LifeAfter merupakan GameMobile MMORPG bertema zombie survival layaknya adaptasi film Walking Dead dan sekarang tersedia di iOS dan Android. Jadi tunggu apa lagi, segera mainkan Game keren ini di smartphone kamu!
Game ini memiliki latar belakang di dunia pasca kiamat yang terjadi karena wabah virus dan membuat jutaan manusia berubah menjadi zombie yang agresif dan mematikan. Sebelumya LifeAfter rilis di berbagai negara dan khususnya pertama muncul di negara Tiongkok. Gim ini sendiri telah mendapatkan pengakuan dari banyak Gamer di seluruh dunia berdasarkan tampilan grafik dan beragam Gameplay yang keren.
Dan sekarang LifeAfter rilis dan sudah bisa dimainkan oleh seluruh Gamer di Indonesia. Kalian tentunya tidak hanya merasakan serunya bermain di mode klasik dengan elemen Game Survival.
Seperti mengumpulkan bahan, hunting, dan membangun gedung, tetapi juga kaya akan konten yang di mainkan bersama pemain lainnya, multi-player collaboration. Sehingga di dunia yang dipenuhi oleh zombie ini, kalian sebagai orang-orang yang selamat dari kiamat dapat membentuk tim, mencari roommates, atau bergabung dengan kamp untuk bertahan hidup di reruntuhan bangunan.
Inilah 5 fitur unik yang hanya bisa kamu temukan di Game survival MMORPG LifeAfter ini:
1. Roommate atau Gebetan?
Setelah LifeAfter rilis secara official, tentunya akan banyak pemain yang bermain di dalamnya. Hal tersebut memunculkan fitur terbaru yang membuat kalian dan pemain lainnya bisa bekerja sama dengan sebutan roommate.
Fitur roommate atau teman sekamar ini dapat berkontribusi untuk membuka konten-konten khusus di proses mendapatkan level yang lebih tinggi. Seperti akses ke Dog House, Manor Controller, Harvestingdan memasak untuk satu sama lain.
Sehingga di dunia yang penuh zombie ini, kalian masih bisa merasakan yang namanya kasih sayang dan sikap tolong-menolong yang bisa memperbesar resources karakter kalian masing-masing.
2. Private Camps
Selain itu, kalian juga dapat membuat atau bergabung dengan Private Camp, atau kata lain yang lebih mudah di mengerti adalah Guild. Tentunya bermain gim MMORPG sangat seru jika dimainkan bersama banyak orang.
Lewat Private Camps ini kalian bisa menyatukan kekuatan dan bekerjasama untuk melawan semua ancaman apokaliptik. Satu Private Camps sendiri berisikan 80 pemain, di mana markas kalian terbentuk di berbagai daerah yang ada di peta.
3. Camps versus Camps
Kerennya lagi dari Game ini adalah kalian bisa membentuk Camps dengan orang lain untuk mencapai tujuan bersama dan tentunya bisa menghancurkan Camps milik pemain lain untuk menjarah kekuasaan dan resources.
Bermain dengan Camps bisa mempercepat penelitian dan mengembangkan teknologi untuk menghadapi para bos zombie yang luar biasa kuat. Tentunya kalian tidak akan bisa bertahan jika bermain sendirian di LifeAfter.
4. Dapatkan Honorary Citizen
Dalam sebuah Camps, tidak hanya ada Town Hall, Weapon Store, Furniture Shop dan Camps Canteen. Uniknya di Camps Canteen kalian bisa makan gratis yang bisa menyembuhkan status karakter kalian jadi lebih baik.
Untuk pendatang baru di Camp, mereka akan diberikan sebuah kabin kosong di daerah kekuasaannya tersebut. Hanya mereka yang berhasil dipromosikan menjadi Honorary Citizen oleh walikota yang dapat pindah untuk tinggal di pusat Camps.
5. Petualangan Tanpa Henti!
Jika kalian memiliki waktu luang dan bosan menjalankan quest utama, terdapat yang namanya Camp Bulletin Board. Kalian bisa melakukan berbagai tugas di sana dan mendapatkan bermacam-macam hadiah dari sana.
Tugas yang diberikan bisa seperti pengumpulan resources untuk Caravan atau memeriksa daerah yang belum di datangi bersama tim patroli, tingkat kesulitan juga bermacam-macam.
Jadi tunggu apalagi, LifeAfter rilis di Indonesia dan pengguna iOS dan Android bisa langsung mengunduh gim LifeAfter versi terbaru di link ini. Jangan lupa juga untuk ikuti social media dari LifeAfter untuk selalu update seputar event dan perubahan yang ada di dalamnya. Kalian bisa mengikuti akun Facebook, Twitter, dan Discord mereka di sini.
Rasakan bagaimana sulitnya untuk bertahan hidup di dunia pasca kiamat seorang diri, para survivorsharus bersatu untuk menciptakan tatanan baru dan melindungi manusia dari kemusnahan!
DreadOut bercerita tentang sekelompok pelajar yang terpaksa masuk ke sebuah kampung yang terbengkalai ketika mereka sedang melakukan karyawisata. Anda akan bermain sebagai Linda, seorang siswi SMA yang merupakan salah satu dari kelompok pelajar tersebut. Dalam kampung tersebut, Linda dan kawan-kawan terperangkap dalam sebuah sekolah yang berhantu dan mereka terpisah satu sama yang lain. Linda yang dibekali telepon genggamnya kini harus berusaha mencari teman-temannya dan juga mencari jalan untuk keluar dari tempat terkutuk itu.
Melalui sinopsis tersebut, nampaknya cerita dalam DreadOut terdengar agak klise layaknya cerita dalam sebuah film horor pada umumnya, tapi bukan dari nilai tersebut DreadOut menunjukkan kebolehannya.
DreadOut mungkin salah satu game yang bisa menunjukkan atmosfer mencekam secara baik. Dari awal permainan saja Anda sudah disuguhi lantunan ‘Lengser Wengi’ yang dijamin bisa membuat bulu kuduk berdiri. Untuk orang luar negeri, mungkin lagu tersebut hanyalah sebuah pembuka biasa, namun bagi kita yang merupakan orang Indonesia, lagu tersebut memberikan dampak yang berbeda karena kita mengenalnya bukan? DreadOut nampaknya lebih fokus untuk memberikan pengalaman budaya lokal dan saya rasa hal itu sangatlah tepat mengingat budaya Indonesia memiliki potensi untuk diolah dan menjadikan sebuah karya memiliki nilai eksotis.
Inti dari sebuah suasana yang mengerikan dalam media visual adalah adanya keterbatasan yang membuat kita mengira-ngira ada sesuatu yang tidak diketahui di hadapan kita. Saya rasa DreadOut melakukan kerja yang sangat baik dalam bagian itu. Mulai dari jarak pandang yang pendek serta tingkat pencahayaan yang benar-benar gelap secara tidak langsung membuatmu membayangkan bahwa ada ‘sesuatu’ yang menunggu di balik kegelapan itu. Hal ini pernah digunakan pada beberapa macam game horor seperti Silent Hill dan hasilnya juga sama seramnya.
Tidak hanya itu saja, desain level yang ada dalam DreadOut juga dibuat cukup mencekam lewat penataan objek-objek yang ada. Dalam game ini, Anda terkurung dalam sebuah sekolah, dan biar saya perjelas bahwa gedung sekolah adalah salah satu tempat terbaik untuk dijadikan sebuah setting film atau game horor. Sebagai contoh, DreadOut menggunakan objek kursi dan meja dalam kelas untuk membentuk sebuah formasi meja-kursi yang terlihat menyeramkan. Kemudian, adanya objek-objek mencolok yang seharusnya tidak ada dalam sebuah sekolah, coretan di dinding serta banyak objek rusak yang termakan waktu sangat menambah nuansa seram dalam game ini.
DreadOut nampak jelas menggunakan konten lokal sebagai daya tarik utama. Selain untuk keperluan inti gameplay, ada pula hal-hal lain dari penggunaan materi lokal itu yang membuat kamu malah tersenyum sendiri. Contohnya di bagian poster-poster yang terpampang di dinding yang kebanyakan mengingatkan kita betapa noraknya iklan tempel yang ada di Indonesia. Selain itu ada juga penampakan dari hal-hal yang sering kita lihat di pinggir jalan sebelum masuk ke gedung sekolah seperti stand yang menjual CD lagu bajakan bahkan hingga bunga obitueri yang bertuliskan ‘Turut Berduka Cita (nama backer)’ juga ada. Sebelum Anda ketakutan sepertinya Anda akan tertawa sendiri dulu (dan itu pasti buat orang di sekitar Anda ketakutan).
