebut dan mulai membangkang, menyebut diri mereka sebagai “The Heretics”. Dipimpin oleh Val, mereka justru ingin Anti-Christ ini hadir dan membawa akhir dunia. Sebuah konsep yang gila memang, namun apa yang ia lihat secara langsung membuat Blake harus percaya, bahwa ia memang tengah terjebak di neraka dunia.



Sementara di sisi lain, Blake juga berhadapan dengan sebuah halusinasi dari masa lalu yang terus muncul begitu ia berhadapan dengan saat-saat genting. Haluninasi ini membawanya ketika ia masih mudah dan mengenyam sekolah awal. Lorong sekolah sepi dengan kelas penuh bangku kosong jadi tema utama. Di dalamnya, Blake selalu bertemu dengan seorang anak perempuan yang sempat menjadi temannya dan Lynn – Jessica. Sebuah nama yang sudah lama ia dengar ataupun ingat sama sekali. Sama seperti yang harus ia rasakan di dunia nyata, horror juga menjadi bagian tak terpisahkan dari halusinasinya ini.

Lantas, mampukah Blake menyelamatkan Lynn dan selamat dari mimpi buruk ini? Bagaimana pula cerita seri kedua ini berkaitan dengan seri pertamanya? Siapa pula Jessica? Semua jawaban dari pertanyaan tersebut bisa Anda jawab dengan memainkan Outlast 2 ini.

Ketika berbicara soal game-game rilis terbaru yang kini terlihat kian realistis, maka sebagian besar dari kita mungkin akan langsung mengasosiasikannya dengan implementasi engine versi teranyar yang lebih modern. Sebagai contoh? Deus Ex punya Dawn Engine, Square Enix punya Luminous, Horizon Zero Dawn punya DECIMA, dan banyak game rilis AAA yang juga mengandalkan engine third party seperti Unreal Engine 4. Namun percaya atau tidak, terlepas dari kualitas visualisasi yang memesona, Outlast 2 masih dibangun dengan pondasi engine generasi sebelumnya – Unreal Engine 3 yang dirombak besar-besaran. Dibandingkan dengan seri sebelumnya, peningkatan visual di Outlast 2 memang terhitung signifikan.
Bahkan di beberapa titik permainan, terutama dalam ruangan dan scene halusinasi Blake yang membawanya ke setting sekolah berhasil hadir dengan detail foto-realistis yang memesona. Tanpa mengetahuinya sebagai bagian dari video game, Anda bisa saja mengambil screenshot dan mengecoh orang awam dengan menyebutnya sebagai objek yang memang Anda “tangkap” di dunia nyata. Kualitas lighting yang ditawarkan mengingat event yang Anda lalui sebagian besar terjadi di malam hari juga pantas untuk diacungi jempol. Untuk menghadirkan kesan yang lebih sinematik, Red Barrels juga menyuntikkan efek grain yang lebih kentara, terutama ketika Anda menggunakan kamera video Anda yang tetap jadi identitas utama di Outlast 2 ini.


Lantas, mampukah mereka menawarkan atmosfer setepat Outlast pertama di masa lalu? Untuk sebuah seri yang menitikberatkkan tema pada aspek religi yang sesat dengan ragam simbol di atasnya, Anda seperti dibawa masuk ke dalam film horror klasik era tahun 80/90-an yang dipenuhi dengan konsep serupa. Namun di Outlast 2, mereka berusaha mendefinisikan “ketakutan” ini dengan lebih menawarkan lebih banyak adegan penuh darah, potongan tubuh, dan kematian di atasnya. Anda akan melihat banyak mayat dengan wujud yang tak sempurna lagi, bersandingan dengan tempat pemotongan hewan yang penuh genangan darah dan terasa akan punya bau busuk yang menyeruak. Mereka juga masih menyertakan scene-scene yang akan membuat Anda merasa tidak nyaman.


Satu yang menarik dari Outlast 2 adalah usaha yang jelas dari Red Barrels untuk tidak lagi sekedar mengandalkan “Jump scare” murahan layaknya seri pertama untuk menciptakan atmosfer horror yang kentara. Bahwa seperti game-game horror modern yang solid belakangan ini, mereka ingin memastikan perasaan tegang dan menakutkan tersebut kini lebih difokuskan untuk muncul dari setting yang mereka racik atau desain “monster” yang mereka tawarkan. Menurut kami pribadi, ini adalah sebuah arah yang solid, walaupun mungkin banyak gamer di luar sana yang mungkin berujung tak berbagi sentimen yang sama.

Untuk masalah presentasi, Outlast 2 bisa dibilang mengagumkan. Mereka berhasil meracik Unreal Engine 3 dengan begitu fantastisnya, hingga ia bisa terlihat sejajar dengan game-game rilis terbaru sekalipun. Sebuah game yang dengan mudahnya, akan membuat jantung Anda berdetak cepat sembari menahan napas untuk menikmati tiap momen yang ia tawarkan.