Buka Matamu, Buka Telingamu
Salah satu elemen dalam sebuah game horor adalah jumpscare, namun banyak di antara game horor yang ada malah memberikan jumpscare secara ‘murahan’. Contohnya seperti menggunakan efek suara yang keras secara tiba-tiba tapi kita tidak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dalam DreadOut, hal tersebut tidak akan Anda temukan, melainkan DreadOut memberikan pengalaman jumpscare tersebut secara bertahap namun tetap mengagetkan. Saya tidak bisa memberikan contoh karena itu akan merusak pengalaman bermain, tapi kalau Anda coba sendiri, Anda pasti cukup mengerti apa yang saya maksudkan.
Ada juga satu aspek yang ingin saya ulas yaitu di bidang suara. Karakter dalam DreadOut menggunakan bahasa Inggris dalam percakapannya untuk sementara ini dan nantinya Digital Happiness akan memberikan patch untuk bahasa Indonesia. Tidak ada sesuatu yang istimewa di bagian ini namun begitu saya mendengar efek suara seperti ambience, saya cukup terkejut karena DreadOut juga bisa menghantarkan atmosfer mencekam hanya lewat suara. Saya acungkan jempol buat sound designer-nya karena suara yang dipilih sangatlah tepat dan mampu membuat saya merinding. Suara-suara tersebut bukan suara keras yang tiba-tiba muncul melainkan malah suara-suara samar yang justru bisa membuat Anda berkeringat dingin.
Meskipun memiliki impresi yang cukup baik, DreadOut masih mengalami beberapa masalah di berbagai bagian. Pada teksur objek 3D, masih ada ketidak seimbangan kualitas tekstur. Beberapa objek dalam game memiliki kualitas tekstur yang baik dan kebanyakan memiliki tekstur yang rendah. Selain tekstur, masih juga ada objek yang terkena clipping sehingga kadang terlihat menghilang dari pandangan. Untuk bagian modeling dan rigging dari karakter sendiri juga masih terlihat agak kasar dan begitu dianimasikan, deformasi dari bagian-bagian tubuh terlihat tidak alami.
Untuk gameplay, sebenarnya game ini menganut cara bermain yang sederhana. Anda cukup mengambil foto dari hantu yang Anda temui untuk mengalahkannya dan semua foto yang Anda ambil bisa disimpan dalam galeri. Beberapa hantu memiliki cara tersendiri untuk dikalahkan dan itu menambah variasi dalam permainan. Sayangnya, game ini tidak memiliki in-game tutorial sehingga sebelum Anda memulai permainan ada baiknya membaca terlebih dahulu panduan yang ada. Cara ini cukup konvensional dan mengingatkan saya tentang manual untuk bergerak dalam game Resident Evil tempo dulu.
Satu hal yang cukup membuat saya frustasi memainkan DreadOut adalah tujuan yang tidak jelas. Tujuan dalam game ini diperlihatkan dalam bentuk potongan cerita sehingga saya sendiri sering bingung sebenarnya yang harus saya cari itu apa. Hal seperti ini sebenarnya sudah cukup lumrah di kalangan game pixel horor, namun karena DreadOut adalah sebuah game 3D, maka area yang harus dijelajahi menjadi lebih luas sehingga Anda malah kebingungan lebih dahulu sebelum bisa menemukan jalan keluar.
Putusan
DreadOut adalah sebuah game horor yang memiliki gameplay klasik dan atmosfer yang benar-benar mencekam. Meskipun game ini masih memilki masalah di bidang teknis dan gameplay, DreadOut tetap wajib Anda mainkan terutama jika Anda penggemar game horor dan juga ingin mendukung developer Indonesia.
Oh, iya. Semenjak game ini dirilis secara episodik, Digital Happiness juga menjanjikan adanya Act 2 serta Free Roam Mode yang nantinya pasti akan kami bahas juga. Digital Happiness akan memberikan Act 2 secara gratis kepada para pemilik Act 1, sedangkan Free Roam Mode akan menjadi edisi berbayar.
Alih-alih menghidupkan kembali para tokoh utamanya di petualangan baru, Capcom merilis remake dari game Resident Evil 2 yang sebelumnya rilis di tahun 1998. Ini dinilai sebagai langkah yang baik mengingat kepopuleran sekuel kedua ini pada masanya mampu membawa audiens yang kembali merayakan petualangan Leon dan Claire di edisi remake kali ini.
Selain tentunya dibawakan dengan gaya dan grafis yang lebih detail, game ini menjadi patokan remake yang baik dengan mampu menyediakan hal baru serta mempertahankan beberapa aspek di game aslinya. Penasaran sama alasan kenapa Resident Evil 2 REmake jadi game ulangan yang sangat baik?
Dengan membawa petualangan lebih realis, Resident Evil 2 REmake menawarkan pembawaan yang jadi lebih dekat dengan pemainnya. Kalau sebelumnya pemain enggak perlu susah payah membidik kepala zombie, kini mereka harus cermat mengarahkan pistolnya ke arah kepala yang jadi kelemahan para mayat hidup. Kurang lebih, ini seperti improvement yang berhasil Capcom kembangkan ketika game ini menyentuh konsol PlayStation 2 pada episode Resident Evil 4 dan 5.
Selain itu, game yang memang bertumpu pada teka-teki ini juga membuat pemainnya harus bolak-balik. Kini di edisi remake-nya, sang pengembang membuat para zombie bisa hidup lagi. Ini menambah kengerian kalau pemain enggak bisa bebas bolak-balik dan harus mempertimbangkan sumberdaya yang mereka punya sembari mencari jalan keluar.
Apa yang membuat Resident Evil 2 REmake jadi sangat seru adalah kesan game horror yang sangat berbekas. Ketika tahu kalau setiap zombie punya kemungkinan untuk bangkit lagi, kamu enggak bisa sembarangan terlalu banyak membuang peluru. Di game ini, sumber daya peluru dan salah satu yang penting. Uniknya, kamu bisa aja sampai ke babak akhir dengan melewati item senjata sehingga ini bisa merugikan karena kamu dapat pilihan senjata yang sedikit. Ditambah banyak zombie spesial yang hadir di game ini, kamu diharuskan jangan sembarangan menghabiskan sumber daya.
Salah satu karakter lama yang kini bangkit dan memberi kesan jengkel adalah T-00 alias Mr.x alias Tyrant yang bangkit untuk mengejar karakter yang kamu pakai. Karena di babak awal karakter ini enggak bisa mati, kamu hanya bisa menghindarinya saja. Dengan derap kaki yang lantang dan tubuh besar, kamu pasti kaget dan dibuat ngacir sama musuh yang tugasnya hanya mengganggu kamu. Pasti kamu jengkel saat berusaha menyelesaikan teka-teki dengan dihantui sosok yang mirip Thanos ini.
Selain memperbarui kualitas grafis dan permainannya, Resident Evil 2 REmake bisa mempertahankan aspek pembagian cerita di dalam game ini. Sama seperti game terdahulunya, pemain bisa memilih dua karakter yang ceritanya akan dibagi pada campaign yang berbeda. Setelah selesai maka 2nd playthrough atau babak lain dari karakter lawannya bisa dipilih. Tergantung dari lo sendiri untuk memainkan jalan cerita yang mana antara Leon atau Claire.
Pembawaan grafis ini memang sekilas mirip dengan game Resident Evil yang lebih modern sejak sekuel keempatnya. Dari segi senjata hingga item di dalamnya, pemain bisa menemukan referensi yang sedikit berbeda dengan game terdahulunya. Hal tersebut menambah aspek yang bisa pemain temukan di edisi remake kali ini.
***
Menawarkan teka-teki yang jadi lebih rumit dengan balutan ketegangan yang intens, edisi Resident Evil 2 REmake ini jadi harga mutlak buat para penggemar serial Resident Evil. Wajar kalau pada akhirnya game tersebut jadi salah satu edisi remake paling sukses dari segi penjualan.
Tahun lalu, PlayStation 3 mendapatkan sebuah game eksklusif yang bisa dibilang merupakan salah satu game terbaik di console tersebut dan juga merupakan salah satu game terbaik yang dirilis di tahun 2013. Game yang saya maksud tak lain dan tak bukan adalah The Last of Us. Melihat kesuksesan PS4, serta banyaknya pemilik PS4 yang sebelumnya tidak memiliki PS3, Naughty Dog pun mengambil kesempatan ini untuk merilis ulang The Last of Us ke console PS4, dengan kualitas yang disesuaikan dengan hardware console tentunya.