Sayangnya, dari sisi gameplay, kami tak bisa menyebut Outlast 2 lebih baik daripada Outlast pertama. Ia masih menawarkan formula serupa yang sama dengan seri pertamanya, sebenarnya. Anda tetap berperan sebagai karakter utama yang tidak mampu melawan dan hanya bisa berlari untuk mencapai area selanjutnya dan menempuh progress cerita. Terkadang, di satu titik permainan, Anda akan dituntut untuk mencari dan menemukan item tertentu dan melakukan aktivitas spesifik sebelum bisa melanjutkannya. Untuk Anda yang sudah sempat mencicipi Outlast pertama ataupun game horror lain yang tak memungkinkan Anda untuk banyak melawan, maka Anda sepertinya sudah bisa mengerti soal apa yang ditawarkan Red Barrels di Outlast 2 ini.
Masih bersenjatakan video kamera yang berfungsi sebagai teropong jarak jauh, “senter”, dan juga alat perekam momen untuk membantu Anda mendapatkan gambaran lebih jelas soal apa yang terjadi di neraka yang satu ini, Outlast 2 mendasarkan diri pada formula yang familiar. Perbedaan yang paling signifikan terletak pada dua hal: tema dan luas setting yang menjadi arena permainan Anda. Untuk masalah tema, Anda tentu sudah mengetahui perbedaan keduanya. Sementara untuk sisi luas setting permainan? Outlast 2 memang didesain dengan lebih banyak menawarkan dunia yang terbuka dibandingkan seri pertamanya. Bahwa alih-alih berhadapan dengan ruangan demi ruangan, koridor demi koridor, Anda kini punya dunia lebih besar dengan beberapa alternatif jalan dan ruang yang bisa Anda eksplorasi. Sayangnya, hal ini justru berujung menjadi bumerang tersendiri.


Salah satu cara untuk menyederhanakan dan membedakan pengalaman yang ditawarkan oleh Outlast pertama dan kedua ini adalah dengan mengasosiasikannya dengan permainan anak-anak. Outlast pertama lebih kental dengan permainan petak umpet, dimana Anda harus bersembunyi dengan sebaik mungkin untuk “selamat”. Terkadang jika situasi aman, Anda bisa menempuh objektif utama yang dibutuhkan. Sementara di Outlast 2, luasnya dunia yang ia tawarkan justru membuatnya tercabut dari akar tersebut. Outlast 2 justru lebih rasional untuk diasosiasikan dengan permainan kejar-kejaran, karena memang itulah aktivitas utama yang harus sering Anda lakukan. Anda akan menuju ke satu tempat baru, melihat ancaman seperti apa yang ada, dan kemudian berlari, berlari, berlari, dan berlari sembari mencari tahu kemana seharusnya Anda melangkah. Salah langkah dan mati? Silakan lakukan hal yang sama lagi.
Dengan tanpa peta yang jelas, percaya atau tidak, belari – salah langkah – mati – mengulang – belari – menemukan tempat yang tepat – progress cerita akan jadi sekuens yang secara rutin Anda ulang di Outlast 2 ini. Desain dunia yang luas seperti ini membuat perasaan terancam tidak sekentara di seri pertama. Otak dan tubuh Anda pelan tapi pasti akan mulai belajar bahwa memang Anda selalu punya opsi untuk berlari dari bentuk ancaman seperti apapun yang mungkin terjadi. Sementara di sisi lain, ia juga membuka “kelemahan” desain AI dari Red Barrels itu sendiri. Untuk memastikan bahwa gamer tetap merasa terancam dan tidak menyelesaikan game ini terlalu cepat karena opsi untuk terus berlari tersebut, mereka membuat AI para pengejar, terutama “monster” mengancam seperti Martha tak seimbang. Seperti seorang Predator dengan sensor panas, Martha terkadang bisa menangkap Anda yang sudah tersembunyi dengan sangat baik tanpa alasan yang jelas. Padahal Anda tidak mengeluarkan suara, tidak pula menyalakan sumber cahaya, dan sejenisnya. Untuk alasan yang jelas, Anda akan menemukan kondisi dimana Martha tiba-tiba, tahu dimana posisi sembunyi Anda secara misterius.


Outlast 2 memang berusaha “menebus” konsep open-world ini dengan menawarkan dunia halusinasi Blake yang lebih tertutup, konsep yang serupa dengan Outlast pertama. Dimana Anda akan lebih banyak bermain dari satu koridor ke koridor lainnya. Namun sayangnya, konsep ini juga bertabrakan dengan desain monster yang menghantuinya itu sendiri. Sama seperti yang kami sebutkan di atas, Outlast 2 juga tetap meminta Anda untuk lebih sering berlari dari sumber ancaman di dunia halusinasi ini, daripada bersembunyi dan menunggunya lewat begitu saja. Kombinasi keduanya benar-benar membuat game ini lebih membuat Anda sering berlari daripada bersembunyi. Kami bahkan yakin bahwa kami berhasil meyelesaikan game ini di tingkat kesulitan normal dengan tak lebih dari 10 kali bersembunyi di ragam tempat.

Satu hal yang membuat Outlast pertama begitu menyeramkan adalah situasi dimana Anda merasa terjebak di dalam sebuah tempat yang secara konsisten berusaha mencabut nyawa Anda, dimanapun dan kapapun. Sementara di Outlast 2, perasaan “terjebak” ini sayangnya, tidak menjadi emosi yang dominan di sesi permainan yang Anda jejali. Karena pada dasarnya, dunia terbuka yang ia tawarkan pada akhirnya menawarkan satu tantangan lebih jelas – mencari tahu kemana jalan selanjutnya, alih-alih soal bertahan hidup. Jujur saja, kami jauh lebih menyukai dunia halusinasi sekolah milik Blake daripada plot utama terkait sekte sesat yang ditawarkan Outlast 2 karenanya.