Versi PS4 yang diberi judul The Last of Us Remastered Edition dirilis pada 29 Juli 2014 kemarin. Meskipun begitu, review yang saya tulis ini tidak eksklusif berlaku kepada versi PS4 saja. Jika kamu memiliki PS3 dan belum memainkan The Last of Us, mungkin saja review ini bisa membantu kamu membuat keputusan.
Tanpa membuang waktu lagi, mari kita bahas perjalanan Joel dan Ellie melintasi dunia penuh kekacauan ini.
Kisah Tentang Manusia, Virus, Dan Dunia
Kisah yang diusung The Last of Us sepintas nampak membosankan. Sebuah cerita dengan setting post-apocalypse, banyak manusia yang menjadi zombie (well secara teknis mereka dikendalikan jamur sih), hubungan antara orang dewasa dan anak yang masih polos … blleeerrgghh … sudah terlalu banyak cerita yang mengusung hal-hal seperti itu.
Namun begitu kamu mengikuti sendiri petualangan Joel dan Ellie, segala perasaan pesimis yang ada di benakmu akan hilang. Baru 10 menit pertama dalam game saja, The Last of Us sudah berhasil memberikan adegan emosional yang luar biasa. Selama bermain game ini, dijamin kamu akan sering kali ternganga, bengong, takjub, dan mungkin sedikit depresi dibuatnya.
Cerita yang bagus ini juga didukung oleh akting yang bagus dari para pemerannya. Para pengisi suara karakter The Last of Us tidak hanya menyumbangkan suara mereka saja, tapi juga menyumbangkan tubuh mereka untuk motion capture gerakan-gerakan karakter dalam game.
Dalam The Last of Us kamu akan mengendalikan Joel, seorang pria paruh baya yang semenjak tersebarnya wabah jamur yang menyerang manusia, bertahan hidup dengan bekerja sebagai penyelundup. Situasi berubah menjadi semakin runyam ketika Joel dibebani sebuah pekerjaan untuk mengantarkan seorang gadis muda bernama Ellie melintasi Amerika.
Inti utama dari cerita The Last of Us adalah hubungan antara Joel dan Ellie. Sepanjang perjalanan mereka, kamu akan melihat perkembangan hubungan keduanya yang awalnya bisa dibilang saling membenci, sampai berubah menjadi sangat dekat layaknya ayah dan anak. Hubungan kedua pasangan ini dengan orang-orang lainnya yang mereka temui di perjalanan juga sangatlah menarik. Setiap karakter yang muncul, meskipun hanya muncul sebentar saja, ditulis dengan apiknya dan seakan-akan mereka adalah manusia sungguhan, dengan segala emosi dan masa lalu yang mereka bawa.
Seandainya kamu merupakan gamer yang senang dengan cerita bagus, melewatkan The Last of Us jelas hal yang haram. Kamu juga bisa mengajak kenalan kamu untuk bermain (atau nonton) bersama, meskipun mereka bukan gamer. Karena cerita yang ada di The Last of Us ini dijamin akan cocok untuk berbagai jenis orang, tua maupun muda.
Cover Shooter, Stealth, Dan Mekanisme Pasaran Lainnya
Meskipun memiliki cerita dan unsur sinematik yang jauh di atas rata-rata, gameplay dari The Last of Us bisa dibilang tidak terlalu spesial. Sebenarnya gameplay dari game ini tidak jelek, namun jika dibandingkan dengan game third person berelemen shooter lain seperti Tomb Raider atau Uncharted, saya tidak melihat perbedaan yang terlalu signifikan.
Inti dari game ini hanyalah bersembunyi dibalik tembok atau pelindung, menembaki musuh, mengendap-ngendap ke musuh, menyerang dengan senjata melee, merakit senjata dan perlengkapan bertahan hidup, dan mengumpulkan barang-barang collectible untuk melengkapi achievement. Tidak terasa terlalu berbeda dengan gameplay game AAA lainnya bukan.
Tapi jangan jadikan pendapat saya ini membuat kamu mengurungkan niat bermain The Last of Us. Meskipun tidak ada hal inovatif yang dapat kamu temukan di game ini, gameplay dari The Last of Us tetap terpoles dengan sangat baik. Aksi baku tembak serta mengendap-endap yang akan kamu lakukan tetap seru untuk dijalani. Selain itu jika kamu termasuk gamer yang suka bermain multiplayer, aspek multiplayer The Last of Us juga bukan sesuatu yang bisa dianggap enteng.
Saran saya, selama dalam game ini rajin-rajinlah menggunakan panah. Alasannya? Karena keren tentu saja (walaupun masih kalah keren dengan panahnya Lara Croft).
Akselerasi Maksimum Di Console Berusia Tujuh Tahun
Kualitas grafis yang dimiliki The Last of Us sangatlah luar biasa. Untuk ukuran game yang dirilis di console berusia tujuh tahun, Naughty Dog betul-betul sukses menyajikan game berkualitas tinggi untuk mesin hitam besar, dalam ukuran sekeping blu-ray kecil. Tidak usah jauh-jauh membicarakan kualitas visual yang ditampilkan di cutscene, selama gameplay berlangsung saja kamu akan sering dibuat terpana dengan pemandangan indah sekaligus mengerikan di Amerika yang telah berantakan ini.
Jujur saja memang betul-betul tidak banyak yang bisa saya komentari mengenai kualitas grafis The Last of Us. Game ini termasuk salah satu jenis game yang bahkan gamer PC pun mengakui kualitas visualnya. Dan itu jelas merupakan hal yang besar.
Tidak terbatas di visual saja, sound design dari The Last of Us juga sangat baik. Hal ini jelas diperlukan mengingat beberapa aspek gameplay memerlukan detail suara. Contohnya seperti saat kamu berhadapan dengan Clicker yang tidak bisa melihat namun pendengarannya sangat tajam, atau saat kamu melempar botol dan bata untuk mengalihkan perhatian musuh.
Sound design yang semakin memperkuat atmosfer dalam game juga didukung dengan musik-musik akustik dan menenangkan yang jelas sangat cocok dengan tema dan atmosfer The Last of Us.
The Last of Us Remastered Edition – Sebuah Penyempurnaan
Kita masuk ke bagian terakhir yang perlu dibahas dari The Last of Us. Pertanyaan ini mungkin muncul baik dari orang yang telah memainkan The Last of Us versi PS3, maupun yang belum memainkannya sama sekali. Pertanyaan yang saya maksud adalah, seberapa signifikan kah perubahan yang dialami The Last of Us Remastered Edition ini? Apakah jika seseorang sudah memainkan game ini di PS3, mereka perlu memainkannya lagi di PS4?
Jujur saja saya tidak melihat banyak perubahan yang berarti di versi PS4. Dari segi gameplay,The Last of Us Remastered tetaplah sama dengan pendahulunya. Kamu tetap disajikan dengan aksi baku tembak sambil bersembunyi di belakang tembok, atau aksi mengendap-endap ke dekat Clicker untuk menusuk mereka menggunakan pisau yang rapuh. Tidak ada yang berubah, kecuali penyesuaian kontrol yang dilakukan karena perbedaan antara DualShock 3 dan DualShock 4 tentunya. Seperti yang saya sebutkan di review PS4 saya, DualShock 4 merupakan controller terbaik yang pernah dikeluarkan Sony, jadi tentu saja game apapun yang dimainkan dengan DualShock 4, akan terasa lebih nyaman daripada jika dimainkan dengan DualShock 3.
Untuk urusan grafis dan performa, hal ini jelas tidak perlu dikhawatirkan lagi. Kamu tidak perlu bertanya apakah game yang dijalankan di console yang dirilis November 2013 bisa terlihat lebih lancar dan bagus daripada jika dijalankan di console yang dikeluarkan pada November 2006. Perbedaan tujuh tahun di dunia teknologi merupakan suatu gap yang sangat besar, dan gap besar ini jugalah yang bisa memberikan The Last of Us Remastered Edition kualitas visual dan performa yang lebih baik.
The Last of Us Remastered Edition berjalan dengan resolusi 1080p dan 60 fps. Saking halusnya animasi yang dimiliki versi PS4 ini, saya sampai cukup pusing memainkannya. Maklum sudah terlalu biasa dengan versi PS3 yang meskipun juga sudah sangat bagus, tetap saja tidak memiliki level smooth yang sama dengan versi PS4. Versi Remastered ini juga menawarkan opsi untuk mengunci fps pada 30 fps, dan di saat yang bersamaan akan meningkatkan kualitas bayangan yang ada dalam game. Tidak lupa juga, detail-detail baik untuk karakter maupun lingkungan dalam game juga ditingkatkan dengan cukup signifikan.
Tidak hanya peningkatan visual saja, The Last of Us Remastered Edition juga menawarkan paket yang menarik di dalamnya. Versi PS4 ini menawarkan seluruh DLC yang pernah dirilis untuk versi PS3. Selain itu versi ini juga berisi film dokumenter Making of The Last of Us dan tingkat kesulitan baru yang disebut Grounded Mode. Tapi hal paling menarik yang akan kamu temukan dalam The Last of Us Remastered Edition adalah Photo Mode seperti yang dimiliki oleh Infamous: Second Son. Beberapa screenshot yang ada di review ini juga merupakan hasil dari photo mode. Sepertinya mulai sekarang seluruh game 3D dengan sudut pandang third person harus memiliki feature keren yang satu ini.
Verdict: Apakah Remastered Berarti Rebuy Dan Replay?
Tidak perlu banyak basa-basi, The Last of Us jelas adalah game yang wajib dimainkan oleh semua orang. Kalau banyaknya penghargaan seperti dari VGX, D.I.C.E., ataupun BAFTA yang diraih game ini tidak bisa meyakinkan kamu akan kualitas The Last of Us, entahlah apa yang dapat mengambil minat kamu.
Satu hal yang saya mau ingatkan. Tidak seperti game lainnya, apa yang membuat The Last of Us begitu menarik bukanlah gameplay penuh aksi yang mendebarkan. Hal yang membuat game ini menarik adalah bagaimana game ini bisa membuat kamu merasa. Apakah sisi humanis kamu semakin tergugah setelah melihat petualangan Joel dan Ellie yang sudah seperti hubungan Lee dan Clementine dari The Walking Dead, atau mungkin kamu hanya menganggap cerita dalam game ini sebagai hiburan sampingan semata.
Namun jika kita hiraukan hal di atas, pertanyaan utamanya yang keluar mengenai game ini adalah, versi manakah yang harus dimainkan? Untuk itu saya punya jawaban-jawaban yang sepertinya lebih mudah dibaca menggunakan poin berikut:
Kalau kamu belum pernah memainkan The Last of Us sama sekali, ambil versi Remastered Edition.
Kalau kamu belum pernah memainkan The Last of Us, tapi punya PS3, bersabarlah sampai punya PS4 dan mainkan versi Remastered Edition. Untuk sementara mainkan game PS3 lainnya yang saya yakin banyak yang belum kamu selesaikan juga.
Kalau kamu sudah pernah memainkan The Last of Us, dan sudah menyelesaikannya lebih dari sekali, mainkan lagi versi Remastered Edition.
Kalau kamu sudah pernah memainkan The Last of Us dan sudah merasa puas maka jangan buang-buang uang kamu untuk upgrade ke versi Remastered Edition.
Demikianlah kesimpulan yang bisa saya ceritakan tentang The Last of Us. Apapun pilihan kamu, jangan pernah berpikiran untuk melewatkan game ini sama sekali. Karena game seperti The Last of Us belum tentu keluar setiap tahun. Jadi, sekali lagi, jangan lewatkan melodrama di dunia setelah apokalips ini.
Mando (Mandau) adalah senjata tajam sejenis parang berasal dari kebudayaan Dayak di Kalimantan. Mandau termasuk salah satu senjata tradisional Indonesia. Berbeda dengan parang biasa, mandau memiliki ukiran – ukiran di bagian bilahnya yang tidak tajam. Sering juga dijumpai tambahan lubang-lubang di bilahnya yang ditutup dengan kuningan atau tembaga dengan maksud memperindah bilah Mandau.
Mando (ejaan Indonesia: Mandau, adalah ejaan yang salah) berasal dari bahasa Dayak Kalimantan Tengah, yaitu asal kata “Man” yaitu singkatan dari kata “kuman” yang berarti “makan” dan dibentuk dari kata “do” yaitu singkatan dari kata “dohong” yakni pisau belati khas Kalimantan tengah. Jadi secara harafiah Mando bearti “makan Dohong”, maksudnya adalah karena sejak senjata mando menjadi populer di kalimantan tengah, dohong yang merupakan senjata pisau terawal milik Dayak Ngaju kal-teng menjadi kalah populer atau tergerus kalah oleh Mando. Kekalahan populer dohong tersebut menyebabkan sebutan untuk jenis parang yang mengalahinya kemudian disebut “mando”.
Suku Dayak dengan senjata Mandaunya terkenal kejam dan ahli dalam peperangan, kelompok klan mereka melawan bangsa-bangsa lain yang datang ke pulau kalimantan, termasuk bangsa Melayu dan Bangsa Austronesia, karena seringnya peperangan antar klan dan bangsa-bangsa yang datang ke pulau kalimantan, Pedang Mandau menjadi terkenal dengan bilah senjatanya yang tajam dan digunakan untuk memenggal kepala musuh-musuhnya (adat Pengayauan suku Dayak) hingga para bangsa lainnya tidak berani memasuki daerah mereka. Hingga sampai dengan sekarang Mandau menjadi sebutan nama sebuah senjata adat asli Pulau Kalimantan. Arti Mandau sebenarnya dari suku Dayak khatulistiwa. Mandau tersebut artinya senjata. Mandau artinya keberanian yang dianut suku Tionghoa pedalaman.
Kumpang
Kumpang adalah sarung bilah mandau. Kumpang terbuat dari kayu, dilapisi tanduk rusa, dan lazimnya dihias dengan ukiran. Pada kumpang mandau diberi tempuser undang, yaitu ikatan yang terbuat dari anyaman uei (rotan). Selain itu pada kumpang terikat pula semacam kantong yang terbuat dari kulit kayu berisi pisau penyerut dan kayu gading yang diyakini dapat menolak binatang buas. Mandau yang tersarungkan dalam kumpang biasanya diikatkan di pinggang dengan jalinan rotan.
Ambang
Ambang adalah sebutan bagi mandau yang terbuat dari besi biasa. Sering dijadikan cenderamata. Orang awam atau orang yang tidak terbiasa melihat atau pun memegang Mandau akan sulit untuk membedakan antara Mandau dengan ambang karena jika dilihat secara kasat mata memang keduanya hampir sama. Tetapi, keduanya sangatlah berbeda. Namun jika kita melihatnya dengan lebih detail maka akan terlihat perbedaan yang sangat mencolok, yaitu pada Mandau terdapat ukiran atau bertatahkan emas, tembaga, atau perak dan Mandau lebih kuat serta lentur, karena Mandau terbuat dari batu gunung yang mengandung besi dan diolah oleh seorang ahli. Sedangkan Ambang hanya terbuat dari besi biasa.
Bahan baku dan harga
Menurut literatur di Museum Balanga, Palangkaraya, bahan baku mandau adalah besi (sanaman) mantikei yang terdapat di hulu Sungai Matikei, Desa Tumbang Atei, Sanaman Matikei, Katingan. Besi ini bersifat lentur sehingga mudah dibengkokan. Mandau asli harganya dimulai dari Rp. 1 juta rupiah. Mandau asli yang berusia tua dan memiliki besi yang kuat bisa mencapai harga Rp. 20 juta rupiah per bilah. Bahan baku pembuatan Mandau biasa dapat juga menggunakan besi per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan dan besi batang lain. Peranti kerja yang digunakan terutama adalah palu, betel, dan sebasang besi runcing guna melubangi mandau untuk hiasan. Juga digunakan penghembus udara bertenaga listrik untuk membarakan nyala limbah kayu ulin yang dipakainya untuk memanasi besi. Kayu ulin dipilih karena mampu menghasilkan panas lebih tinggi dibandingkan kayu lainnya.
Mandau untuk cideramata biasanya bergagang kayu, harganya berkisar Rp. 50.000 hingga Rp. 300.000 tergantung dari besi yang digunakan. Mandau asli mempunyai penyang, penyang adalah kumpulan-kumpulan ilmu suku dayak yang didapat dari hasil bertapa atau petunjuk lelulur yang digunakan untuk berperang. Penyang akan membuat orang yang memegang mandau sakti, kuat dan kebal dalam menghadapi musuh. Mandau dan penyang adalah merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan turun temurun dari leluhur.
Misteri Mandau Terbang
Hal mistis lain yang juga identik dengan Mandau adalah soal kesaktiannya yang bisa terbang. Jadi, katanya, dalam satu kondisi seorang Dayak bisa membuat Mandau-nya terbang sendiri. Tak hanya sekedar melayang-layang, tapi si Mandau akan pergi untuk memenggal musuh yang diingini oleh si tuan atau pemiliknya.
Katanya, ilmu Mandau terbang hanya boleh dipakai di saat yang genting dan terdesak. Dan kalau sudah dikeluarkan, maka pantang bagi Mandau untuk kembali ke sarungnya sebelum berhasil memotong kepala korbannya. Memang susah ya untuk percaya hal-hal semacam ini. Tapi, rumor soal Mandau terbang sudah begitu populer di tanah Borneo.