Ada satu plot diskusi menarik yang kami temukan di situs komunitas – Reddit ketika berselancar di dunia maya beberapa waktu lalu. Game horror memang terlihat menemukan format optimalnya lewat desain karakter utama yang tidak bisa melawan. Namun apakah ini berarti bahwa ini adalah sebuah “keharusan”, apalagi jika ia justru mulai menabrak batas-batas cerita yang justru membuatnya tak terasa rasional. Popularitas Amnesia atau Slenderman, atau bahkan Outlast pertama memang membuat banyak developer bersikukuh, namun di sisi lain, Capcom berhasil membuktikan bahwa perasaan menyeramkan tersebut tidak selalu hadir karena “absennya senjata”, selama mereka berhasil meracik atmosfer atau desain musuh yang tepat. Ini tentu adalah diskusi “panas” yang menarik.
Frictional Games – developer di balik Amnesia dan SOMA menyebut bahwa setidaknya ada 6 alasan mengapa banyak game horror meracik karakter protagonis yang tidak dapat melawan: (1) untuk membentuk karakteristik karakter yang sesuai (2) membuat monster terasa lebih mengancam (3) membuat imajinasi gamer lebih aktif untuk memecahkan masalah (4) menciptakan rasa paranoid (5) membuat objek / musuh di dalam game terasa lebih bermakna dan (6) memastikan tidak membuat sisi aksi jadi solusi. Apa yang diungkapkan oleh Frictional Games ini tentu saja sesuatu yang rasional dan memang ditawarkan oleh Outlast 2 dari Red Barrels. Lantas, mengapa diskusi ini muncul?
Karena setting Outlast 2 membuat si karakter utama sebenarnya berhadapan dengan banyak objek yang bisa ia gunakan untuk mempertahankan diri. Di sepanjang perjalanan, ia bertemu dengan banyak alat pertanian yang terbuat dari besi, dari sekedar pitchfork, cangkul, hingga parang sekalipun yang tergeletak begitu saja. Secara rasional, manusia manapun secara instingtif akan mengambil “senjata” ini sebagai alat pertahanan diri jika berada di situasi yang benar-benar mengancam. Terlepas apakah ia akan menggunakannya atau tidak, ini adalah reaksi yang seharusnya “normal”. Tetapi di Outlast 2, Blake justru mengabaikan semua potensi benda yang mungkin menyelamatkan dirinya tersebut dan lebih berfokus pada satu hal – video kamera yang terus ia tenteng dan kehilangan relevansinya seiring dengan progress cerita. Hal inilah yang memicu diskusi panas soal apakah memang game horror harus tak bisa melawan?


Sebagai gamer yang tak terlalu menyukai format karakter protagonis yang tidak bisa melawan, kami selalu dengan tangan terbuka menyambut implementasi senjata apapun tanpa mengubah game horror tersebut menjad game action. Red Barrels sebenarnya punya segudang opsi untuk membuatnya rasional, tetapi tetap tidak membuat Outlast 2 berubah jadi game yang berbeda.
Mereka bisa membuat senjata yang diambil Blake tidak didesain untuk membunuh, misalnya, tetapi juga membuat musuh dalam posisi “stun” selama beberapa detik, misalnya. Ini tidak akan membuat elemen ketegangan berkurang, tetapi rasional di saat yang sama. Atau seperti sistem yang dilakukan Nintendo di Breath of the Wild, mereka bisa membuat tiap senjata ini punya limitasi jumlah penggunaan, namun tetap dengan damage super kecil di musuh manapun yang hendak mereka serang. Seperti halnya yang dilakukan Creative Assembly di Alien: Isolation, flamethrower yang digunakan Ripley lebih difokuskan untuk membuat si sumber ancaman menghindar untuk beberapa waktu dan bukan membunuh. Sesuatu yang juga sepantasnya dipertimbangkan oleh Outlast 2, untuk setidaknya tak membuatnya berujung jadi game “sederhana” yang berujung mengandalkan hanya, sembunyi dan lari.
Bagaimana menurut Anda sendiri?

Outlast 2 adalah sebuah game horror yang bisa disebut, memenuhi apa yang Anda harapkan darinya. Walaupun harus diakui ia tidak semenyeramkan dan sebaik kualitas seri pertamanya, tetapi Red Barrels tetap pantas untuk mendapatkan acungan jempol terkait ragam hal baru yang berusaha ia jajal dengannya. Mereka tetap berhasil membangun dengan atmosfer yang luar biasa, lengkap dengan bukti tindak kekerasan brutal yang eksplisit serta beragam scene yang akan membuat Anda mengernyitkan dahi dan bahkan, memalingkan wajah dari layar kaca untuk beberapa waktu. Dunia yang luas dan kualitas visualisasi yang fantastis juga membuat game ini tampil sebagai game horror yang akan membawa Anda pada konsep film horror era 80/90-an yang berkaitan dengan sekte agama sesat, namun kini dalam format yang lebih interaktif. Sementara dari sisi gameplay, Anda yang sudah mencicipi atau sekedar mengetahui apa itu Outlast akan mendapatkan apa yang Anda bayangkan. Apalagi, ia juga sepertinya membangun benang merah dengan seri sebelumnya dengan cara yang jenius.
Walaupun demikian, harus diakui, Outlast 2 bukanlah game yang sempurna. Konsep dunia lebih luas yang ia tawarkan justru berujung jadi pedang bermata dua. Bahwa tak seperti seri pertama yang menguatkan kata kunci “terperangkap” sebagai bagian dari pengalaman, seri kedua ini justru akan membuat Anda melewati lebih banyak proses trial dan error untuk sekedar mencari jalan menuju ke tempat selanjutnya, yang biasanya dihiasi dengan kegiatan berlari, belari, belari, dan lebih banyak berlari. Hingga cukup untuk membuat sesi halusinasi Blake justru terasa lebih mencekam.
Namun terlepas dari kekurangan tersebut, Outlast 2 harus diakui tetap sebuah game horror yang solid namun sayangnya, tak bisa disebut fantastis. Tetapi perlu diingat, dengan harga jual yang ia tawarkan, setidaknya untuk versi PC, Outlast 2 akan menawarkan apa yang dibutuhkan, diinginkan, dan diimpikan oleh gamer pecinta genre horror.


Cocok untuk gamer: pencinta Outlast pertama, pencinta game horror klasik yang punya tema sekte sesat di dalamnya
Tidak cocok untuk gamer: yang tidak senang dengan game horror tanpa mampu melawan, potensi sakit jantung
Repost: https://jagatplay.com/2017/05/pc-2/review-outlast-2-tidak-lebih-baik/


Rasa penasaran terkadang membunuh, ini mungkin kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan apa yang akan terjadi bagi mereka yang berani mendekati Mount Massive Asylum – sebuah rumah sakit jiwa yang terletak di pegunungan sunyi Colorado. Sayangnya, kalimat sama yang juga akan mewakili nasib buruk seorang jurnalis bernama Miles Upshur yang kebetulan juga merupakan karakter utama yang akan kita gunakan. Rasa penasaran dan idealismenya sebagai sang pencari fakta akhirnya membawa Upshur ke dalam mimpi buruk terkejinya.





Bukan uji nyali, Upshur hanya menjalankan tugasnya sebagai seorang wartawan yang berdedikasi tinggi. Rasa penasaran akan motif di balik “kehidupan kembali” Mount Massive Asylum di bawah kepimpinan perusahaan multinasional – Murkoff Corporation akhirnya membawanya masuk ke dalam pusaran misteri yang berpotensi membuatnya tinggal nama. Keanehan sudah terlihat jelas sejak pertama kali ia memasuki dunia “aneh” Asylum yang satu ini. Tidak hanya menemukan mayat yang bergelimpangan di sana-sini, Upshur juga menemukan tingkah laku aneh para pasien yang sempat dirawat di rumah sakit jiwa ini. Mereka memperlihatkan agresivitas tanpa kendali, brutal, dengan beberapa kasus yang bahkan memperlihatkan transformasi secara fisik. Misi untuk mencari tahu kini berakhir pada satu tujuan utama – bertahan hidup dan lari dari rumah sakit ini.
Apa yang sebenarnya terjadi dengan Mount Massive Asylum ini? Apa yang membuat para pasien rumah sakit jiwa ini kian agresif dan brutal? Rahasia seperti apa yang sebenarya disuntikkan Murkoff Corporation di dalamnya? Semua jawaban dari pertanyaan ini tentu bisa Anda dapatkan dengan memainkan Outlast ini.

Apa yang membuat Anda selalu merasa nyaman ketika memainkan sebuah video game? Jawabanya tentu saja satu – ilusi bahwa Anda memegang kendali permainan secara penuh, terlepas dari seberapa sulit, menyeramkan, atau bahkan tidak masuk akalnya sebuah game. Anda yang mengendalikan, Anda yang menentukan, Anda juga bertanggung jawab penuh terhadap aksi dan konsekuensi yang mungkin terjadi. Lantas apa yang terjadi jika ilusi krusial yang satu ini dicabut begitu saja? Maka ada perasaan cemas dan ketidaknyamanan yang secara konsisten hadir, dimana semua elemen permainan menjadi variabel yang sulit untuk diprediksi, atau lebih parahnya lagi, tidak mungkin untuk ditaklukkan begitu saja. Di area inilah, Outlast memainkan pesonanya.
Pena adalah pedang bagi seorang jurnalis, namun sayangnya tidak akan berguna banyak ketika Anda terkurung bersama dengan puluhan orang gila yang tidak lagi memiliki pertimbangan moral, rasa bersalah, dan konsep benar-salah. Kebenaran tampaknya tidak lagi terlalu penting ketika Anda terjebak bersama ancaman yang terobsesi untuk mencabik-cabik tubuh Anda menjadi potongan kecil atau sekedar mendaratkan kepala Anda jauh ke seberang ruangan. Namun entah apa yang merasuki pikiran Upshur, karena yang ia pentingkan saat ini bukanlah belajar bagaimana cara yang tepat untuk menggunakan senjata api untuk bertahan hidup, namun mencari bukti kuat keterlibatan Murkoff Corporation dalam tragedi ini. Oleh karena itu, ia bertahan dengan hanya satu senjata – sebuah camcorder.
Fakta bahwa ia adalah seorang jurnalis yang tidak memiliki kemampuan fisik memesona atau kemampuan menguasai senjata api menjadi pondasi bagaimana Outlast secara konsisten memacu adrenalin Anda. Anda tidak bisa melawan balik ancaman yang hadir. Hanya ada dua opsi yang bisa Anda tempuh untuk menyelamatkan diri: bersembunyi dan berlari sekencang mungkin untuk mencari tempat yang lebih aman. Ancaman biasanya akan datang mengintai secara perlahan, namun tidak jarang pula muncul secara tiba-tiba dan menuntut Anda untuk terlibat dalam sebuah QTE sederhana dan melepaskan diri. Opsi terbaik sejauh ini? Setiap kali Anda mendengar atau melihat pergerakan apapun yang berada di depan mata, menjadi tindakan yang bijaksana untuk mengambil langkah seribu.