Meskipun bukan orang Dayak, entah kenapa begitu membaca penjelasan di atas kok jadi ikut bangga rasanya dengan adanya Mandau. Senjata ini begitu hebat dan luar biasa, serta punya nilai filosofi yang begitu dalam. Tak hanya itu saja, Mandau juga jadi lambang perjuangan melawan penjajahan.
Sungai Mahakam merupakan sungai terbesar di Kalimantan Timur. Sungai yang panjangnya mencapai 920 km dengan lebar 300-500 meter ini memliki banyak anak sungai. Menurut cerita, sebagian anak Sungai Mahakam terbentuk akibat sebuah peristiwa yang pernah terjadi di daerah tersebut. Peristiwa apakah itu? Berikut kisahnya dalam cerita Asal Mula Sungai Mahakam.
~~~
Dahulu, di sekitar hulu Sungai Mahakam, terdapat sebuah pondok besar yang dihuni oleh tiga orang bersaudara. Saudara tertua seorang gadis bernama Siluq, saudara kedua bernama Ayus, serta yang paling bungsu bernama Ongo. Mereka memiliki tabiat dan keahlian yang berbeda-beda, kecuali si bungsu yang masih kecil. Siluq adalah gadis yang gemar melakukan bebelian (ritual adat) dan bedewa (memuja dewa) untuk mencari kesaktian. Hampir setiap hari dan malam hari gadis itu bersemedi sehingga terkadang lupa makan dan minum.
Sementara itu, Ayus adalah seorang remaja lelaki yang ceroboh dan suka mencampuri urusan kakaknya. Ayus memiliki badan yang besar dan kuat. Pohon besar dapat dengan mudah dicabutnya. Langkah kakinya juga sangat panjang sehingga ia dapat berlari secepat angin. Sedangkan si Bungsu yang masih berumur belasan tahun tidak memiliki keahlian apa-apa kecuali makan dan tidur.
Suatu malam, Ayus dan Ongo tidak dapat tidur karena tilam (kasur) dan bantal mereka basah. Malam itu, hujan lebat turun semalam suntuk sehingga menyebabkan atap rumah mereka bocor, air hujan pun menerobos masuk ke dalam pondok mereka. Siluq tidak merasakan datangnya hujan karena sedang khusyuk bebelian dan bedewa.
Pagi harinya, Ayus dan Ongo bermaksud ke hutan untuk mencari daun serdang untuk mengganti atap rumah mereka yang rusak. Saat itu, Siluq tampak masih bebelian dan bedewa. Sebenarnya, Ayus merasa kesal melihat kelakukan kakaknya yang seolah-olah tidak menghiraukan keadaan rumah mereka.
“Kak Siluq, hari sudah siang!” seru Ayus, “Aku dan Ongo hendak ke hutan mencari daun serdang. Setelah selesai bebelian, kakak yang nanti memasak untuk makan siang!”
Mendengar suara adiknya, Siluq pun terkejut dan tersadar dari semedinya. Ia merasa amat kecewa karena semedinya belum selesai tapi sudah dibangunkan oleh adiknya.
“Baiklah, aku nanti yang memasak,” jawab Siluq yang kemudian berpesan kepada kedua adiknya, “Sepulang dari hutan, jangan sekali-kali kalian membuka tutup periuk. Cukup kalian tambahkan kayu bakar jika memang apinya mulai kecil.”
“Baik, Kak,” jawab Ayus dan Ongo serempak.
Ketika Ayus dan Ongo berangkat ke hutan, Siluq segera mengambil beberapa lembar daun padi untuk dimasak. Setelah dibersihkan, daun padi itu ia masukkan ke dalam periuk yang sudah diisi air. Setelah itu, ia kembali melanjutkan semedinya dan berdoa kepada dewa agar daun padi yang dimasak itu berubah menjadi nasi.
Menjelang siang, Ayus dan Ongo sudah kembali dari hutan dengan membawa daun serdang. Mereka terlihat sangat lelah dan lapar. Ayus pun langsung masuk ke dapur. Alangkah kecewanya ia saat melihat periuk nasi masih terjerang di atas tungku.
“Kenapa pancinya masih di atas tungku? Jangan-jangan nasinya belum matang,” gumam Ayus.
Ayus penasaran ingin mengetahui isi panci itu. Maka, ia pun segera membuka penutup panci tersebut. Betapa terkejutnya ia tatkala melihat panci itu yang di dalamnya hanya terdapat beberapa lembar daun padi dan sebagian lainnya berupa nasi. Takut ketahuan oleh kakaknya, ia cepat-cepat menutup kembali panci itu.
Sementara itu, Siluq baru saja selesai bebelian. Ia kemudian menuju ke dapur untuk memastikan apakah nasinya sudah tanak atau belum. Begitu ia membuka penutup panci itu, dilihatnya masih ada beberapa lembar daun padi yang tersisa.
“Hai, bukankah seharusnya nasi ini sudah matang semua? Tapi, kenapa masih ada beberapa lembar daun padi yang tersisa?” gumam Siluq dengan heran, “Ini pasti perbuatan Ayus. Anak itu telah melanggar pesanku.”
Siluq terlihat sangat marah. Karena perilaku adiknya itu, kini kesaktiannya memasak daun padi menjadi nasi telah hilang. Dengan kesal, ia segera menghampiri Ayus yang sedang duduk beristirahat di samping pondok mereka.
“Hai, Ayus. Kamu telah melanggar pesanku. Tidak ada lagi gunanya kita tinggal bersama. Lebih baik aku pergi dari sini. Aku akan tinggal di dekat pusat air. Di sana aku dapat bebas bebelian dan bedewa tanpa ada yang mengganggu,” kata Siluq.
Usai berkata demikian, Siluq segera mengemas pakaiannya. Sebelum pergi, ia membawa ayam jantan sakti kesayangannya. Siluq kemudian menyusuri sungai menuju hilir dengan menggunakan rakit. Sebelum berangkat, ia berpesan kepada adik-adiknya.
“Aku harus pergi sekarang. Jagalah diri kalian baik-baik,” ujar Siluq.
Ayus terdiam. Ia merasa amat menyesal atas perilakunya sendiri yang menyebabkan kakaknya pergi. Ketika melihat rakit yang ditumpangi Siluq melaju di atas aliran sungai yang deras, cepat-cepatlah ia berlari hendak menghalangi kakaknya. Dengan kecepatan lari yang luar biasa, ia dapat mendahului kakaknya jauh di depan. Ayus kemudian mengambil batu-batu besar dan melemparkannya ke tengah Sungai Mahakam sehingga terbentuklah bendungan. Rakit yang ditumpangi Siluq pun mulai melambat. Ketika Siluq tiba di dekat bendungan itu, ia memberintahkan jantan saktinya berkokok.
“Berkoteklah, ayamku!” seru Siluq.
Ayam jantan itu pun berkokok. Suara kokok ayam sakti itu pun seketika menghancurkan bendungan yang dibuat Ayus. Suliq dengan rakitnya pun kembali melaju menuju ke hilir. Ayus tidak mau kalah, ia berlari kencang mendahului kakaknya dan membuat bendungan lagi. Ketika ayam jantan milik kakaknya berkokok, bendungan itu kembali hancur berkeping-keping. Demikian hal tersebut terjadi berulang-ulang sehingga Siluq dengan rakitnya tetap mampu menghilir karena kesaktian suara kokok ayamnya. Menurut cerita, bekas-bekas bendungan tersebut kini menjadi keham atau jeram di hulu Sungai Mahakam.
Sementara itu, rakit yang tumpangi Siluq terus melaju hingga akhirnya tiba di muara Sungai Mahakam. Ayus tidak mampu lagi membuat bendungan karena tidak ada lagi batu-batu besar di daerah itu. Dengan kekuatannya, ia menambak kuala sungai dengan mengambil lumpurnya dan mencabut nipah-nipah yang tumbuh di pinggir sungai. Nipah-nipah tersebut kemudian ditanam pada tambak buatannya sehingga terbentuklah hutan nipah. Setelah itu, Ayus menunggu rakit Siluq melewati tempat itu.
Tak berapa Ayus menunggu, dari kejauhan tampaklah rakit Siluq sedang melaju ke hilir. Ketika rakit itu hendak melewati hutan nipah buatan Ayus, ayam jantan Siluq berkokok. Tak ayal, hutan nipah itu pun hancur sehingga terbentuklah aliran-aliran sungai yang kini bernama Kuala Bayur, Kuala Berau, dan sejumlah delta di Kuala Mahakam.
Sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke laut lepas, Siluq berpesan kepada Ayus.
“Ayus, tolong jangan lagi kau halang-halangi jalanku. Biarkanlah aku mendekatkan diri kepada Sang Hyang Dewata di pusat air,” pinta Siluq, “Aku akan bebelian dan bedewauntuk menenteramkan jiwa. Dari sana, aku akan menjaga kamu dan Ongo.”
Usai berpesan, Suliq dan rakitnya tiba-tiba menghilang dan muncul kembali di pusat air. Alangkah terkejutnya Ayus saat menyaksikan peristiwa itu. Ia benar-benar tak kuasa menahan kepergian kakaknya. Ia pun merasa menyesal karena telah melanggar janjinya.
* * *
Demikian cerita Asal Mula Sungai Mahakam dari daerah Kalimantan Timur. Pesan moral yang dapat dipetik dari cerita di atas adalah bahwa orang yang suka mengingkari janji seperti Ayus akan menerima balasannya. Karena telah melanggar janji, Ayus pun harus berpisah dengan kakaknya.
Kalimantan memang terkenal akan kekayaan sungainya yang berjumlah puluhan bahkan ratusan. Terdapat banyak sungai dengan berbagai ukuran serta panjang. Selain sebagai alat transportasi sungai di Kalimantan ternyata juga menyimpan berbagai keindahan alam yang menakjubkan, salah satunya adalah Sungai Mahakam di Tenggarong, Kalimantan Timur.
Kutai Kertanegara yang beribukota di Tenggarong dan memiliki sebuah sugai besar ini memiliki sebuah taman rekreasi indah yang terletak di tengah-tengah sungai Sungai Mahakam. Taman rekreasi itu adalah Objek Wisata Pulau Kumala.
Jika Anda berkunjung ke Pulau Kumala, Anda akan disajikan berbagai wahana permainan layaknya Ancol di Jakarta. Selain itu keindahan alam Pulau Kumala sangat menakjubkan dengan sungai dan Kota Tenggarong.
Objek Wisata Pulau Kumala
Pulau Kumala sering juga disebut Pantai Kumala. Pulau Kumala adalah sebuah delta sungai yang sering terendam jika air Sungai Mahakam meluap. Pada tahun 2002, Pulau Kumala diresmikan menjadi objek wisata karena keindahan alamnya dan letaknya yang berada di tengah sungai Mahakam sehingga terlihat seperti sebuah kapal di tengah sungai. Luas Pulau Kumala kurang lebih 81 Hektar.
Sebagai taman rekreasi, Pulau Kumala memiliki sekitar 10 (sepuluh ) wahana permainan yang bisa Anda nikmati seperti jet coaster, bombom car, gokart, komedi putar, kereta gantung, dan kereta api mini untuk menglilingi pulau dan lain sebagainya. Selain itu Anda juga dapat menikmati Kota Tenggarong dari ketinggian dengan menaiki Planetarium (Sky Tower). Tinggi Sky Tower ini mencapai 75 meter.
Objek Wisata Pulau Kumala juga memiliki sebuah akuarium raksasa yang dipergunakan khusus untuk menampung ikan pesut (orcaella brevirostris), yaitu spesies lumba-lumba air tawar yang juga terdapat di Sungai Irawady, Brazil dan Sungai Mekong di China.
Tidak jauh dari Pulau Kumala, terdapat Museum Mulawarman yaitu sebuah bukti sejarah Kerajaan Kutai yang terkenal, Museum Mulawarman menyimpan berbagai koleksi benda-benda peninggalan Kesultanan Kutai Kartanegara.
Lokasi Wisata Pulau Kumala
Objek Wisata Pulau Kumala Tenggarong terletak di tengah-tengah delta Sungai Mahakam yang terletak di Kota Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.
Akses Menuju Wisata Pulau Kumala
Tenggarong berjarak sekitar 27 Km dari Kota Samarinda. Anda dapat mengunakan kendaraan umum seperti bus atau kendaraan pribadi sebagai alat traspotasi. Setelah sampai di tepi Sungai Mahakam, Anda dapat mencapai Pulau Kumala dengan menyewa perahu motor kecil (Ketinting), jika Anda takut menggunakan perahu, Anda juga dapat menuju Pulau Kumala dengan kereta gantung.
Akomodasi
Di Pulau Kumala telah disediakan berbagai fasilitas yang akan memudahkan Anda saat berkunjung ke Pulau ini diantaranya:
Lahan parkir yang luas
Restoran dan warung makan serta pedagang asongan (sentra makanan khas daerah setempat)
Mushola
Isi ulang pulsa
Peralatan memancing
Outlet cinderamata
Cottage
Hotel
Wisma
Bumi perkemahan
Tarif Masuk ke Wisata Pulau Kumala
Untuk menyewa perahu (ketinting) biaya yang harus Anda keluarkan sekitar Rp. 6.000,-
Biaya masuk Rp. 2.000,-/ orang
Tarif wahana rekreasi bervariasi antara Rp. 2.000,- s/d Rp. 25.000,-.
Tips
Anda dapat mengunjungi beberapa objek wisata yang berdekatan dengan Pulau Kumala seperti Museum Mulawarman.
Bagi Anda yang memiliki hobi memancing, Anda dapat membawa alat pancing atau jika Anda mau, Anda juga dapat menyewa alat pancing di Pulau ini.
Berbagai objek wisata ada di Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara. Mulai dari wisata sejarah, pendidikan, buatan hingga wisata alam. Wisata Alam misalnya berbagai destinasi ada di Jalan H. Bachrin Seman, Kelurahan Mangkurawang, Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara.
Ladaya adalah salah satu destinasi wisata alam sekaligus pengunjung juga dapat menginap di rumah kayu dengan atap menjuntai dengan suasana alamnya. Ladaya (Ladang Budaya) di tempat ini juga terdapat aula dimana tempat pertunjukan seni yang sering digelar oleh seniman daerah.
Ladaya merupakan destinasi yang memiliki daya tarik tersendiri bagi pengunjung, karena di objek wisata ini pengunjung bisa menikmati alam dan wahana menarik lainnya. Seperti kebun binatang mini, outbond, paint ball, dan juga Rumah Odah Rehat (rumah kayu atap menjuntai) untuk menginap.
Kebun binatang mini yang memajang berbagai jenis hewan khas Kalimantan Timur seperti Burung Merak, Burung Enggang, Owa-Owa, Beruang Madu, dan banyak lagi yang bisa dilihat.
Untuk masuk ke Ladaya, pengunjung tidak perlu merogoh uang yang besar karena tarif masuk untuk dewasa hanya Rp10.000 dan Rp5.000 untuk anak anak. Setelah masuk, pengunjung akan menyusuri pedagang makanan dan minuman seperti berjalan di kereta api. Arena Outbond di Ladaya juga menawarkan berbagai fasilitas permainan Outdoor yang memacu adrenaline seperti Flying Fox atau berjalan di atas papan dengan ketinggian 4 meter, maupun bermain menyusuri titian di atas sebuah tali dari Baja. Permainan ini tak hanya seru dimainkan oleh orang-orang dewasa saja, tetapi juga bisa di coba oleh anak-anak.
Suku Dayak (Ejaan Lama: Dajak atau Dyak) adalah nama yang oleh penjajah diberi kepada penghuni pedalaman pulau Borneo yang mendiami Pulau Kalimantan (Brunei, Malaysia yang terdiri dari Sabah dan Sarawak, serta Indonesia yang terdiri dari Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Utara, dan Kalimantan Selatan). Ada 5 suku atau 7 suku asli Kalimantan yaitu Melayu, Dayak, Banjar, Kutai, Paser, Berau, dan Tidung. Menurut sensus Badan Pusat Statistik Republik Indonesia tahun 2010, suku bangsa yang terdapat di Kalimantan Indonesia dikelompokan menjadi tiga yaitu suku Banjar, suku Dayak Indonesia (268 suku bangsa), dan suku asal Kalimantan lainnya (non Dayak dan non Banjar). Dahulu, budaya masyarakat Dayak adalah budaya maritim atau bahari. Hampir semua nama sebutan orang Dayak mempunyai arti sebagai sesuatu yang berhubungan dengan “perhuluan” atau sungai, terutama pada nama-nama rumpun dan nama kekeluargaannya.