Selain berlari, Anda juga bisa bersembunyi dalam locker atau di bagian bawah tempat tidur jika memang dimungkinkan. Namun dalam posisi dikejar, bersembunyi bukanlah opsi yang tepat mengingat mereka cukup cerdas untuk mengenali jejak Anda dan mencari tahu dimana tempat Anda bersembunyi. Melihat pergerakan musuh di balik tempat persembunyian, Anda harus mengandalkan perubahan musik dan detak jantung untuk mengetahui apakah sudah cukup aman untuk keluar dan kembali menjalankan misi utama Anda. Namun tentu saja tetap berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menghasilkan suara yang dapat menarik perhatian.
Sebagai seorang jurnalis, camcorder menjadi perpanjangan tangan dan mata Upshur untuk lebih menguasai medan, dan tentu saja meninggikan probabilitas untuk bertahan hidup. Dengan menggunakan klik kanan, Anda bisa masuk ke dalam mode kamera, tidak hanya untuk merekam beberapa peristiwa penting, tetapi juga melakukan zoom in dan out untuk melihat potensi ancaman di depan mata. Alasan terkuat mengapa Anda harus memaksimalkan “senjata” ini? Karena camcorder merupakan satu-satunya mata Anda di dalam kegelapan. Menekan tombol “F” dan mengaktifkan mode infra merah, Anda bisa melihat lebih jelas di daerah tanpa penerangan sama sekali. Sayangnya, mode ini akan menghabiskan baterai Anda yang tentu saja krusial ketika Anda berada dalam situasi yang genting. Oleh karena itu, mengatur penggunaan baterai dan mengumpulkan sumber daya ini menjadi side mission yang tidak bisa dipandang sebelah mata.




Sayangnya ada satu mekanisme yang membuat adrenalin Anda akan sedikit melambat, terlepas dari atmosfer ketakutan yang mungkin tercermin kuat di sepanjang permainan. Benar sekali, kita membicarakan AI dari musuhnya sendiri. Dengan desain yang serupa satu sama lain, hampir tidak ada variasi serangan atau identitas unik yang membuat Anda harus menempuh strategi yang berbeda satu sama lain ketika berhadapan dengan setiap dari mereka. Kekurangan lain? Bahwa Anda ternyata masih punya kesempatan untuk bertahan hidup cukup lama walaupun sudah diserang secara frontal oleh mereka. Tidak seperti game serupa sekelas Slender atau Amnesia yang akan menewaskan Anda ketika bersentuhan fisik dengan ancaman yang ada, Anda masih bisa berlari menyelamatkan diri di Outlast. Hasilnya? Ketika Anda sudah mempelajari mekanik ini, ada perasaan sedikit lebih tenang ketika berhadapan dengan mereka.

Ada beberapa aspek yang membuat formula yang diusung Red Barrels tampil begitu gemilang di Outlast, salah satunya adalah kemampuan mereka untuk menyuntikkan atmosfer yang begitu tepat dan menggugah bagi gamer manapun yang memainkannya. Secara kasat mata, optimalisasi engine lawas – Unreal Engine 3 yang digunakan benar-benar menghasilkan visualisasi yang mumpuni, bahkan menjadikannya sebagai salah satu game horror dengan kualitas grafis terbaik sejauh ini. Kemampuan engine ini juga kian optimal lewat kehadiran sensor infra merah yang terlihat realistis dan menghasilkan pesona sinematik yang membuat Anda seolah terjebak dalam sebuah film thriller Hollywood berbudget tinggi. Menegangkan secara konstan, ia akan menebarkan ketakutan ekstra. Desain setting penuh darah dan animasi karakter AI juga memperkuat kesan ini.
Namun dari semua elemen yang ditawarkan Outlast, audio adalah senjata paling utama untuk memunculkan rasa cemas dan takut tersebut. Red Barrels pantas mendapatkan acungan jempol karena kemampuan mereka menghasilkan kualitas audio yang luar biasa menggugah. Hening di saat yang tepat, dan alunan musik khas horror yang perlahan naik ketika Anda berada dalam suasana tegang benar-benar membuat keringat dingin Anda mengucur deras. Lebih parahnya lagi, Anda juga akan mendapatkan ilusi seolah tengah berada di posisi sang karakter utama lewat sinkronisasi detak jantung yang terdengar jelas setiap saat. Nafas dan suara jantung ini seolah memerintah tubuh Anda untuk berada dalam kondisi yang sama.


Entah menjadi berita baik atau buruk, atmosfer ini sendiri tidak akan bertahan hingga akhir permainan. Apa pasal? Anda akan mulai merasakan ancaman yang berkurang setelah melewati beberapa fase mengejutkan yang mungkin sudah mencuri keberanian Anda di awal permainan. Ketika ada begitu banyak event jump-scare di satu jam awal permainan, Outlast seolah kehilangan identitasnya di beberapa jam permainan setelah event awal ini. Hal ini kian diperparah ketika Anda sudah mulai mengetahui fakta bahwa Anda masih tetap bisa bertahan hidup walaupun sudah bersinggungan secara langsung dengan ancaman-ancaman ini.
Walaupun demikian, menikmati Outlast dengan perangkat headset terbaik Anda, di dalam kamar yang gelap dan sunyi akan cukup untuk membuat Anda setidaknya, berteriak puas di beberapa event yang akan membuat Anda panik, atau mungkin membuat Anda terkencing di celana dan meminta izin orang tua untuk tidur bersama di malam yang sama. It’s scary for sure..

Sebuah tren yang tampaknya akan terus berlanjut di masa depan, ketakutan dan kecemasan yang muncul dari ketidakberdayaan Anda untuk berhadapan langsung dengan setiap ancaman yang ada adalah formula game horror yang tepat. Amnesia menjadi awal tren dan Outlast menyempurnakan sensasi tersebut. Fakta bahwa Anda hanya bisa berlari dan bersembunyi akan membuat perasaan was-was terus hadir sepanjang permainan dan anehnya, tidak bisa dinetralisir dengan cara apapun. Visualisasi yang mumpuni dengan keberhasilan menghasilkan kualitas audio yang mumpuni membuat Outlast tampil sebagai salah satu game horror terbaik di industri game saat ini. Ide untuk menyematkan kamera infra merah dan menjadikannya sebagai elemen gameplay yang krusial juga pantas untuk diacungi jempol.
Walaupun demikian ada beberapa catatan menarik yang pantas untuk ditarik dari Outlast ini. Pertama adalah ancaman yang terasa monoton. Terlepas dari beragam bentuk pasien yang Anda temui, mereka mengancam Anda hanya dengan satu cara saja – berlari mengejar dan berusaha menyudutkan Anda. Tidak ada ekstra strategi yang harus Anda tempuh untuk lari dari sumber ketakutan ini. Mencari loker dan kolong tempat tidur masih menjadi opsi terbaik. Fakta bahwa Outlast tidak secara konsisten menyuntikkan elemen jump scare di jam-jam terakhir permainan juga menjadi kelemahan tersendiri.
Namun terlepas dari semua kekurangan tersebut, Outlast berhasil membuktikan diri sebagai salah satu game horror yang mampu menghadirkan ketakutan, kecemasan, dan adrenalin secara konsisten lewat visualisasi, audio, dan mekanik gameplay yang mumpuni. Kualitas yang cukup untuk membuat kami menyalakan lampu, melepaskan headset dan akhirnya memilih menggunakan speaker dengan volume kecil, dan meningkatkan brightness dan contrast maximum di setting dan televisi. Pengecut? Mungkin, tapi juga Anda harus membuktikan diri Anda cukup berani untuk memainkannya di atmosfer yang paling tepat. Mengerikan!


Cocok untuk gamer: pencinta game horror tipe Amnesia atau Slenderman
Tidak cocok untuk gamer: pengecut dan benci dengan kegelapan (seperti kami *sigh*)
Repost: https://jagatplay.com/2013/09/pc-2/review-outlast-satu-kata-mengerikan/
“How’s it going, Bro’s?” Ya ya pastinya kamu sudah tidak asing dengan sapaan tadi. Berawal dari keisengan membuat channel YouTube, siapa sangka pemilik nama lengkap Felix Arvid Ulf Kjellberg ini menjelma menjadi mega bintang di dunia YouTube. Lewat channel bernama PewDiePie, pria kelahiran Swedia tersebut mampu meraup pendapatan lebih dari 2,6 juta dolar Amerika dalam setahun hanya dari membuat berbagai video di YouTube.
Mungkin kamu hanya mengenalnya sebagai YouTubers gaming saja. Namun di balik aksi-aski konyolnya di depan kamera, ternyata banyak sisi menarik yang layak kamu ketahui dari pria kelahiran Swedia ini.

Karena tak mendapat dukungan dari orang tuanya, Felix menghidupi dirinya dan membangun channel-nya sendiri dengan cara berjualan hot dog di pinggir jalan. Berkat kerja kerasnya, Felix bisa menunjukan kepada kedua orang tuanya jika drop out dari kuliah dan fokus membangun channel YouTube merupakan keputusan tepat.

Kesuksesan Felix sebagai Youtuber gaming bisa dilihat dari subscriber channel PewdiePie. Sampai saat ini, channel yang dibuat sejak tahun 2010 tersebut sudah memiliki lebih dari 49 juta subscriber. Angka itu pun akan terus bertambah setiap harinya.
Fakta PewdiePie ini cukup unik, pasalnya dengan jumlah subscriber sebanyak itu, channel PewDiePie mampu mengalahkan populasi negaranya sendiri, Swedia. Bahkan jika PewDiePie adalah sebuah negara dan subsrciber adalah jumlah populasi rakyatnya, maka negara PewDiePie akan masuk 20 besar negara dengan jumlah populasi terbanyak di dunia.

Pada tahun 2012, Felix atau PewDiePie memenangkan kontes di mana ia dianugrahi gelar King of Web. Ajang tersebut merupakan kompetisi kehormatan untuk memilih youtuber-youuber terbaik yang secara konsisten membuat konten-konten video kreatif yang berkualitas.
Uniknya, Felix menyumbangkan seluruh hadiah yang ia dapatkan di ajang tersebut kepada organisasi World Wildlife Found atau WWF.

Berbicara tentang charity, Felix atau PewDiePie dikenal sebagai public figure yang cukup sering menyumbangkan sebagian pendapatannya untuk kegiatan amal. Selain pada WWF, PewDiePie juga merupakan donatur dari organisasi Save the Children.
Dalam beberapa videonya, PewDiePie tak sungkan untuk mengajak para fans yang dikenal dengan sebutan Bro Army untuk ikut beramal melalui organisasi tersebut.

Sebagai orang paling berpengaruh di YouTube dan memiliki basis fans sampai jutaan, tak mengherankan mengapa setiap game yang dimainkan oleh PewDiePie akan memiliki efek besar kedepannya. Bahkan game-game yang tadinya enggak laku, tapi sejak dimainkan oleh PewDiePie mendadak jadi booming dan populer di kalangan gamer.
Contohnya PewDiePie adalah Youtuber pertama yang memainkan game Slender, dan sejak itu game Slender pun langsung meledak di pasaran. Game buatan karya anak bangsa berjudul Dreadout pun langsung melambung namanya berkat dimainkan oleh PewDiePie.