Ada yang membagi orang Dayak dalam enam rumpun yakni rumpun Klemantan alias Kalimantan, rumpun Iban, rumpun Apokayan yaitu Dayak Kayan, Kenyah dan Bahau, rumpun Murut, rumpun Ot Danum-Ngaju dan rumpun Punan. Namun secara ilmiah, para linguis melihat 5 kelompok bahasa yang dituturkan di pulau Kalimantan dan masing-masing memiliki kerabat di luar pulau Kalimantan:
“Barito Raya (33 bahasa, termasuk 11 bahasa dari kelompok bahasa Madagaskar, dan Sama-Bajau termasuk satu suku yang berdiri dengan nama sukunya sendiri yaitu Suku Paser.
“Dayak Darat” (13 bahasa).
“Borneo Utara” (99 bahasa), termasuk bahasa Yakan di Filipina serta satu suku yang berdiri dengan nama sukunya sendiri yaitu Suku Tidung.
“Sulawesi Selatan” dituturkan 3 suku Dayak di pedalaman Kalbar: Dayak Taman, Dayak Embaloh, Dayak Kalis disebut rumpun Dayak Banuaka.
“Melayik” dituturkan: Dayak Meratus/Bukit (alias Banjar arkhais), Dayak Iban (dan Saq Senganan), Dayak Keninjal, Dayak Bamayoh (Malayic Dayak), Dayak Kendayan (Kanayatn). Beberapa suku asal Kalimantan beradat Melayu yang terkait dengan rumpun ini sebagai suku-suku yang berdiri sendiri yaitu Suku Banjar, Suku Kutai, Suku Berau, Suku Sambas, dan Suku Kedayan.
Etimologi
Masyarakat Dayak Barito beragama Islam yang dikenali sebagai Suku Bakumpaidi sungai Barito tempo dulu.
Istilah “Dayak” paling umum digunakan untuk menyebut orang-orang asli non-Muslim, non-Melayu yang tinggal di pulau itu. Ini terutama berlaku di Malaysia, karena di Indonesia ada suku-suku Dayak yang Muslim namun tetap termasuk kategori Dayak walaupun beberapa di antaranya disebut dengan Suku Banjar dan Suku Kutai. Terdapat beragam penjelasan tentang etimologi istilah ini. Menurut Lindblad, kata Dayak berasal dari kata daya dari bahasa Kenyah, yang berarti hulu sungai atau pedalaman. King, lebih jauh menduga-duga bahwa Dayak mungkin juga berasal dari kata aja, sebuah kata dari bahasa Melayu yang berarti asli atau pribumi. Dia juga yakin bahwa kata itu mungkin berasal dari sebuah istilah dari bahasa Jawa Tengah yang berarti perilaku yang tak sesuai atau yang tak pada tempatnya.
Istilah untuk suku penduduk asli dekat Sambas dan Pontianak adalah Daya (Kanayatn: orang daya= orang darat), sedangkan di Banjarmasin disebut Biaju (bi= dari; aju= hulu). Jadi semula istilah orang Daya (orang darat) ditujukan untuk penduduk asli Kalimantan Barat yakni rumpun Bidayuh yang selanjutnya dinamakan Dayak Darat yang dibedakan dengan Dayak Laut (rumpun Iban). Di Banjarmasin, istilah Dayak mulai digunakan dalam perjanjian Sultan Banjar dengan Hindia Belanda tahun 1826, untuk menggantikan istilah Biaju Besar (daerah sungai Kahayan) dan Biaju Kecil (daerah sungai Kapuas Murung) yang masing-masing diganti menjadi Dayak Besar dan Dayak Kecil, selanjutnya oleh pihak kolonial Belanda hanya kedua daerah inilah yang kemudian secara administratif disebut Tanah Dayak. Sejak masa itulah istilah Dayak juga ditujukan untuk rumpun Ngaju-Ot Danum atau rumpun Barito. Selanjutnya istilah “Dayak” dipakai meluas yang secara kolektif merujuk kepada suku-suku penduduk asli setempat yang berbeda-beda bahasanya, khususnya non-Muslim atau non-Melayu. Pada akhir abad ke-19 (pasca Perdamaian Tumbang Anoi) istilah Dayak dipakai dalam konteks kependudukan penguasa kolonial yang mengambil alih kedaulatan suku-suku yang tinggal di daerah-daerah pedalaman Kalimantan. Menurut Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Bagian Proyek Pengkajian dan Pembinaan Nilai-Nilai Budaya Kalimantan Timur, Dr. August Kaderland, seorang ilmuwan Belanda, adalah orang yang pertama kali mempergunakan istilah Dayak dalam pengertian di atas pada tahun 1895.
Arti dari kata ‘Dayak’ itu sendiri masih bisa diperdebatkan. Commans (1987), misalnya, menulis bahwa menurut sebagian pengarang, ‘Dayak’ berarti manusia, sementara pengarang lainnya menyatakan bahwa kata itu berarti pedalaman. Commans mengatakan bahwa arti yang paling tepat adalah orang yang tinggal di hulu sungai. Dengan nama serupa, Lahajir et al. melaporkan bahwa orang-orang Iban menggunakan istilah Dayak dengan arti manusia, sementara orang-orang Tunjung dan Benuaq mengartikannya sebagai hulu sungai. Mereka juga menyatakan bahwa sebagian orang mengklaim bahwa istilah Dayak menunjuk pada karakteristik personal tertentu yang diakui oleh orang-orang Kalimantan, yaitu kuat, gagah, berani dan ulet. Lahajir et al. mencatat bahwa setidaknya ada empat istilah untuk penuduk asli Kalimantan dalam literatur, yaitu Daya, Dyak, Daya, dan Dayak. Penduduk asli itu sendiri pada umumnya tidak mengenal istilah-istilah ini, akan tetapi orang-orang di luar lingkup merekalah yang menyebut mereka sebagai ‘Dayak’.
Asal mula
Secara umum kebanyakan penduduk kepulauan Nusantara adalah penutur bahasa Austronesia. Saat ini teori dominan adalah yang dikemukakan linguis seperti Peter Bellwood dan Blust, yaitu bahwa tempat asal bahasa Austronesia adalah Taiwan. Sekitar 4 000 tahun lalu, sekelompok orang Austronesia mulai bermigrasi ke Filipina. Kira-kira 500 tahun kemudian, ada kelompok yang mulai bermigrasi ke selatan menuju kepulauan Indonesia sekarang, dan ke timur menuju Pasifik.
Namun orang Austronesia ini bukan penghuni pertama pulau Borneo. Antara 60.000 dan 70.000 tahun lalu, waktu permukaan laut 120 atau 150 meter lebih rendah dari sekarang dan kepulauan Indonesia berupa daratan (para geolog menyebut daratan ini “Sunda”), manusia sempat bermigrasi dari benua Asia menuju ke selatan dan sempat mencapai benua Australia yang saat itu tidak terlalu jauh dari daratan Asia.
Dari pegunungan itulah berasal sungai-sungai besar seluruh Kalimantan. Diperkirakan, dalam rentang waktu yang lama, mereka harus menyebar menelusuri sungai-sungai hingga ke hilir dan kemudian mendiami pesisir pulau Kalimantan. Tetek Tahtum menceritakan migrasi suku Dayak Ngaju dari daerah perhuluan sungai-sungai menuju daerah hilir sungai-sungai.
Di daerah selatan Kalimantan Suku Dayak pernah membangun sebuah kerajaan. Dalam tradisi lisan Dayak di daerah itu sering disebut Nansarunai Usak Jawa, yakni kerajaan Nansarunai dari Dayak Maanyan yang dihancurkan oleh Majapahit, yang diperkirakan terjadi antara tahun 1309-1389. Kejadian tersebut mengakibatkan suku Dayak Maanyan terdesak dan terpencar, sebagian masuk daerah pedalaman ke wilayah suku Dayak Lawangan. Arus besar berikutnya terjadi pada saat pengaruh Islam yang berasal dari kerajaan Demak bersama masuknya para pedagang Melayu (sekitar tahun 1520).