Mungkin masih banyak yang belum tahu video pertama yang diunggah PewDiePie ke YouTube. PewDiePie mengunggah review video game pertamanya pada 2 Oktober 2010. Video berdurasi dua menit tersebut memperlihatkan Felix dan teman-temannya sedang bermain game Minecraft.
Meskipun secara kualitas video tersebut tidak terlalu baik, namun video itu merupakan pijakan emas bagi kesuksesan karir PewDiePie sebagai youtuber gaming paling populer hingga saat ini.

Sebagai public figure, tentu bukan hal aneh ketika media, fans atau bahkan haters menaruh perhatian lebih kepada PewDiePie. Namun akan jadi masalah ketika para Bro Army ini mulai mengganggu kehidupan PewDiePie. Bahkan beberapanya sampai mendatangi langsung rumahnya di Swedia. Kejadian inilah yang membuat PewDiePie terpaksa pindah ke Brighton, Inggris, di mana ia bisa hidup tenang di sana.

Jerome Polin atau yang dikenal dengan nama youtube-nya Nihongo Mantappu, adalah seorang pelajar asal Indonesia yang mendapat beasiswa kuliah di Jepang.
Keinginannya belajar di luar negeri adalah impiannya sejak kecil. Begini cerita perjuangannya.
Impian Sejak Kecil
Keinginannya belajar di luar negeri berawal ketika Kak Jerome lulus TK tahun 2004. Pada waktu itu, ia dan keluarganya baru saja pindah dari Malang ke Surabaya.
Saat itu Kak Jerome sedang mencari sekolah. Akhirnya, Kak Jerome bersekolah di IPH (Intan Permata Hati School) di Surabaya.
Di sekolah Kak Jerome, teman-temannya sering bercerita kalau mereka sering berpergian ke luar negeri untuk liburan. Bagi Kak Jerome bisa bersekolah saja sudah lebih dari cukup.
Nah, dari sanalah keinginan Kak Jerome untuk ke luar negeri muncul. Ia bertekad untuk bersekolah di luar negeri. Kak Jerome giat belajar untuk mewujudkan keinginannya.
Ikut Olimpiade
Setelah lulus SMP, Kak Jerome melanjutkan sekolahnya di SMA Negri 5 Surabaya. O iya nilai Ujian Nasional Kak Jerome masuk 10 besar se-Jawa Timur.
Kak Jerome semakin giat belajar, ia ingin mewujudkan impiannya belajar di luar negeri.
Sejak dulu, Kak Jerome sangat menyukai pelajaran matematika. Pelajaran matematika kelas 1,2, dan 3 sudah ia tamatkan di tahun pertama. Hebat! Setelah itu, Kak Jerome mulai mencoba mengikuti olimpiade.

Sayangnya, ia masih belum berhasil. Tetapi Kak Jerome tidak menyerah, ia terus mencoba. Saat di kelas 11, usahanya membuahkan hasil. Perlahan, olimpiade yang diikuti berhasil ia menangkan.
Kerja Keras
Karena sebentar lagi memasuki kelas 3 SMA, Kak Jerome mulai giat mencari informasi untuk beasiswa. Sayangnya, kebanyakan kampus di luar negeri jarang yang memberikan beasiswa penuh.
Satu-satunya kampus yang memberikan beasiswa penuh adalah kampus The Nanyang Technological University (NTU), di Singapura.
Kak Jerome tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia belajar dengan giat untuk mewujudkan mimpinya.
Suatu ketika, Kak Jerome mendapatkan email bahwa dirinya diterima di universitas itu. Sayangnya, beasiswa yang diberikan unversitas itu hanya setengah.
Sedangkan, keinginan Kak Jerome adalah mendapat beasiswa penuh. Mimpi Kak Jerome pupus.
Tapi tidak berhenti sampai di situ, selang beberapa minggu, Kak Jerome mendapat informasi dari kakaknya, kalau ada perusahaan Jepang, Mitsui Bussan yang memberikan beasiswa penuh untuk pelajar Indonesia.
Beasiswa itu hanya diberikan kepada dua orang yang memenuhi persyaratan.
Persaingannya sangat ketat dan berat. Kak Jerome tetap semangat mempersiapkan semuanya. Giat dan fokus belajar demi mimpinya.

Empat hari menjalani tes di Jakarta, Kak Jerome sangat percaya diri dan yakin bisa mengerjakan semua soal-soal itu.
Setelah beberapa minggu, Kak Jerome mendapat pengumuman kalau dirinya terpilih menjadi salah satu pelajar yang berhak menerima beasiswa.
Kerja keras yang selama ini Kak Jerome lakukan membuahkan hasil manis.
Meskipun, sempat melewati masa-masa sulit, Kak Jerome tetap semangat dan tidak putus asa. Dan akhirnya, ia berhasil berkuliah di Waseda University, Jepang.
Nge-Vlog
Resmi menjadi mahasiswa di Jepang, Kak Jerome yang mengambil jurusan matematika. Pada bulan Agustus 2018, Kak Jerome membuat channelyoutube yang bernama Nihongo Mantappu. Channel youtube yang berisi tentang cara belajar bahasa jepang.
Selain itu, Kak Jerome juga mengisi konten youtube-nya dengan kesehariannya sebagai mahasiswa di Jepang. Mulai dari makanan di Jepang, tradisi orang Jepang, hingga memperkenalkan transportasi canggih di Jepang.
Perjuangan Kak Jerome sejak kecil, akhirnya terwujud berkat kerja kerasnya. Keren, ya! Kerja keras yang dilakukan pasti akan membuahkan hasil yang sesuai. Asal dilakukan dengan sungguh-sungguhan.
Daymare: 1998 mengisahkan tentang peluncuran senjata kimia berbahaya di sebuah kota, yang dilakukan oleh perusahaan Hexacore. Tim elit H.A.D.E.S. (Hexacore Advanced Division for Extraction and Search) dikirim untuk menyelidiki insiden itu. Agent Liev jadi salah satu anggotanya, yang nantinya bisa gamer kendalikan selama dalam permainan. Tapi senjata kimia Hexacore telah merubah para penduduk kota menjadi monster-monster haus darah, memaksamu untuk berjuang keras demi bertahan hidup!

Selain Liev, kalian dapat bermain sebagai seorang pilot helikopter dan forest ranger, yang menawarkan gaya permainan tersendiri. Daymare: 1998 menawarkan permainan yang disajikan oleh judul-judul survival horror tahun 90an, dan menghadirkan mekanisme survival yang hardcore. Selain menghadapi musuh-musuh tangguh, mengatur resource dan mengatasi beragam puzzle nan rumit menjadi bagian penting dalam permainan.
KEY FEATURES

Repost: https://gamestation.co.id/daymare-1998-game-horor-dengan-mekanisme-survival-hardcore/
Mungkin para pemain Indonesia ketika memainkan game ini akan tertawa dalam sebuah adegan. Adegan itu adalah momen di mana Nathan Drake mencoba berbahasa Indonesia untuk menipu penjaga agar membuka gerbang. Dengan kata-kata: “Sialan lo, cepat buka pintu,” sudah pasti kamu yang melihatnya akan tertawa secara spontan. Selain itu salah satu karakter antagonis game ini bernama Eddy Raja yang dikatakan merupakan bajak laut Indonesia.
Ini akan sedikit susah untuk dilihat karena game fighting umumnya bergerak sangat cepat dan terus berganti sudut layar. Di salah satu stage, kamu bisa melihat background yang menampilkan Wayang Kulit serta diiringi dengan lagu techno yang dicampur dengan sentuhan gamelan. Melihat pernak-pernik lokasinya, bisa dijamin 90 persen stage itu mengambil setting di Bali.
Diceritakan Sam Fisher harus menangkap, bahkan membasmi sebuah kelompok bernama Darah dan Doa di Timor Timur. Kelompok tersebut dipimpin Suhadi Sadono dan untuk menangkapnya, Fisher harus datang ke Indonesia. Salah satu lokasi yang dikunjunginya adalah Pulau Komodo. Ada pula di pemberitaan-pemberitaan dalam game tersebut menyebutkan nama Indonesia.

Mungkin kamu tidak akan mengetahui hal ini jika tidak mengulik informasinya. Salah satu bos di dalam game ini adalah orang asli Indonesia. Nama kodenya adalah Raging Raven yang merupakan keturunan orang Aceh. Dalam situs fandom Metal Gear Solid, diceritakan Raven adalah anak-anak korban peperangan yang mengalami pengalaman sangat traumatis. Demi berdamai dengan dirinya sendiri, Raven harus mengalahkan Snake.

Far Cry 3 menceritakan kisah seorang Jason Brody yang terjebak di sebuah pulau dan bertemu dengan penduduk asli di sana. Bernama suku Rakyat, dalam satu adegan Brody dipertemukan dengan pemimpinnya yang bernama Citra di sana. Tampak ada pengucapan bahasa Indonesia, namun jika didengar lebih jeli, sepintas bahasa tersebut lebih mengarah ke bahasa Melayu. Jadi perkara Indonesia atau tidaknya, silakan tentukan sendiri.

Game ini memang diberikan latar lokasi untuk berada di Asia Tenggara. Konfilk-konfliknya berkutat di negara-negara tersebut yang tentu saja Indonesia termasuk dalam bagiannya. Aceh dan Sulawesi adalah tempat yang dijadikan sebagai salah satu stage game tersebut.

Seharusnya karakter ini sudah kalian ketahui karena ramai dibicarakan dan sangat jelas merupakan karakter Indonesia. Manusia super dari pewayangan Jawa, Gatotkaca, menjadi bagian dari line-up karakter Mobile Character. Ada pula Kadita yang diadaptasi dari karakter Nyi Roro Kidul, sang penguasa ratu pantai selatan. Wow, langsung dua karakter ya.

Jika Mobile Legends mencoba mengambil hati para pemain Indonesia dengan kehadiran Gatotkaca serta Kadita, maka Arena of Valor menghadirkan karakter yang lain, yaitu Wiro Sableng. Tokoh komik dan film tersebut dirilis pada 2018 lalu dan seperti Gatotkaca, tugasnya adalah ujung tombak dan bagian penerjang pertama.
Sesuai nama gamenya, ini adalah game simulasi strategi tentang peradaban umat manusia. Dalam versi downloadable content-nya, Civilization menghadirkan secara khusus peradaban Indonesia di dalam game dengan judul Khmer and Indonesia Civilization & Scenario Pack. Yang menjadi perwakilan Indonesia dalam game ini adalah peradaban dari kerajaan terbesar di pulau Jawa, yaitu Majapahit, yang tentu saja sepenuhnya bisa kamu mainkan.