Sebagian besar suku Dayak di wilayah selatan dan timur kalimantan yang memeluk Islam keluar dari suku Dayak dan tidak lagi mengakui dirinya sebagai orang Dayak, tapi menyebut dirinya sebagai atau orang Banjar dan Suku Kutai. Sedangkan orang Dayak yang menolak agama Islam kembali menyusuri sungai, masuk ke pedalaman, bermukim di daerah-daerah Kayu Tangi, Amuntai, Margasari, Batang Amandit, Batang Labuan Amas dan Batang Balangan. Sebagian lagi terus terdesak masuk rimba. Orang Dayak pemeluk Islam kebanyakan berada di Kalimantan Selatan dan sebagian Kotawaringin, salah seorang pimpinan Banjar Hindu yang terkenal adalah Lambung Mangkurat menurut orang Dayak adalah seorang Dayak (Ma’anyan atau Ot Danum). Di Kalimantan Timur, orang Suku Tonyoy-Benuaq yang memeluk Agama Islam menyebut dirinya sebagai Suku Kutai. Tidak hanya dari Nusantara, bangsa-bangsa lain juga berdatangan ke Kalimantan. Bangsa Tionghoa tercatat mulai datang ke Kalimantan pada masa Dinasti Ming yang tercatat dalam buku 323 Sejarah Dinasti Ming (1368-1643). Dari manuskrip berhuruf hanzi disebutkan bahwa kota yang pertama dikunjungi adalah Banjarmasin dan disebutkan bahwa seorang Pangeran yang berdarah Biaju menjadi pengganti Sultan Hidayatullah I . Kunjungan tersebut pada masa Sultan Hidayatullah I dan penggantinya yaitu Sultan Mustain Billah. Hikayat Banjar memberitakan kunjungan tetapi tidak menetap oleh pedagang jung bangsa Tionghoa dan Eropa (disebut Walanda) di Kalimantan Selatan telah terjadi pada masa Kerajaan Banjar Hindu (abad XIV). Pedagang Tionghoa mulai menetap di kota Banjarmasin pada suatu tempat dekat pantai pada tahun 1736.
Kedatangan bangsa Tionghoa di selatan Kalimantan tidak mengakibatkan perpindahan penduduk Dayak dan tidak memiliki pengaruh langsung karena mereka hanya berdagang, terutama dengan kerajaan Banjar di Banjarmasin. Mereka tidak langsung berniaga dengan orang Dayak. Peninggalan bangsa Tionghoa masih disimpan oleh sebagian suku Dayak seperti Piring Malawen, Belanga (Guci), dan peralatan Keramik. Tidak hanya itu, sebagian dari mereka juga ada bangsa Eropa.
Sejak awal abad V bangsa Tionghoa telah sampai di Kalimantan. Pada abad XV Kaisar Yongle mengirim sebuah angkatan perang besar ke selatan (termasuk Nusantara) di bawah pimpinan Cheng Ho, dan kembali ke Tiongkok pada tahun 1407, setelah sebelumnya singgah ke Jawa, Kalimantan, Malaka, Manila dan Solok. Pada tahun 1750, Sultan Mempawah menerima orang-orang Tionghoa (dari Brunei) yang sedang mencari emas. Orang-orang Tionghoa tersebut membawa juga barang dagangan di antaranya candu, sutera, barang pecah belah seperti piring, cangkir, mangkok dan guci.
Dayak pada masa kini
Dewasa ini suku bangsa Dayak terbagi dalam enam rumpun besar, yakni: Apokayan (Kenyah-Kayan-Bahau), Ot Danum-Ngaju, Iban, Murut, Klemantan dan Punan. Rumpun Dayak Punan merupakan suku Dayak yang paling tua mendiami pulau Kalimantan, sementara rumpun Dayak yang lain merupakan rumpun hasil asimilasi antara Dayak punan dan kelompok Proto Melayu (moyang Dayak yang berasal dari Yunnan). Keenam rumpun itu terbagi lagi dalam kurang lebih 405 sub-etnis. Meskipun terbagi dalam ratusan sub-etnis, semua etnis Dayak memiliki kesamaan ciri-ciri budaya yang khas. Ciri-ciri tersebut menjadi faktor penentu apakah suatu subsuku di Kalimantan dapat dimasukkan ke dalam kelompok Dayak atau tidak. Ciri-ciri tersebut adalah rumah panjang, hasil budaya material seperti tembikar, mandau, sumpit, beliong (kampak Dayak), pandangan terhadap alam, mata pencaharian (sistem perladangan), dan seni tari. Perkampungan Dayak rumpun Ot Danum-Ngaju biasanya disebut lewu/lebu dan pada Dayak lain sering disebut banua/benua/binua/benuo. Di kecamatan-kecamatan di Kalimantan yang merupakan wilayah adat Dayak dipimpin seorang Kepala Adat yang memimpin satu atau dua suku Dayak yang berbeda.
Prof. Lambut dari Universitas Lambung Mangkurat, (orang Dayak Ngaju) menolak anggapan Dayak berasal dari satu suku asal, tetapi hanya sebutan kolektif dari berbagai unsur etnik, menurutnya secara “rasial”, manusia Dayak dapat dikelompokkan menjadi :
Dayak Mongoloid,
Malayunoid,
Autrolo-Melanosoid,
Dayak Heteronoid.
Namun di dunia ilmiah internasional, istilah seperti “ras Australoid”, “ras Mongoloid dan pada umumnya “ras” tidak lagi dianggap berarti untuk membuat klasifikasi manusia karena kompleksnya faktor yang membuat adanya kelompok manusia.
Suku Dayak merupakan suku yang memiliki banyak kesenian tradisional. Selain karena kental dengan budaya yang dimiliki, Tarian Dayak Kalimantan juga merupakan kekayaan dari tradisi yang sudah ada sejak ribuan tahun. Kalimantan sangat luas sekali bahkan suku yang ada juga sangat banyak. Dayak adalah salah satu suku yang memiliki banyak potensi untuk menjadi kekayaan yang dimiliki Indonesia khususnya Kalimantan.
Tarian tradisional pasti dimiliki oleh setiap daerah dan mempunyai gerakan yang berbeda-beda. Tarian Dayak Kalimantan yang bermacam-macam juga mempunyaI gerakan yang tak sama. Kreativitas yang dimiliki Suku Dayak ini sangat mengagumkan. Warisan budaya leluhur mereka yang sampai saat ini dijaga termasuk seni Tarian Dayak Kalimantan yang sampai sekarang masih sering ditampilkan.
Tarian Dayak Kalimantan
1. Tari Kancet Papatai
Nama lain dari tari ini adalah Tari Perang. Dalam setiap seni tari yang ciptakan Suku Dayak sebenarnya memiliki cerita tersendiri. Seperti halnya tari perang ini memiliki cerita mengenai tokoh pahlawan Dayak Kenyah yang sedang berperang dengan musuh. Gerakan dalam tari ini begitu gesit, penuh semangat membara dan sangat lincah. Pakaian yang digunakan dalam tari kancet papatai ini memakai baju adat tradisional milik Suku Dayak Kenyah. Dengan perlengkapan yang dibawa seperti senjata mandau, baju perang lengkap dengan perisainya.
2. Tari Gantar
Tarian Dayak Kalimantan yang kedua adalah Tari Gantar. Gerakan dalam tarian ini seperti orang yang sedang menanam padi. Peralatan tongkat yang digunakan sebagai gambaran kayu penumbuk. Untuk biji-bijian dan bambu yang dipakai itu digambarkan sebagai benih padai dan juga wadah. Banyak jenis dari tari ini seperti Tari Gantar Busai, Gantar Rayat, dan Gantar Senak.
3. Tari Kancet Lasan
Sama halnya dengan gerakan tarian yang lainnya. Kalau Tari Kacet Lasan ini menggambar kehidupan Burung Enggang. Burung enggang ini dibuat tarian karena sangat dimuliakan sama Suku Dayak Kenyah, semua itu sebagai bukti kepahlawanan dan keagungan. Tarian ini dibawakan tunggal oleh Suku Dayak Kenyah. Gerakan burung ini mencontoh gerakan Burung Enggang saat terbang dan bertengger di pepohonan.
4. Tari Hudoq
Tarian yang satu ini sedikit berbau mistis karena unsur-unsur dan tujuan dari tarian ini. Tari Hudoq merupakan tarian Dayak Kalimantan yang tujuannya untuk perlindungan dan penjagaan kehidupan dan padi setelah ditanam. Tarian yang dipercaya suku etnis sebagai sebuah tarian kedatangan dewa utusan dari sang pencipta ini adalah jenis tarian yang menggunakan topeng. Yang pasti topeng yang digunakan memiliki alasan mengapa harus dipakai saat Tari Hudoq ditampilkan. Menurut kepercayaan warga setempat jika mereka tidak ingin sakit, mati, atau ketularan maka hindari tatapan langsung dengan dewa. Itulah alasan topeng dipakai saat Tari Hudoq.
5. Tari Kancet Ledo
Tarian ini dibawakan Suku Dayak yang berada di Kalimantan Timur. Biasa disebut dengan Tari Gong, dalam tariannya memang menggunakan properti berupa Gong. Tari Gong merupakan wujud dari ekspresi dari seorang wanita yang begitu lembut yang sedang menari diatas Gong. Dengan penuh keseimbangan wanita tersebut menari begitu lemah lembut gerakan yang dimainkan. Busana yang digunakan begitu indah berhiaskan manik-manik, serta kain beludru yang dililitkan pada pinggang.